SURABAYA | SIGAP88 – Suara klakson truk kontainer bersahutan. Crane-crane raksasa bergerak mengangkat peti kemas dari lambung kapal, sementara aktivitas bongkar muat berlangsung tanpa henti di Terminal Petikemas Surabaya. Pemandangan yang biasanya hanya menjadi “milik” para pekerja pelabuhan itu, Senin (6/7/2026), justru dipenuhi tatapan penuh rasa ingin tahu dari puluhan anak-anak.
Bagi mereka, kawasan pelabuhan bukan lagi sekadar tempat kapal bersandar. Hari itu, pelabuhan berubah menjadi ruang belajar terbuka yang memperkenalkan bagaimana ribuan barang kebutuhan masyarakat didistribusikan ke berbagai daerah melalui jalur laut.
Melalui program Portground Vol. 1, PT Pelindo Terminal Petikemas (Pelindo TPK) mengajak peserta merasakan langsung denyut aktivitas pelabuhan. Edukasi yang diberikan pun tidak berhenti pada pengenalan dunia kepelabuhanan, tetapi diperluas dengan pembelajaran mengenai bahaya narkotika serta pentingnya keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Program yang digelar di PT Terminal Petikemas Surabaya itu terlaksana melalui kolaborasi bersama BNN Kota Surabaya dan BPBD Kota Surabaya. Pesertanya merupakan siswa kelas V dan VI SD serta kelas VII dan VIII SMP dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Yang menarik, animo masyarakat jauh melampaui ekspektasi penyelenggara. Kuota yang semula hanya disiapkan untuk 50 peserta diserbu hingga 555 pendaftar, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap edukasi dunia kepelabuhanan yang selama ini jarang dapat diakses secara langsung oleh anak-anak.
Selama mengikuti Portground Vol. 1, para peserta tidak hanya diajak menyaksikan aktivitas bongkar muat peti kemas dari kejauhan. Mereka diperkenalkan secara langsung pada berbagai fasilitas terminal, alur distribusi logistik, hingga peran pelabuhan sebagai salah satu simpul utama yang menghubungkan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.
Dengan pendekatan yang interaktif, anak-anak diajak memahami bahwa hampir setiap barang yang mereka gunakan sehari-hari—mulai dari bahan pangan, pakaian, hingga barang elektronik—melewati rantai distribusi yang sebagian besar bergantung pada aktivitas pelabuhan. Pengalaman melihat langsung proses tersebut menjadi pembelajaran yang sulit diperoleh di ruang kelas.
Bagi PT Pelindo Terminal Petikemas, mengenalkan dunia kepelabuhanan kepada generasi muda bukan sekadar kegiatan wisata edukasi. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran sejak dini mengenai pentingnya sektor maritim dalam menopang perekonomian nasional.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan pembentukan pemahaman sejak usia dini merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang mengenal dan menghargai peran pelabuhan bagi kehidupan masyarakat.
“Pembentukan awareness sejak dini adalah investasi jangka panjang. Melalui Portground, kami ingin mengajak anak-anak melihat langsung aktivitas di pelabuhan, memahami bagaimana barang-barang yang mereka gunakan sehari-hari dapat sampai ke berbagai daerah, serta menumbuhkan rasa ingin tahu mereka terhadap dunia kepelabuhanan. Semoga kegiatan ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi para peserta,” ujar Widyaswendra.
Menurutnya, tingginya jumlah pendaftar menjadi sinyal bahwa edukasi kepelabuhanan memiliki daya tarik yang besar, baik bagi anak-anak maupun orang tua. Antusiasme tersebut sekaligus menunjukkan semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap program pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung di lapangan.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor logistik nasional, Pelindo TPK menilai pengenalan fungsi pelabuhan kepada generasi muda penting dilakukan dengan cara yang sederhana, komunikatif, dan menyenangkan. Harapannya, anak-anak tidak hanya mengenal pelabuhan sebagai tempat kapal bersandar, tetapi juga memahami perannya sebagai urat nadi distribusi barang dan penggerak roda perekonomian Indonesia.
Namun, pengalaman yang dibawa pulang para peserta tidak berhenti pada cerita tentang kapal, peti kemas, dan lalu lintas logistik. Di sela-sela aktivitas pengenalan pelabuhan, mereka juga dibekali pengetahuan yang tak kalah penting untuk kehidupan sehari-hari, yakni tentang bahaya narkotika serta kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
Kolaborasi dengan BNN Kota Surabaya dan BPBD Kota Surabaya menjadi nilai tambah dalam Portground Vol. 1. Edukasi yang diberikan tidak hanya memperluas wawasan anak-anak mengenai dunia maritim, tetapi juga membentuk karakter, kepedulian, dan keberanian mengambil keputusan yang benar ketika menghadapi berbagai tantangan di lingkungan sekitar.
Kepala BNN Kota Surabaya, Heru Prasetyo, menegaskan bahwa pencegahan penyalahgunaan narkotika harus dimulai sejak usia dini. Menurutnya, anak-anak perlu dibekali pemahaman agar mampu mengenali ancaman narkoba sekaligus memiliki keberanian untuk mengatakan tidak terhadap setiap bentuk penyalahgunaan.
Program tersebut, kata Heru, sejalan dengan gerakan Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkoba (ANANDA BERSINAR) yang terus didorong Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia.
“Anak-anak adalah generasi penerus yang perlu dibekali pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan, memilih lingkungan pergaulan yang baik, serta berani menolak hal-hal negatif. Melalui kegiatan seperti Portground ini, edukasi kesehatan dapat disampaikan dengan cara yang lebih ringan, menyenangkan, dan mudah diterima,” kata Heru.
Tidak hanya itu, peserta juga mendapat pembelajaran mengenai pentingnya keselamatan diri ketika menghadapi situasi darurat. Tim Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya mengenalkan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan anak-anak saat terjadi bencana maupun kondisi yang membahayakan keselamatan.
Bagi BPBD, membangun budaya sadar bencana sejak usia sekolah menjadi investasi penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih tangguh di masa mendatang.
Tim Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya, Nadya Sukma Batubara, mengatakan pengetahuan dasar mengenai keselamatan harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak mampu bersikap tenang dan mengetahui tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
“Keselamatan adalah pengetahuan dasar yang penting dimiliki oleh setiap anak. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengenalkan langkah-langkah sederhana terkait kesiapsiagaan, apa yang harus dilakukan saat terjadi kondisi darurat, serta pentingnya tidak panik dan mengikuti arahan petugas,” ujar Nadya.
Dengan konsep pembelajaran yang dikemas secara interaktif, Portground tidak hanya memperkenalkan profesi dan aktivitas di kawasan pelabuhan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan, karakter, dan pengalaman lapangan dalam satu rangkaian edukasi yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Bagi sebagian besar peserta, kunjungan ke Terminal Petikemas Surabaya menjadi pengalaman pertama yang membuka cara pandang baru tentang dunia pelabuhan. Selama ini mereka hanya mengenal kapal sebagai alat transportasi laut. Setelah melihat langsung aktivitas di lapangan, mereka mulai memahami bahwa pelabuhan merupakan simpul penting yang menghubungkan arus perdagangan dan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Rasa kagum itu diungkapkan Raff Yehezkiel Hutapea, siswa SD Bunga Bangsa Surabaya. Kesempatan menyaksikan secara langsung aktivitas terminal peti kemas menjadi pengalaman yang menurutnya tidak akan mudah dilupakan.
“Saya senang bisa melihat pelabuhan dari dekat. Jadi tahu kalau terminal peti kemas itu besar sekali dan banyak barang dikirim lewat kapal,” ujar Raff.
Pandangan serupa datang dari para orang tua yang mendampingi putra-putrinya mengikuti kegiatan tersebut. Mereka menilai Portground memberikan alternatif pembelajaran di luar ruang kelas yang mampu menggabungkan unsur edukasi, pengalaman lapangan, sekaligus pembentukan karakter anak.
Lysa Octaviani, salah satu orang tua peserta, mengaku kegiatan tersebut menjadi cara yang berbeda dalam mengisi masa liburan sekolah. Menurutnya, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan baru tentang pelabuhan, tetapi juga mendapatkan bekal mengenai bahaya narkotika dan pentingnya menjaga keselamatan diri.
“Kegiatan ini menjadi pengalaman yang baik untuk mengisi liburan anak secara produktif. Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar hal baru tentang pelabuhan, tentang bahaya narkotika dan keselamatan. Semoga ke depan kegiatan seperti ini terus dapat terlaksana sehingga kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal dunia pelabuhan semakin luas,” ujar Lysa.
Melihat besarnya antusiasme masyarakat yang tercermin dari membludaknya jumlah pendaftar, Portground Vol. 1 tidak sekadar menjadi agenda edukasi selama liburan sekolah. Program ini memperlihatkan bahwa pelabuhan dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui pendekatan yang sederhana, komunikatif, dan menyenangkan.
Di tengah hiruk pikuk bongkar muat peti kemas dan lalu lintas logistik yang tak pernah berhenti, puluhan anak pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar dokumentasi foto. Mereka membawa cerita, pengalaman, dan pemahaman baru bahwa pelabuhan bukan hanya tempat kapal berlabuh, melainkan salah satu penggerak kehidupan yang selama ini bekerja tanpa banyak terlihat, namun setiap hari menghadirkan kebutuhan masyarakat hingga ke berbagai penjuru negeri.


















