Catatan Abdul Hanan: Berita Harus Pulang, Wartawan Juga Harus Pulang

0
614
Ilustrasi keselamatan jurnalis dalam menjalankan tugas peliputan
Keselamatan seharusnya menjadi bagian dari profesionalisme jurnalistik, bukan sekadar persoalan setelah terjadi musibah.

Oleh: Abdul Hanan
Jurnalis di Surabaya

Apa gunanya sebuah berita eksklusif jika orang yang mengirimkannya tidak pernah pulang?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi ketika lima jurnalis dan tiga kru kapal masih dalam pencarian setelah menjalankan aktivitas peliputan di sekitar Gunung Anak Krakatau, pertanyaan tersebut tiba-tiba menjadi sangat berat.

Di Surabaya, Jumat (11/9/2026), sejumlah wartawan berkumpul. Bukan untuk melakukan aksi. Bukan pula untuk mengejar sorotan kamera.

Mereka berdoa.

PFI Kota Surabaya bersama IJTI Surabaya dan sejumlah wartawan menyalakan lilin, berharap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih dicari dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Di tengah doa itu, ada sesuatu yang seharusnya tidak boleh hilang dari ingatan dunia pers: wartawan adalah manusia sebelum ia menjadi pemburu berita.

Berita Memang Harus Dicari

Jurnalis memang tidak bekerja dengan cara menunggu peristiwa datang ke meja redaksi.

Ia harus bergerak.

Mendatangi lokasi. Bertanya kepada orang yang terlibat. Melihat sendiri. Mendengar langsung. Memotret. Merekam. Mengonfirmasi. Bahkan dalam situasi tertentu, ia harus masuk ke tempat yang mungkin tidak nyaman.

Sebab berita yang baik tidak lahir dari ruang ber-AC semata.

Tetapi ada batas yang sering kali terlupakan.

Keberanian tidak sama dengan kecerobohan.

Seorang jurnalis boleh mendekati objek liputan. Namun ia tetap harus tahu kapan harus berhenti.

Sebuah gambar eksklusif mungkin hanya menjadi berita sehari. Sebuah laporan mendalam mungkin hanya bertahan beberapa hari di halaman utama. Tetapi satu nyawa manusia tidak mempunyai tombol delete.

Ketika nyawa hilang, berita tidak akan pernah mampu mengembalikannya.

Deadline Tidak Boleh Mengalahkan Keselamatan

Dunia media mengenal istilah deadline.

Berita ditunggu. Foto ditunggu. Video ditunggu. Pembaca menunggu. Redaksi mengejar kecepatan. Kompetitor sudah menerbitkan berita. Media sosial bergerak lebih cepat lagi.

Dalam situasi seperti itu, tekanan bisa muncul tanpa suara.

Cepat.

Lebih dekat.

Ambil gambar itu.

Dapatkan visualnya.

Kirim sekarang.

Tetapi siapa yang bertanya:

Apakah lokasi itu aman?

Apakah wartawan memiliki peralatan keselamatan?

Apakah kondisi cuaca sudah diperhitungkan?

Apakah ada jalur evakuasi?

Apakah komunikasi darurat tersedia?

Apakah wartawan memahami karakter medan yang sedang dihadapi?

Dan yang paling penting: siapa yang mengambil keputusan jika situasi berubah menjadi berbahaya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu seharusnya tidak baru muncul setelah terjadi musibah.

Ia harus dibicarakan sebelum wartawan berangkat.

Wartawan Bukan Sekadar Pemegang Kamera

Ada kecenderungan dalam industri media melihat wartawan dari hasil akhirnya.

Berita jadi.

Foto bagus.

Video viral.

Eksklusif.

Cepat.

Tetapi di balik semua itu ada manusia yang berjalan menuju lokasi.

Karena itu, perusahaan media semestinya tidak hanya bertanya:

“Beritanya dapat?”

Tetapi juga:

“Orangnya aman?”

Ini bukan perkara memanjakan wartawan.

Ini soal tanggung jawab.

Wartawan yang dikirim ke wilayah bencana, laut, kawasan gunung berapi, konflik, kerusuhan, atau medan berisiko tinggi membutuhkan pembekalan yang sesuai.

Bukan sekadar kartu pers.

Bukan sekadar kamera.

Bukan sekadar ponsel dengan baterai penuh.

Tetapi pengetahuan mengenai risiko, kemampuan mengambil keputusan dalam keadaan darurat, perlengkapan yang memadai, komunikasi, serta prosedur keselamatan.

Sebab profesionalisme jurnalistik tidak hanya diukur dari seberapa bagus seseorang menghasilkan berita.

Profesionalisme juga terlihat dari bagaimana ia menjaga dirinya agar tetap bisa menjalankan tugas berikutnya.

Alam Tidak Bisa Diajak Bernegosiasi

Ada satu hal yang sering membuat manusia merasa terlalu percaya diri: pengalaman.

Sudah sering ke laut.

Sudah sering ke lokasi bencana.

Sudah biasa meliput gunung.

Sudah tahu medannya.

Tetapi alam tidak pernah menandatangani kontrak bahwa hari ini ia akan bersahabat.

Gelombang tidak mengenal kartu pers.

Angin tidak mengenal deadline.

Gunung tidak mengenal jabatan.

Bencana tidak bertanya apakah seseorang wartawan senior atau pemula.

Karena itu, mitigasi risiko bukan tanda bahwa seorang jurnalis takut.

Justru sebaliknya.

Mitigasi adalah bentuk keberanian yang menggunakan akal sehat.

Seperti dikatakan Ketua PFI Surabaya Suryanto, jurnalis memang harus mendekati objek liputan, tetapi tidak boleh kehilangan perhitungan mengenai jarak aman.

“Sebagai jurnalis, kita memang harus mendekat, tetapi tidak boleh terlalu dekat dan tidak boleh terlalu jauh. Mitigasi risiko itu memang harus dihitung.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi mungkin justru di situlah inti persoalannya.

Mendekat untuk mendapatkan fakta.

Menjauh ketika bahaya mulai mengalahkan kebutuhan liputan.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Peristiwa hilangnya lima jurnalis dan tiga kru kapal tentu masih menunggu perkembangan pencarian.

Kita berharap mereka ditemukan.

Selamat.

Itulah doa pertama dan utama.

Tetapi setelah itu, dunia pers juga perlu berani bercermin.

Jangan sampai setiap musibah hanya melahirkan doa, ucapan belasungkawa, lalu dilupakan setelah pemberitaan berganti.

Harus ada evaluasi.

Bagaimana penugasan dilakukan?

Bagaimana risiko dipetakan?

Apakah wartawan mendapatkan pembekalan?

Apakah perusahaan media memiliki standar keselamatan?

Apakah ada prosedur khusus untuk peliputan di wilayah berbahaya?

Dan apakah seorang wartawan memiliki kewenangan untuk mengatakan “tidak” ketika kondisi lapangan sudah tidak memungkinkan?

Pertanyaan terakhir sangat penting.

Sebab wartawan seharusnya tidak merasa bahwa menolak masuk ke wilayah yang membahayakan nyawa adalah bentuk ketidakprofesionalan.

Tidak ada berita yang begitu penting sampai seorang manusia harus mempertaruhkan nyawanya tanpa perhitungan.

Berita Boleh Eksklusif, Nyawa Tidak Boleh Dipertaruhkan

Saya kira dunia jurnalistik perlu mengubah cara pandang.

Kita memang membutuhkan wartawan yang berani.

Tetapi kita tidak membutuhkan wartawan yang nekat.

Kita membutuhkan jurnalis yang mau berada di garis depan ketika masyarakat membutuhkan informasi.

Tetapi kita juga membutuhkan perusahaan media yang memahami bahwa orang yang mereka kirim ke garis depan bukanlah alat produksi berita.

Mereka manusia.

Mereka punya keluarga.

Ada seseorang yang menunggu kepulangan mereka.

Ada rumah yang pintunya mungkin selalu terbuka ketika mereka berangkat bekerja.

Ada anak yang mungkin bertanya kapan ayah atau ibunya pulang.

Karena itu, ketika seorang wartawan berangkat liputan, target akhirnya seharusnya bukan hanya satu:

berita sampai ke redaksi.

Ada target kedua yang jauh lebih penting:

wartawan sampai kembali ke rumah.

Sebab berita bisa dicari lagi besok.

Foto bisa dibuat lagi lusa.

Liputan bisa dikejar kembali.

Tetapi nyawa tidak punya edisi kedua.

Lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih dalam pencarian hari ini menjadi pengingat bagi kita semua.

Bahwa jurnalistik memang membutuhkan keberanian.

Tetapi keberanian tanpa perhitungan bukan profesionalisme.

Dan pada akhirnya, berita yang paling baik bukan hanya berita yang sampai kepada publik.

Berita yang paling baik adalah berita yang diperoleh dengan cara yang tetap menghargai kehidupan manusia.

Berita harus pulang.

Dan wartawan juga harus pulang.