PROBOLINGGO | SIGAP88 – Sebuah rumah yang selama ini menjadi tempat Musripa berteduh di Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, segera mendapat wajah baru. Harapan untuk memiliki hunian yang lebih layak mulai menemukan jalan setelah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), Selasa (3/11/2026).
Pembangunan rumah tersebut bukan sekadar pekerjaan memperbaiki dinding, atap, atau lantai. Di baliknya, ada upaya menghadirkan tempat tinggal yang lebih aman dan sehat bagi keluarga yang selama ini membutuhkan perhatian.
Peletakan batu pertama itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Jawa Timur untuk memperluas jangkauan bantuan perbaikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Musripa menjadi salah satu dari lima warga yang menerima bantuan program Rutilahu di Kabupaten dan Kota Probolinggo.
Di Kabupaten Probolinggo, bantuan juga diberikan kepada Bahri, warga Desa Sidopekso, Kecamatan Kraksaan. Sementara di Kota Probolinggo, penerimanya meliputi Sukarpin, warga Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, serta Sumirah dan Juri yang tinggal di Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan.
Bagi penerima bantuan, rumah bukan hanya bangunan fisik. Di sanalah keluarga beristirahat, membangun kehidupan, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, kondisi hunian menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kualitas hidup masyarakat.
Gubernur Khofifah mengatakan, pemenuhan kebutuhan rumah layak huni harus menjadi perhatian pemerintah, terutama bagi masyarakat miskin dan kelompok rentan.
“Pemerintah terus menghadirkan hunian yang layak, sehat, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Bagaimana kondisi bangunannya, apakah sanitasinya memadai atau tidak, kita upayakan hal tersebut,” ujar Khofifah.
Menurut dia, rumah yang layak tidak cukup hanya berdiri sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan. Kualitas bangunan, keamanan konstruksi, serta ketersediaan sanitasi yang memadai juga harus menjadi bagian dari perhatian.
Persoalan hunian, dengan demikian, berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan keluarga. Rumah yang tidak memenuhi standar kelayakan berpotensi menimbulkan persoalan baru, terutama bagi warga yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk melakukan perbaikan secara mandiri.
Melalui program Rutilahu, Pemprov Jatim berupaya mengurangi kesenjangan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.
“Tentu harapannya kebutuhan dasar masyarakat terkait rumah layak huni terutama untuk warga miskin di Jawa Timur dapat terpenuhi,” ungkapnya.
Khofifah juga menekankan pentingnya menjaga kualitas pekerjaan meskipun proses pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu yang telah ditentukan. Percepatan renovasi tidak boleh mengabaikan kekuatan bangunan dan kenyamanan penghuni.
Ia berharap kolaborasi dengan BAZNAS Jawa Timur terus diperkuat agar cakupan program Rutilahu semakin luas dan menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Penguatan dan perluasan Rutilahu harus membangun sinergi bersama BAZNAS. Kuncinya sinergi, sinergi, sinergi. Selain itu, ditargetkan sebelum Hari Raya Idulfitri,” pungkasnya.
Bagi Musripa dan empat penerima bantuan lainnya, pembangunan rumah ini menjadi awal perubahan kondisi tempat tinggal. Harapannya, rumah yang lebih layak nantinya bukan hanya memberikan perlindungan fisik, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan kenyamanan bagi keluarga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.


















