Oleh : Abdul Hanan
Jurnalis di Surabaya

Setiap Kapal Tenggelam Selalu Melahirkan Janji, Tetapi Mengapa Tragedi Terus Berulang?

Ada satu hal yang hampir selalu sama setiap kali kapal mengalami kecelakaan di negeri ini.

Sirene ambulans meraung. Tim SAR bertaruh nyawa di tengah gelombang. Rumah sakit dipenuhi keluarga yang menangis. Pejabat datang menyampaikan belasungkawa. Investigasi diumumkan. Evaluasi dijanjikan.

Lalu…

Beberapa bulan kemudian, semuanya kembali sunyi.

Sampai akhirnya sebuah kapal lain kembali terbakar, kembali tenggelam, kembali memakan korban.

Tragedi KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan Sumenep seharusnya tidak hanya dikenang sebagai musibah. Ia adalah alarm keras yang mempertanyakan sejauh mana keselamatan pelayaran benar-benar menjadi prioritas.

Di tengah kobaran api itu, bukan hanya badan kapal yang hangus.

Harapan banyak keluarga ikut terbakar.

Ada anak yang menunggu ayahnya pulang. Ada istri yang masih menggenggam telepon berharap suaminya menjawab panggilan terakhir. Ada orang tua yang terus memandang laut dengan doa yang tak pernah putus.

Mereka bukan statistik.

Mereka adalah manusia.

Yang paling menyedihkan dari setiap tragedi bukan hanya jumlah korban, tetapi kenyataan bahwa bangsa ini seperti memiliki ingatan yang pendek. Setiap musibah selalu direspons dengan rapat koordinasi, pembentukan tim investigasi, dan komitmen evaluasi. Namun setelah perhatian publik bergeser, apakah perubahan benar-benar terjadi?

Pertanyaan itu layak diajukan.

Bukan untuk menyalahkan siapa pun.

Melainkan agar nyawa manusia tidak terus dibayar dengan kata “evaluasi”.

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Laut adalah urat nadi kehidupan jutaan warga. Ironis jika keselamatan pelayaran masih sering baru menjadi perhatian setelah tragedi terjadi.

Keselamatan tidak boleh dimulai ketika kapal sudah terbakar.

Keselamatan harus dimulai jauh sebelum tali tambat dilepas dari dermaga.

Mulai dari pemeriksaan kelaikan kapal yang dilakukan tanpa kompromi. Perawatan yang tidak sekadar memenuhi administrasi. Alat keselamatan yang benar-benar siap digunakan. Awak kapal yang terlatih menghadapi keadaan darurat. Hingga pengawasan yang tidak tunduk pada kepentingan apa pun selain melindungi nyawa manusia.

Saya percaya aparat akan mengusut penyebab tragedi ini secara profesional. Kita wajib menghormati proses penyelidikan dan tidak mendahului kesimpulan resmi.

Namun publik juga berhak berharap bahwa hasil investigasi nanti tidak berhenti menjadi setumpuk dokumen di rak arsip.

Ia harus menjadi titik balik.

Jika setiap kecelakaan hanya melahirkan laporan tanpa perubahan, maka sesungguhnya kita sedang membiarkan sejarah menulis ulang tragedi yang sama dengan nama korban yang berbeda.

Tidak ada perjalanan yang layak dibayar dengan nyawa.

Tidak ada keluarga yang pantas menunggu di pelabuhan hanya untuk menerima kabar duka.

Dan tidak ada negara maritim yang boleh menganggap keselamatan sebagai urusan yang selesai setelah konferensi pers.

Laut tidak pernah memilih korbannya.

Tetapi manusia selalu memiliki pilihan untuk belajar sebelum tragedi berikutnya datang.

Pertanyaannya tinggal satu.

Apakah kali ini kita benar-benar belajar, atau kembali menunggu kapal berikutnya menjadi berita utama?