
SURABAYA | SIGAP88 – Alat berat mulai bekerja di kawasan exit Tol Margomulyo-Tandes. Pemerintah Kota Surabaya mempercepat pembangunan mini bozem sebagai bagian dari strategi mengurangi genangan yang selama ini menjadi persoalan di salah satu kawasan industri dan akses utama Kota Pahlawan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi penanganan banjir yang tidak hanya berfokus pada pembangunan saluran, tetapi juga mengedepankan kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kewenangan di kawasan tersebut, mulai dari pengelola jalan tol hingga kawasan industri dan pergudangan.
Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan genangan di Margomulyo tidak dapat dilakukan oleh pemerintah kota secara sendiri.
“Memang kita tidak bisa berjalan sendiri. Ada korelasi hubungan kolaboratif yang memang harus kita lakukan antara Pemerintah Kota Surabaya dengan instansi vertikal atau stakeholder,” kata Adi, Jumat (3/7/2026).
Menurut Adi, pembangunan saluran drainase di wilayah hulu tidak akan memberikan hasil maksimal apabila saluran pembuangan di bagian hilir tidak berfungsi dengan baik atau tidak terawat.
“Karena pada waktu kita menangani skalanya sifatnya saluran tersier tapi di hilirnya sebagai muara outlet enggak dirawat sama saja,” ujarnya.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah kawasan di bawah jalan tol Margomulyo yang kerap tergenang saat hujan. Untuk mengatasinya, Pemkot Surabaya telah memetakan sejumlah pekerjaan yang akan dilaksanakan bersama PT Margabumi sebagai operator jalan tol.
“Di kawasan Margomulyo itu memang ada genangan di bawahnya tol. Sudah kita petakan memang di situ kita harus kolaboratif dengan PT Margabumi selaku operator jalan tol,” katanya.
Selain memperkuat kolaborasi, Pemkot Surabaya juga mengalokasikan sejumlah intervensi pada 2026. Program tersebut meliputi pembangunan konektivitas saluran di sisi kanan dan kiri kawasan Margomulyo, serta peningkatan kapasitas Rumah Pompa Balong II sebagai salah satu infrastruktur utama pengendali banjir di wilayah barat Surabaya.
“Kita di (tahun) 2026 juga ada intervensi terkait dengan pembangunan konektivitas saluran, yang di kanan kirinya, dan juga peningkatan kapasitas rumah pompanya,” ujar Adi.
Pemkot juga mengajak pengelola kawasan industri dan pergudangan untuk ikut bertanggung jawab menangani saluran yang berada dalam wilayah kewenangan masing-masing agar sistem drainase dapat bekerja secara menyeluruh.
“Memang kita harus mengajak teman-teman dari kawasan industri pergudangan itu untuk penanganan mengenai genangan yang ada di kawasan sekitar yang mereka menjadi kewenangan mereka,” katanya.
Dalam skema yang disiapkan, aliran air dari kawasan Margomulyo nantinya akan diarahkan menuju Saluran Margomulyo Tengah yang terhubung dengan Rumah Pompa Balong II sebelum akhirnya dibuang ke laut.
“Kawasan Margomulyo ini nanti larinya di saluran Margomulyo Tengah yang akan ditarik di Rumah Pompa Balong II. Nah, Rumah Pompa Balong II nanti muaranya ke laut langsung,” jelasnya.
Saat ini, pembangunan konektivitas menuju Rumah Pompa Balong II masih menjadi pekerjaan utama. Karena itu, Pemkot Surabaya juga akan membangun saluran baru beserta rumah pompa berkapasitas kecil untuk mempercepat aliran air menuju sistem drainase utama.
“Memang kita akan bikin salurannya dan juga rumah pompa yang sifatnya rumah pompa kecil untuk mengalirkan ke arah salurannya kita buat menuju ke Balong II,” ungkapnya.
Tak hanya itu, pembangunan mini bozem di kawasan exit Tol Margomulyo-Tandes juga tengah diproses. Fasilitas tersebut akan memanfaatkan lahan milik PT Margabumi sebagai kolam retensi sementara untuk menampung limpasan air hujan sebelum dialirkan ke sistem drainase utama.
“Di samping itu, kita juga membuatkan mini bozem yang memang itu nanti masuk di areanya lahan PT Margabumi. Sekarang lagi on-going untuk prosesnya,” imbuhnya.
Menurut Adi, keberadaan mini bozem diharapkan mampu mengurangi potensi air meluap ke badan jalan, terutama saat intensitas hujan tinggi.
“Sehingga kemarin kami koordinasi dengan PT Margabumi, bisa enggak memanfaatkan lahan mereka untuk dipakai tampungan sementara, sehingga air tidak langsung meluber ke jalan,” pungkasnya.

















