Oleh: Abdul Hanan
Jurnalis di Surabaya
Ada satu tempat yang tidak pernah membedakan manusia berdasarkan jabatan. Tempat itu bukan ruang sidang, bukan kantor pemerintahan, bukan pula istana. Tempat itu adalah liang kubur.
Di sana, tidak ada kursi kebesaran. Tidak ada ajudan yang berdiri memberi hormat. Tidak ada sirene yang membuka jalan. Tidak ada pula papan nama yang menunjukkan pangkat, gelar, atau kedudukan. Yang ada hanyalah seorang manusia yang kembali menghadap Sang Pencipta dengan membawa seluruh catatan hidupnya.
Selama hidup, jabatan sering kali membuat seseorang merasa memiliki kuasa. Teleponnya dijawab lebih cepat. Kehadirannya disambut lebih hangat. Ucapannya lebih didengar daripada kebenaran itu sendiri. Tidak sedikit yang akhirnya mengira bahwa penghormatan itu milik dirinya, padahal sebagian besar hanyalah penghormatan kepada kursi yang sedang didudukinya.
Begitulah sifat kekuasaan. Ia mampu membuat manusia lupa bahwa dirinya hanyalah pemegang amanah, bukan pemiliknya. Hari ini seseorang berada di puncak, esok hari ia hanya tinggal nama dalam arsip. Kursi yang kemarin diperebutkan, lusa sudah ditempati orang lain. Tidak ada jabatan yang benar-benar abadi.
Kematian adalah pengingat paling jujur. Ia tidak pernah meminta izin sebelum datang. Ia tidak melihat pangkat, kekayaan, ataupun pengaruh. Di hadapannya, semua manusia berdiri pada garis yang sama. Seorang pejabat tinggi dan seorang buruh harian akan melalui pintu yang sama menuju kehidupan berikutnya.
Karena itu, ukuran kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh setinggi apa jabatannya, melainkan oleh seberapa bersih amanah itu dijalankan. Kekuasaan yang digunakan untuk melayani akan dikenang sebagai kemaslahatan. Sebaliknya, kekuasaan yang dipakai untuk menyombongkan diri atau menindas sesama hanya akan meninggalkan penyesalan.
Sejarah telah berkali-kali memperlihatkan bahwa nama besar dapat memudar, gedung-gedung megah dapat runtuh, dan segala bentuk kemewahan akhirnya menjadi debu. Namun satu hal yang tetap hidup adalah jejak perbuatan. Kebaikan akan terus disebut meski pelakunya telah lama tiada. Begitu pula kezaliman, yang sering kali tetap dikenang meskipun jabatan telah berganti berkali-kali.
Jabatan pada hakikatnya bukan hadiah, melainkan ujian. Semakin besar kewenangan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang mengikutinya. Setiap keputusan menyentuh kehidupan orang lain. Setiap tanda tangan dapat membawa keadilan atau justru melahirkan penderitaan. Karena itu, kekuasaan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.
Tidak ada manusia yang akan membawa mobil dinas, ruang kerja, atau surat keputusan pengangkatannya ke dalam liang kubur. Semua itu berhenti di dunia. Yang terus menyertai hanyalah apa yang telah dilakukan selama kesempatan itu masih diberikan.
Mungkin itulah sebabnya kita perlu lebih sering mengingat kematian, bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri, melainkan agar tidak mabuk oleh jabatan. Sebab ketika manusia lupa bahwa hidup ini sementara, ia mudah tergoda menganggap kekuasaan sebagai miliknya untuk selamanya.
Padahal, setiap jabatan memiliki akhir. Setiap masa kekuasaan memiliki batas. Dan setiap manusia, tanpa kecuali, akan sampai pada hari ketika namanya dipanggil bukan untuk dilantik, melainkan untuk dipertanggungjawabkan.
Pada saat itu, tidak ada lagi tepuk tangan, protokoler, ataupun penghormatan. Yang tersisa hanyalah pertanyaan paling mendasar: apakah amanah telah dijalankan dengan jujur, adil, dan penuh rasa takut kepada Allah?
Sebab pada akhirnya, jabatan berhenti di pintu liang kubur. Yang melangkah masuk hanyalah seorang manusia beserta seluruh amal dan pertanggungjawabannya.








