
Ringkasan Berita
- Pemerintah Kabupaten Pamekasan menggelar Malam Kemilau Madura sebagai puncak peringatan Hari Jadi ke-496.
- Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kholilurrahman menyoroti ancaman lunturnya identitas budaya Madura, khususnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.
PAMEKASAN | SIGAP88 — Usia Kabupaten Pamekasan telah mencapai 496 tahun. Namun, panjangnya perjalanan sejarah tidak otomatis menjamin identitas budaya tetap terjaga. Bahasa daerah mulai ditinggalkan generasi muda, sementara warisan tradisi membutuhkan ruang agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Malam Kemilau Madura, puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke-496 di Bundaran Arek Lancor, Senin (2/11/2026) malam.
Di hadapan para undangan, Bupati Pamekasan Kholilurrahman tidak hanya berbicara tentang perjalanan sejarah dan kemajuan daerah. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kesinambungan kepemimpinan serta mempertahankan identitas masyarakat Madura di tengah perubahan zaman.
Salah satu langkah yang menjadi perhatiannya adalah menghidupkan kembali penggunaan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pemerintahan.
Kholilurrahman bahkan telah meminta Sekretaris Daerah agar satu hari dalam sepekan ditetapkan sebagai momentum penggunaan bahasa Madura.
“Bangsa Madura tidak boleh hilang. Bahkan saya sudah minta kepada Pak Sekda untuk satu hari dalam satu minggu kita berbicara bahasa Madura, karena anak-anak kita sudah banyak yang melupakan bahasa Madura,” tegasnya.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut dia, identitas sebuah bangsa tidak cukup dipertahankan melalui simbol, pakaian tradisional, ataupun seremoni kebudayaan. Bahasa menjadi salah satu fondasi penting yang menghubungkan generasi sekarang dengan sejarah dan akar leluhurnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat Madura tidak kehilangan jati diri seperti bangsa-bangsa dalam sejarah yang mengalami kemunduran hingga kehilangan identitasnya.
“Madura harus tetap maju sebagai bagian dari Indonesia,” ujarnya.
Karena itu, perhatian terhadap kebudayaan daerah juga harus masuk ke ruang pendidikan. Kholilurrahman meminta Dinas Pendidikan mengambil peran dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada peserta didik.
Kepemimpinan Bukan Milik Satu Periode
Di hadapan para mantan pemimpin Pamekasan yang secara khusus diundangnya, Kholilurrahman menyampaikan pesan lain tentang kesinambungan pemerintahan.
Baginya, pembangunan daerah tidak boleh dipandang sebagai hasil kerja seorang kepala daerah atau satu periode kepemimpinan. Setiap pemerintahan memiliki keterkaitan dengan kebijakan, perjuangan, dan fondasi yang telah dibangun pendahulunya.
“Kenapa beliau-beliau saya undang karena rantai yang satu dengan yang lain harus selalu berkaitan dan tidak terlepas. Tidak mungkin ada saya hari ini kecuali ada bupati-bupati sebelum saya. Inilah kepemimpinan yang harus kita pertahankan, yaitu kepemimpinan yang bersifat kebersamaan,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa perjalanan pemerintahan membutuhkan kesinambungan, bukan sekadar pergantian figur di kursi kekuasaan.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada para tamu undangan dari luar daerah, khususnya Menteri Kebudayaan RI, Gubernur Jawa Timur, serta Direktur Kepatuhan Bank Jatim.
Ia berharap pertemuan tersebut menjadi ruang mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat kebangsaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Sejarah 1530 dan Upaya Menghidupkan Kembali Batik
Pamekasan memiliki perjalanan sejarah panjang yang berakar pada masa pemerintahan Panembahan Ronggosukowati pada 1530 Masehi.
Angka tahun tersebut kemudian diabadikan melalui pembatikan kain sepanjang 1.530 meter yang membentang dari sisi timur hingga barat Monumen Arek Lancor.
Namun, bagi Kholilurrahman, kebanggaan terhadap sejarah batik Pamekasan harus diikuti langkah nyata untuk menghidupkan kembali geliat para perajin dan pelaku industri batik lokal.
Ia mengakui popularitas Pamekasan sebagai kota dan kabupaten batik perlu kembali diperkuat.
“Alhamdulillah sampai saat ini kota batik dan kabupaten batik sudah mulai redup. InsyaAllah akan kita hidupkan kembali, akan kita semarakkan kembali. Para insan batik tidak perlu khawatir. Bukan karena batik di nomor duakan, semua tetap nomor satu, pendidikan nomor satu, ini juga nomor satu. Hanya tinggal menunggu giliran,” jelasnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada pengakuan historis. Keberlangsungan batik membutuhkan keberpihakan, pembinaan, dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.
Penghargaan dan Kado untuk Pamekasan
Malam Kemilau Madura juga diwarnai penyerahan sejumlah penghargaan dan bentuk apresiasi kepada Kabupaten Pamekasan.
Di antaranya penyerahan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Kementerian Kebudayaan RI sebagai pengakuan terhadap kekayaan tradisi daerah.
Selain itu, Kanwil Kementerian Hukum Jawa Timur menyerahkan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap karya dan kreativitas masyarakat.
Pamekasan juga menerima kado dari BPJS Kesehatan berupa dibukanya kembali layanan BPJS Kesehatan bagi masyarakat setempat.
Dua penghargaan Wilwatikta Awards 2026 turut diterima, masing-masing atas keberhasilan pengentasan kemiskinan serta inisiatif dalam Indeks Pembangunan Manusia dan kesejahteraan sosial.
Penghargaan lainnya datang dari Media Suara Indonesia melalui Anugerah Apresiasi Tokoh 2026 kepada Kholilurrahman sebagai tokoh partisipatif penggerak pembangunan dan pelayanan.
Meski demikian, Bupati menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata keberhasilan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Ada kontribusi banyak pihak yang menjadi bagian dari pencapaian pembangunan.
“Penghargaan ini untuk siapa? Penghargaan ini untuk semuanya. Karena bupati dan wakil bupati tidak akan berarti apabila yang lain diam. Indonesia tidak akan bersinar dengan lampu besar yang hanya jumlahnya dua orang, tapi akan bersinar dengan lilin-lilin kecil yang tersebar di desa dan di masyarakat,” katanya.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Pamekasan, ia menyampaikan terima kasih kepada panitia, seniman, budayawan, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, serta seluruh masyarakat yang telah terlibat dalam rangkaian peringatan hari jadi.
Bagi Pamekasan, usia 496 tahun bukan sekadar angka yang dirayakan setiap tahun. Sejarah panjang tersebut membawa tanggung jawab untuk memastikan pembangunan berjalan tanpa memutus hubungan masyarakat dengan akar budayanya.
Kebersamaan, persatuan, dan penghargaan terhadap sejarah, menurut Kholilurrahman, harus menjadi modal untuk membawa Pamekasan semakin maju, berdaya saing, dan sejahtera.













