PAMEKASAN | SIGAP88 — Musim panen tembakau di Pamekasan segera tiba. Di balik hijaunya hamparan tanaman yang mulai memasuki masa panen, para petani kini menghadapi pertanyaan yang sama setiap tahun: berapa harga yang akan mereka terima dan seberapa besar hasil panen mereka dapat diserap pasar?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena proses budidaya tembakau tidak dimulai dengan biaya yang kecil. Petani harus menanggung biaya pengolahan lahan, benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, hingga perawatan tanaman yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Setelah seluruh biaya dan tenaga dicurahkan selama berbulan-bulan, petani masih harus menghadapi ketidakpastian pada tahap akhir, yakni ketika hasil panen mulai masuk ke pasar.

Petani Sudah Menanam, Kini Menunggu Kepastian

Pada titik inilah harga pembelian dan kemampuan gudang menyerap produksi menjadi sangat menentukan. Harga yang tidak sebanding dengan biaya produksi dapat menekan pendapatan petani. Sementara keterbatasan daya serap berpotensi membuat petani menghadapi persoalan lain ketika hasil panen datang secara bersamaan.

Menjelang musim panen tahun ini, kepastian tersebut masih menjadi perhatian petani tembakau di Pamekasan dan wilayah Madura.

CEO Bawang Mas Group sekaligus Ketua P4TM, Khairul Umam atau yang akrab disapa Haji Her, mengatakan kesejahteraan petani tembakau tetap menjadi salah satu hal yang diperjuangkan.

“Kesejahteraan para petani tembakau di Pamekasan akan terus kami perjuangkan agar mereka bisa menikmati hasil panen yang sepadan,” ujar Haji Her seusai menghadiri pembukaan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Gedung Bakorwil IV Madura, Selasa (21/7/2026).

Namun, komitmen tersebut masih harus diterjemahkan ke dalam kepastian yang paling dibutuhkan petani di lapangan, yakni harga pembelian dan kepastian penyerapan hasil produksi.

Harga Menjadi Penentu Nasib Hasil Panen

Terkait harga pembelian tembakau musim ini, Haji Her belum menyampaikan angka yang dapat menjadi patokan bagi petani. Ia mengatakan, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan mempertimbangkan regulasi serta acuan harga yang ditetapkan pemerintah daerah.

“Kami masih berkoordinasi dan mengikuti regulasi serta acuan harga yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat,” katanya.

Bagi petani, harga bukan sekadar angka dalam proses transaksi. Harga menjadi penentu apakah hasil panen mampu menutup biaya produksi, mengembalikan modal, dan memberikan pendapatan yang layak bagi keluarga.

Karena itu, semakin cepat kepastian mengenai harga diperoleh, semakin besar pula ruang bagi petani untuk memperhitungkan langkah mereka dalam menghadapi musim panen.

Bukan Hanya Harga, Petani Juga Membutuhkan Pasar

Persoalan berikutnya adalah daya serap.

Haji Her menyampaikan, total kebutuhan tembakau yang akan diserap gudang Bawang Mas Group musim ini belum dapat dipublikasikan. Perusahaan masih melakukan evaluasi internal untuk menentukan kapasitas dan strategi penyerapan.

Menurutnya, evaluasi tersebut diperlukan agar proses pembelian hasil panen dapat berjalan lebih optimal.

“Langkah ini diambil guna memastikan bahwa proses penyerapan hasil panen tembakau dari masyarakat nantinya dapat berjalan lancar, adil, dan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi para petani lokal di Madura,” terangnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa selain harga, kemampuan penyerapan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara produksi petani dan kebutuhan pasar.

Sebab, petani tidak hanya membutuhkan harga yang baik. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa hasil panen yang telah mereka produksi memiliki tempat di pasar.

Di sinilah persoalan tembakau menjadi lebih kompleks. Petani berada di sisi paling awal dalam rantai produksi, tetapi pada saat yang sama menjadi pihak yang paling rentan menghadapi risiko. Mereka menanam dengan modal sendiri, merawat tanaman dengan biaya yang terus berjalan, menghadapi ketidakpastian cuaca, lalu menunggu keputusan pasar ketika hasil panen siap dijual.

Sementara itu, harga dan daya serap berada di luar kendali langsung petani.

Karena itu, harapan petani menjelang musim panen tidak hanya tertuju pada tingginya harga pembelian. Mereka juga membutuhkan sistem perdagangan yang lebih memberikan kepastian, transparansi mengenai standar pembelian, serta kemampuan penyerapan yang sejalan dengan produksi di lapangan.

Pemerintah daerah, perusahaan pembelian, dan seluruh pihak yang terlibat dalam tata niaga tembakau memiliki peran penting untuk memastikan agar petani tidak menjadi pihak yang menanggung seluruh risiko dalam rantai produksi.

Bagi Pamekasan dan Madura, persoalan ini memiliki dimensi ekonomi yang lebih luas. Ketika petani memperoleh pendapatan yang layak dari hasil panen, dampaknya tidak berhenti di lahan tembakau. Uang tersebut berputar untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membayar tenaga kerja, memenuhi kebutuhan produksi berikutnya, hingga menggerakkan aktivitas ekonomi di tingkat desa.

Sebaliknya, ketika harga tidak mampu menutup biaya produksi atau hasil panen tidak terserap secara optimal, dampaknya juga akan dirasakan lebih luas.

Karena itu, menjelang musim panen tembakau tahun ini, kepastian harga dan serapan menjadi dua agenda yang tidak bisa dipisahkan.

Petani telah menanam dan merawat tembakaunya. Kini, yang mereka tunggu bukan sekadar pernyataan tentang kesejahteraan, melainkan kepastian nyata mengenai berapa nilai hasil kerja mereka dan ke mana hasil panen tersebut akan diserap.

Kepastian itulah yang akan menjadi salah satu penentu apakah musim panen tahun ini benar-benar mampu memberikan hasil yang sepadan bagi petani tembakau Pamekasan dan Madura.