SUMENEP | SIGAP88 – Upaya mempertahankan status zero stunting di wilayah kerja Pustu Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, terus diperkuat melalui edukasi kesehatan yang menyasar seluruh lapisan masyarakat. Penyuluhan rutin digelar melalui kegiatan posyandu, pertemuan masyarakat, hingga pendampingan bagi calon pengantin (catin).
Kepala Pustu Giliraja, Nur Hidayati, mengatakan keberhasilan mempertahankan nihil kasus stunting merupakan hasil kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta Kantor Urusan Agama (KUA).
“Alhamdulillah melalui penyuluhan yang dilakukan oleh segenap petugas kesehatan terutama bidan desa melakukan edukasi kepada masyarakat dan catin guna kasus stunting tetap zero,” kata Nur Hidayati, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, pencegahan stunting dilakukan sejak sebelum kehamilan melalui edukasi kepada calon pengantin, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan ibu hamil melalui pelayanan Antenatal Care (ANC) terpadu, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil, serta pemantauan tumbuh kembang bayi.
“Kami melakukan kordinasi dengan para Catin dan setelah kehamilan dengan melakukan antenatal care (ANC) terpadu, pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan bayi,” jelasnya.
Ia menegaskan, koordinasi yang berkesinambungan antara tenaga kesehatan di setiap desa dengan pemerintah desa menjadi faktor penting dalam menjaga wilayah Giliraja tetap bebas dari kasus stunting.
Di sisi lain, Pustu Giliraja juga meningkatkan kewaspadaan terhadap meningkatnya kasus batuk yang banyak dikeluhkan masyarakat selama musim kemarau.
Menurut Nur Hidayati, perubahan cuaca dengan suhu panas pada siang hari dan udara lebih dingin pada malam hari menyebabkan gangguan kesehatan saluran pernapasan lebih sering terjadi, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.
“Elnino yang membawa udara panas di siang hari dan dingin di malam hari mengakibatkan banyak masyarakat yang mengalami penyakit batuk. Namun kami dengan sigap memberikan langkah mengedukasi masyarakat agar cepat memeriksakan diri ke tempat-tempat kesehatan terdekat apabila ada gejala meriang dan batuk,” ujarnya.
Sementara itu, dokter yang bertugas di Pustu Giliraja, dr. Ivan Prabawa Gunawan, menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui pemenuhan gizi, pola asuh yang baik, serta lingkungan yang sehat.
“Langkah itu harus dilakukan dengan continue dengan memberikan asupan makan bergizi dan menjaga kesehatan, kebersihan lingkungan melalui pengelolaan air bersih, pembuangan kotoran yang aman, serta pengolahan limbah,” terang dr. Ivan.
Menurutnya, keterlibatan keluarga dan masyarakat menjadi faktor penting agar upaya pencegahan stunting dapat berjalan optimal dan berkelanjutan, sehingga kualitas kesehatan ibu dan anak di wilayah kepulauan tetap terjaga.
















