Oleh: Abdul Hanan

Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil setiap Agustus tiba.

Bendera merah putih berkibar di berbagai sudut negeri. Jalan-jalan dihias. Panggung didirikan. Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar. Anak-anak berlatih untuk mengikuti berbagai perlombaan.

Semua tampak seperti wajah sebuah bangsa yang sedang merayakan kemerdekaan.

Namun, jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dekat, ada satu pertanyaan yang layak diajukan:

Siapa yang membayar kemeriahan itu?

Di ruang-ruang pemerintahan, berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan dapat diselenggarakan dengan dukungan anggaran negara. Ada anggaran untuk kegiatan, perlengkapan, konsumsi, dekorasi, hingga berbagai kebutuhan seremoni.

Sementara di banyak kampung, kemerdekaan dirayakan dengan cara yang jauh lebih sederhana.

Warga mengumpulkan uang dari rumah ke rumah.

Seribu rupiah.

Lima ribu.

Sepuluh ribu.

Ada yang memberi lebih jika mampu. Ada yang hanya bisa memberi sedikit. Ada pula yang sebenarnya sedang tidak punya banyak uang, tetapi tetap berusaha menyisihkan sebagian karena tidak ingin anak-anak mereka kehilangan kegembiraan pada bulan kemerdekaan.

Di sinilah ironi itu muncul.

Kemerdekaannya sama.
Merah putihnya sama.
Tanggal perayaannya sama.
Tetapi beban untuk merayakannya terasa berbeda.

Ketika Negara Memiliki Anggaran, Rakyat Memiliki Iuran

Tidak ada yang salah dengan penggunaan anggaran negara untuk memperingati hari kemerdekaan.

Kemerdekaan adalah peristiwa besar bagi bangsa ini. Peringatan resmi negara tentu membutuhkan biaya. Pemerintah juga memiliki kewajiban menyelenggarakan kegiatan kenegaraan secara tertib dan layak.

Persoalannya bukan pada ada atau tidak adanya anggaran.

Persoalannya adalah bagaimana anggaran itu digunakan dan bagaimana kemewahan perayaan tersebut terlihat di tengah kehidupan rakyat.

Di satu sisi, rakyat diminta menjaga semangat gotong royong.

Di sisi lain, mereka juga harus membuka dompet sendiri untuk membeli bendera, menyediakan hadiah perlombaan, menyewa perlengkapan, membeli konsumsi, hingga membiayai berbagai kegiatan kampung.

Gotong royong tentu bukan sesuatu yang buruk.

Justru itulah kekuatan masyarakat.

Rakyat tidak pernah kehilangan cara untuk saling membantu.

Mereka menyumbang bukan karena kaya.

Mereka menyumbang karena merasa memiliki.

Seorang pedagang kecil memberikan sebagian keuntungan.

Seorang buruh menyisihkan uang dari upahnya.

Seorang ibu mengambil sebagian uang belanja.

Seorang warga yang penghasilannya pas-pasan tetap memberikan beberapa lembar uang karena ingin kampungnya ikut merasakan kegembiraan kemerdekaan.

Nilainya mungkin kecil.

Tetapi di balik uang kecil itu ada pengorbanan.

Karena itu, jangan pernah menganggap iuran rakyat sebagai sesuatu yang remeh.

Bagi orang yang memiliki banyak uang, sepuluh ribu rupiah mungkin tidak berarti apa-apa.

Tetapi bagi keluarga yang harus menghitung uang belanja setiap hari, sepuluh ribu rupiah tetap memiliki cerita.

Dan ketika uang itu dikumpulkan dari puluhan atau ratusan warga, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar sebuah panggung.

Ada rasa memiliki di sana.

Ada kebanggaan.

Ada cinta kepada lingkungan.

Ada keinginan agar anak-anak tetap mengenal arti kemerdekaan.

Dua Wajah Perayaan Kemerdekaan

Yang membuat persoalan ini menarik adalah ketika kita melihat dua wajah perayaan yang berjalan bersamaan.

Di satu tempat, kemerdekaan dirayakan dengan fasilitas yang lengkap, panggung yang megah, dekorasi yang tertata, konsumsi yang tersedia, dan berbagai kegiatan yang didukung anggaran.

Di tempat lain, kemerdekaan cukup dirayakan dengan panggung sederhana yang dibangun dari hasil iuran warga.

Pengeras suara disewa patungan.

Hadiah lomba dibeli bersama.

Bendera dibeli dari uang sendiri.

Makanan disiapkan seadanya.

Namun anehnya, terkadang justru di kampung-kampung sederhana itulah kita menemukan wajah kemerdekaan yang paling tulus.

Tidak ada protokol.

Tidak ada kursi kehormatan.

Tidak ada panggung mewah.

Tidak ada tepuk tangan untuk pejabat.

Yang ada hanya warga.

Mereka duduk bersama.

Tertawa bersama.

Anak-anak berlari mengikuti perlombaan.

Orang tua menyaksikan dari pinggir lapangan.

Dan semuanya lahir dari uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Mereka mungkin tidak memiliki anggaran besar.

Tetapi mereka memiliki rasa memiliki yang besar.

Di sinilah kita perlu bertanya:

Mengapa ukuran kemeriahan kemerdekaan harus selalu terlihat dari besarnya anggaran?

Bukankah inti dari kemerdekaan justru terletak pada kebersamaan?

Jika begitu, mestinya kemewahan bukan menjadi ukuran keberhasilan sebuah perayaan.

Yang lebih penting adalah apakah rakyat merasa dihargai sebagai bagian dari bangsa ini.

Jangan Sampai Rakyat Hanya Menjadi Penonton

Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persoalan iuran.

Yakni tentang rasa memiliki.

Jangan sampai rakyat hanya menjadi penonton dari sebuah perayaan yang sesungguhnya mereka biayai melalui berbagai sumber penerimaan negara.

Rakyat membayar pajak.

Rakyat bekerja.

Rakyat menjalankan roda ekonomi.

Rakyat menyumbang melalui berbagai bentuk penerimaan negara.

Kemudian ketika kemerdekaan tiba, mereka melihat perayaan negara berlangsung dengan anggaran yang telah disiapkan.

Itu memang bagian dari kewajiban negara.

Tetapi rakyat di kampung juga memiliki cara sendiri untuk merayakannya.

Mereka kembali mengumpulkan uang.

Kembali membuka dompet.

Kembali menyisihkan penghasilan.

Bukan karena negara memerintahkan mereka mencintai Indonesia.

Tetapi karena mereka memang mencintainya.

Maka yang perlu kita jaga adalah jangan sampai terjadi jurang yang terlalu lebar antara kemerdekaan yang dirayakan oleh negara dan kemerdekaan yang dirasakan oleh rakyat.

Negara boleh memiliki anggaran.

Rakyat boleh memiliki iuran.

Tetapi keduanya seharusnya bertemu dalam satu tujuan: membuat rakyat merasa bahwa kemerdekaan benar-benar milik mereka.

Bukan milik pejabat.

Bukan milik pemerintah.

Bukan milik mereka yang memiliki akses terhadap anggaran.

Melainkan milik seluruh rakyat Indonesia.

Kemerdekaan Bukan Soal Siapa yang Paling Banyak Membayar

Pada akhirnya, persoalannya bukan siapa yang mengeluarkan uang paling banyak untuk merayakan 17 Agustus.

Bukan pula siapa yang membuat panggung paling besar.

Kemerdekaan tidak pernah diukur dari kemewahan dekorasi.

Tidak ditentukan oleh mahalnya hiburan.

Tidak pula ditentukan oleh besarnya anggaran seremoni.

Kemerdekaan seharusnya diukur dari satu hal yang jauh lebih sederhana:

Apakah rakyat merasa menjadi bagian dari perayaan itu?

Karena itu, kita tidak perlu mencurigai setiap iuran warga.

Kita juga tidak perlu mempertentangkan gotong royong rakyat dengan anggaran pemerintah.

Yang perlu dipertanyakan adalah ketika terjadi ketimpangan yang terlalu jauh.

Ketika satu pihak dapat merayakan kemerdekaan dengan fasilitas yang begitu lengkap, sementara pihak lain harus menghitung uang receh agar anak-anak di kampung tetap bisa mengikuti lomba.

Ketika satu panggung dibangun dengan anggaran besar, sementara panggung lain berdiri dari uang yang dikumpulkan dari pintu ke pintu.

Di situlah kita seharusnya berhenti sejenak.

Bukan untuk menyalahkan rakyat.

Bukan pula untuk melarang gotong royong.

Tetapi untuk mengingatkan bahwa kemerdekaan harus dirasakan secara adil.

Sebab rakyat tidak pernah meminta perayaan yang mewah.

Mereka hanya ingin ikut merayakan.

Dan sering kali, mereka membiayainya sendiri.

Dari uang yang tidak berlebih.

Dari penghasilan yang pas-pasan.

Dari sisa belanja rumah tangga.

Namun justru dari sanalah terlihat sebuah ironi:

Pejabat merayakan kemerdekaan dengan anggaran negara.

Rakyat merayakannya dengan hasil iuran.

Keduanya sama-sama mengibarkan merah putih.

Tetapi pengorbanannya tidak selalu sama.

Maka setiap kali Agustus datang, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Seberapa besar anggaran yang dihabiskan untuk merayakan kemerdekaan?”

Melainkan:

“Seberapa besar rasa memiliki rakyat yang berhasil kita bangun dari perayaan itu?”

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan tentang siapa yang berdiri di atas panggung.

Bukan tentang siapa yang duduk di kursi kehormatan.

Bukan tentang siapa yang memegang anggaran.

Kemerdekaan adalah ketika seluruh rakyat, dari gedung pemerintahan sampai gang sempit di pelosok kampung, dapat merayakannya dengan rasa yang sama:

bahwa negeri ini benar-benar milik mereka.

Dan mungkin, di situlah makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

Bukan ketika negara mampu membuat pesta paling megah.

Tetapi ketika rakyat yang menghidupi negeri ini tidak pernah merasa terlalu miskin untuk menjadi bagian dari kemerdekaannya.

📰 Baca Versi E-Paper
Baca berita ini dalam tampilan koran digital SIGAP88.
BUKA VERSI KORAN