
GRESIK | SIGAP88 — Peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026 di Gresik berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, kesederhanaan itu tidak mengurangi pesan utama yang hendak disampaikan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Gresik: keselamatan pelayaran tidak boleh ditawar.
Di tengah duka akibat tragedi pelayaran yang menimpa KM Mutiara Sentosa 2 dan KM Virgo Transport 8, institusi dibawah naungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) ini memilih memperkuat rangkaian kegiatan Harhubnas dengan agenda yang menyentuh langsung insan maritim dan masyarakat pengguna jasa pelayaran.
Setelah menggelar upacara internal pada Kamis (17/9/2026), KSOP Gresik melanjutkan rangkaian Harhubnas dengan doa bersama untuk keselamatan pelayaran sekaligus mendoakan para korban tragedi dua kapal tersebut, Jumat (18/9/2026).
Sejumlah kegiatan sosial dan pelayanan juga disiapkan. Di antaranya pemberian 100 paket sembako kepada tenaga kerja bongkar muat (TKBM), pemeriksaan kesehatan gratis, serta penyerahan E-Pas Kecil dan grosse akte bagi kapal penangkap ikan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan agenda donor darah yang dijadwalkan berlangsung Selasa (22/9/2026).
Kepala KSOP Kelas II Gresik, Capt Herbert E.P. Marpaung, mengatakan format peringatan Harhubnas tahun ini disesuaikan dengan arahan pemerintah pusat sekaligus mempertimbangkan situasi yang berkembang.
Pria berdarah Batak ini menyampaikan juga menyampaikan permohonan maaf kepada insan maritim dan stakeholder yang selama ini terbiasa mengikuti peringatan Harhubnas di Pelabuhan Gresik dalam skala lebih besar.
“Kami mohon maaf pada teman-teman. Memang secara history upacara Harhubnas di Pelabuhan Gresik biasa selalu besar. Namun, selain mengikuti arahan dari pusat dan melihat kondisi yang ada, kita tidak melakukan upacara secara keseluruhan, hanya upacara internal saja,” tutur Herbert, Jumat (18/9/2026).
Bagi Herbert, ukuran keberhasilan peringatan Harhubnas bukan terletak pada kemeriahan acara. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bersama bahwa keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap aktivitas pelayaran.
Karena itu, ia mengajak seluruh unsur yang terlibat dalam transportasi laut, mulai regulator, operator, stakeholder hingga masyarakat, untuk tidak mengabaikan aspek keselamatan.
“Mari kita semua pemangku kepentingan, baik regulator, operator, stakeholder dan masyarakat, agar lebih awareness terhadap aspek-aspek keselamatan, khususnya keselamatan pelayaran. Pak Menteri juga menghimbau agar no compromise dalam keselamatan pelayaran,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi wilayah Gresik, khususnya jalur Gresik–Bawean yang selama ini memiliki keterbatasan pilihan transportasi.
Herbert menegaskan, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengesampingkan faktor keselamatan. Bagi KSOP, keputusan memberangkatkan kapal harus tetap mempertimbangkan kondisi cuaca dan kelayakan pelayaran.
“Kami memahami Gresik-Bawean ini transportasinya sangat terbatas. Lebih baik kami tidak memberangkatkan kapal jika cuaca buruk daripada kita berangkatkan, tapi tidak pernah sampai,” ungkapnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi KSOP Gresik bahwa keselamatan harus ditempatkan di atas tuntutan keberangkatan kapal.

Di sisi lain, rangkaian Harhubnas 2026 tetap menjadi ruang untuk memperkuat kepedulian sosial dan pelayanan kepada masyarakat pelabuhan. Bantuan sembako, layanan kesehatan, pelayanan dokumen kapal serta donor darah menjadi bagian dari peringatan yang dikemas lebih sederhana tahun ini.
Herbert menyampaikan apresiasi kepada seluruh stakeholder dan insan maritim yang tetap mendukung rangkaian Harhubnas 2026, meskipun pelaksanaannya tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, kolaborasi antarunsur pelayaran tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan dan kelancaran aktivitas transportasi laut di wilayah Gresik.
Kesederhanaan peringatan Harhubnas tahun ini pada akhirnya tidak berhenti pada seremoni. Dari Pelabuhan Gresik, pesan yang dikedepankan justru jauh lebih mendasar: kapal boleh terlambat berangkat, tetapi keselamatan penumpang dan awak kapal tidak boleh dipertaruhkan.
















