
JAKARTA | SIGAP88 – PT Pertamina Patra Niaga resmi memberlakukan penyesuaian harga terhadap dua jenis bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, yaitu Pertamax dan Pertamax Green 95, terhitung mulai Rabu (10/6/2026).
Langkah ini merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan energi yang transparan dan disesuaikan dengan dinamika kondisi ekonomi dan pasar global.
Berdasarkan siaran pers yang diterima sigap88.com pada Selasa kemarin, terdapat perubahan nilai yang cukup signifikan pada kedua produk tersebut.
Harga Pertamax dengan tingkat oktan 92 yang sebelumnya ditetapkan sebesar Rp12.300 per liter, kini diubah menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara itu, Pertamax Green 95 yang sebelumnya dijual dengan harga Rp12.900 per liter, mengalami penyesuaian menjadi Rp17.000 per liter.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa keputusan ini tidak diambil secara sepihak.
Ia menjelaskan bahwa setiap perubahan harga selalu melalui tahapan evaluasi yang ketat dan terukur.
“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Ini bukan kebijakan sesaat, melainkan bagian dari tata kelola yang telah disepakati bersama,” ujar Roberth.
Lebih rinci ia menguraikan, penyesuaian ini didasarkan pada kajian mendalam yang mempertimbangkan dua faktor utama, yakni pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Sebagai komoditas yang sebagian besar kebutuhannya dipenuhi dari impor, perubahan harga di tingkat global secara otomatis akan berdampak pada struktur biaya di dalam negeri.
Selain itu, penetapan harga juga mempertimbangkan prinsip keekonomian agar rantai pasokan dapat terus berjalan berkelanjutan.
“Penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi serta memastikan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat dapat terus berjalan optimal,” jelasnya.
Menyikapi kekhawatiran yang sering muncul di tengah masyarakat terkait kenaikan harga, Pertamina memberikan jaminan penuh mengenai ketersediaan stok di lapangan.
Pihaknya menyatakan telah menyiapkan skenario pasokan agar tidak terjadi kelangkaan atau antrean panjang di stasiun pengisian.
“Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina yang tersebar di seluruh Indonesia. Seluruh rantai distribusi telah dipantau secara ketat agar layanan kepada konsumen tetap berjalan lancar,” tambahnya.
Perusahaan juga menegaskan bahwa penyesuaian kali ini hanya menyasar dua jenis produk tersebut saja.
Berbagai varian BBM lainnya, baik yang bersifat non-subsidi maupun subsidi, dipastikan tidak mengalami perubahan harga.
Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga daya beli masyarakat pada umumnya.
Untuk kategori BBM non-subsidi lainnya, Pertamax Turbo (RON 98) tetap dijual dengan harga Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap di angka Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap dihargai Rp24.800 per liter.
Sementara itu, komitmen pemerintah dalam melindungi kelompok masyarakat menengah ke bawah tetap terjaga.
Jenis BBM bersubsidi yang menjadi penyangga utama kebutuhan transportasi dan industri kecil tetap dipertahankan harganya.
Pertalite masih dipasarkan seharga Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap dijual dengan tarif Rp6.800 per liter.
Untuk menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat atau menyesatkan, Pertamina mengimbau masyarakat agar senantiasa merujuk pada sumber informasi resmi.
“Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina yang dapat diakses kapan saja. Kami selalu berusaha menyampaikan informasi secara terbuka dan tepat guna kenyamanan bersama,” pungkas Roberth. (*)
















