Ringkasan Berita
- SMPN 2 Sumenep menyiapkan penguatan mutu pendidikan melalui tiga fokus utama, yakni akademik, nonakademik, dan pembentukan karakter.
- Di bawah kepemimpinan Eva Kartika Nurfadiah, sekolah meningkatkan bimbingan bahasa Inggris menjadi setiap hari serta mengembangkan ekstrakurikuler basket, drum band, dan PBB.
SUMENEP | SIGAP88 – Peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya bertumpu pada capaian akademik. Kemampuan nonakademik, pembentukan karakter, serta penguatan akhlak juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang berkualitas.
Arah itulah yang mulai diperkuat Eva Kartika Nurfadiah, M.Pd., setelah dipercaya memimpin SMP Negeri 2 Sumenep. Meski baru beberapa minggu menjabat, ia telah menyiapkan sejumlah langkah untuk melanjutkan program positif yang diwariskan kepemimpinan sebelumnya sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Eva menilai, keberhasilan pendidikan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tidak hanya kepala sekolah dan tenaga pendidik, tetapi juga dukungan orang tua serta Dinas Pendidikan.
“Ada beberapa hal yang akan ditingkatkan seperti non akademik dan akademik, hal itu harus dilakukan oleh semua pihak, baik oleh interen (dewan guru) dan pihak luar seperti wali murid serta Dinas pendidikan,” kata Eva saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (3/11/2026).
Dari hasil analisis awal, sejumlah program yang telah berjalan baik akan dipertahankan dan dikembangkan. Salah satu perhatian khusus diarahkan pada kegiatan ekstrakurikuler sebagai ruang bagi siswa untuk menggali potensi, membangun kedisiplinan, serta mengasah kemampuan di luar kegiatan belajar mengajar.
Tiga kegiatan yang menjadi perhatian, yakni drum band, Peraturan Baris Berbaris (PBB), dan bola basket.
Menurut Eva, ketiganya memiliki peluang untuk berkembang menjadi bidang unggulan sekolah apabila mendapat pembinaan secara konsisten.
Prestasi tim basket putri SMPN 2 Sumenep, misalnya, telah menunjukkan perkembangan positif. Tim tersebut bahkan berhasil meraih gelar juara dan mulai diperhitungkan oleh sekolah-sekolah lain.
Sementara itu, kelompok drum band juga telah memperoleh pengalaman berkompetisi melalui keikutsertaan dalam lomba BBL di Kabupaten Lamongan.
“Kegiatan ekstrakurikuler basket, drum band, dan PBB dapat mengikuti lomba tingkat provinsi atau tingkat nasional,” ujarnya.
Ke depan, SMPN 2 Sumenep menargetkan partisipasi dalam kompetisi BBL tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung di Blitar dan Jember. Sekolah juga membidik kejuaraan tingkat nasional yang akan diselenggarakan di Yogyakarta.
Bagi Eva, kegiatan ekstrakurikuler bukan sekadar aktivitas tambahan setelah pelajaran selesai. Pembinaan yang terarah dapat menjadi sarana membangun mental kompetitif, kerja sama, tanggung jawab, dan kepercayaan diri siswa.
Penguatan Akademik dan Bahasa Inggris
Di bidang akademik, perhatian diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Eva meminta seluruh tenaga pendidik bersama-sama membangun suasana belajar yang lebih efektif agar kemampuan siswa terus berkembang.
Salah satu program yang diperkuat adalah pembelajaran bahasa Inggris. Jika sebelumnya bimbingan belajar bahasa Inggris hanya dilaksanakan sekali dalam sepekan, kini kegiatan tersebut ditingkatkan menjadi setiap hari.
Langkah ini dilakukan melalui kerja sama dengan pembina ekstrakurikuler bahasa Inggris. Selain memperkuat kemampuan berbahasa, program tersebut juga dipersiapkan untuk mendukung siswa menghadapi berbagai kompetisi.
Peningkatan intensitas pembelajaran diharapkan memberikan kesempatan lebih luas kepada siswa untuk berlatih, memahami materi, serta membangun keberanian menggunakan bahasa Inggris.
Akhlak Menjadi Fondasi Pendidikan
Di tengah upaya meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik, Eva menempatkan pendidikan karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.
Menurut dia, sekolah tidak boleh hanya menghasilkan siswa yang unggul dalam pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus mampu membentuk pribadi yang memiliki akhlak dan budi pekerti baik.
Karena itu, pembiasaan keagamaan menjadi salah satu kegiatan yang diterapkan di lingkungan SMPN 2 Sumenep.
Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, siswa dibiasakan membaca Al-Qur’an dan Surah Yasin. Sekolah juga melaksanakan kegiatan salat secara bergantian.
“Kita memberikan pembelajaran akhlak dan budi pekerti kepada siswa. Sebelum dimulainya pelajaran, terlebih dahulu mengaji Al-Qur’an, membaca Surah Yasin dan salat bergantian,” jelasnya.
Eva juga menginstruksikan para guru agar proses pendidikan tidak berhenti pada penyampaian materi pelajaran. Pembinaan keimanan dan karakter harus mendapat perhatian yang sama.
“Pendidikan akhlak terus ditingkatkan, karena dengan akhlak membentuk pribadi manusia yang memiliki budi pekerti luhur, berakhlak mulia secara lahir dan batin, serta membimbing para siswa menuju kebaikan agar memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat,” pungkasnya.
Bagi mantan Kepala SMPN 2 Saronggi tersebut, keberhasilan pendidikan pada akhirnya tidak hanya diukur dari nilai rapor maupun deretan piala yang berhasil dibawa pulang siswa.
Lebih dari itu, sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki kecakapan intelektual, keterampilan, kedisiplinan, serta landasan moral yang kuat.
Tantangannya adalah memastikan seluruh program tersebut berjalan secara berkelanjutan dan memberikan hasil nyata bagi perkembangan peserta didik.
















