Arus Peti Kemas Pelindo Tumbuh 5,80 Persen, Konektivitas Pelayaran Internasional Kian Menguat

Pelindo Catat 10,31 Juta TEUs

0
194
Arus peti kemas di Terminal Teluk Lamong Surabaya meningkat 23,12 persen sepanjang Januari-September 2026.
Aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal pelabuhan menjadi bagian dari penguatan konektivitas perdagangan internasional.

SURABAYA | SIGAP88 – Aktivitas perdagangan melalui jalur laut menunjukkan geliat positif. Di tengah tantangan ekonomi dan dinamika perdagangan global, arus peti kemas yang ditangani PT Pelindo Terminal Petikemas sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 10,31 juta TEUs.

Angka tersebut meningkat 5,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, pertumbuhan itu tidak berlangsung merata. Perdagangan internasional justru bergerak lebih cepat dibandingkan pasar domestik.

Data perusahaan mencatat, arus peti kemas internasional mencapai 3,54 juta TEUs atau tumbuh 10,34 persen. Sementara arus domestik tercatat 6,77 juta TEUs dengan pertumbuhan 3,57 persen.

Perbedaan laju tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan lintas negara menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan arus peti kemas di lingkungan terminal yang dikelola Pelindo Terminal Petikemas.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Fajar Setyono, mengatakan peningkatan tersebut ditopang aktivitas pelayanan kapal internasional, penambahan layanan pelayaran baru, serta optimalisasi fasilitas dan operasional terminal.

Salah satu terminal yang mencatat pertumbuhan menonjol adalah Terminal Teluk Lamong (TTL), Surabaya. Sepanjang periode tersebut, arus peti kemas di terminal ini meningkat 23,12 persen.

Hingga September 2026, Terminal Teluk Lamong melayani 25 kunjungan kapal internasional nonreguler atau ad hoc call dengan total muatan mencapai 16.014 TEUs.

“Hingga September 2026, Terminal Teluk Lamong mencatat 25 kunjungan kapal internasional nonreguler (ad hoc call) dengan total muatan mencapai 16.014 TEUs,” jelas Fajar, Senin (2/11/2026).

Kenaikan aktivitas tersebut antara lain ditopang masuknya CSE Service dan SCJX Service. CSE merupakan layanan joint slot COSCO Shipping Lines dan OOCL dengan rata-rata bongkar muat sekitar 1.100 TEUs setiap kunjungan.

Adapun SCJX/SIX Service merupakan kerja sama Gold Star Line (GSL) dan X-Press Feeders (XPF), yang juga mencatat rata-rata bongkar muat sekitar 1.100 TEUs per kunjungan.

Kehadiran kedua layanan tersebut memperluas pilihan konektivitas pelayaran internasional sekaligus membuka peluang bagi pengguna jasa untuk memperoleh alternatif jaringan pengiriman barang.

Fajar menyebut penambahan layanan pelayaran menjadi salah satu faktor yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan volume bongkar muat peti kemas.

Modernisasi Peralatan Mengikuti Pertumbuhan Arus

Pertumbuhan arus peti kemas membawa konsekuensi terhadap kesiapan infrastruktur. Terminal tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan jumlah kunjungan kapal, tetapi juga harus memastikan kemampuan peralatan bongkar muat mampu mengikuti perkembangan volume.

Pelindo Terminal Petikemas melakukan penguatan fasilitas melalui pengadaan sejumlah peralatan sepanjang 2026.

Di Terminal Petikemas Surabaya (TPS), perusahaan mengadakan empat unit Quay Container Crane (QCC) dan 14 unit Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG).

Penguatan juga dilakukan di sejumlah terminal lainnya. TPK Semarang memperoleh empat unit QCC, TPK Belawan mendapatkan dua unit QCC dan empat unit RTG, sedangkan TPK Banjarmasin memperoleh empat unit E-RTG.

Sementara itu, pengadaan dua unit QCC untuk TPK Perawang ditargetkan rampung pada Desember 2026.

“Penguatan fasilitas tersebut merupakan bagian dari langkah perusahaan dalam meningkatkan keandalan pelayanan dan memperkuat kapasitas penanganan peti kemas,” kata Fajar.

Selain penambahan peralatan, perusahaan mengoptimalkan perencanaan dan pengendalian operasional, pemanfaatan fasilitas, serta koordinasi dengan pengguna jasa.

Langkah tersebut diperlukan agar peningkatan volume tidak menimbulkan hambatan pada proses sandar kapal, kegiatan bongkar muat, hingga pergerakan peti kemas di dalam terminal.

Ekspor Menjadi Penopang di Tengah Konsumsi Domestik

Dari perspektif pelaku usaha logistik, peningkatan aktivitas perdagangan internasional menjadi perkembangan yang patut dicermati.

Wakil Ketua Umum Bidang Maritim dan Pelabuhan DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), Harry Soetanto, menyambut positif pertumbuhan tersebut. Menurut dia, peningkatan perdagangan internasional menjadi sinyal menggembirakan di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi tekanan.

“Kita sangat gembira. Di dalam proses dinamika ekonomi kita yang sedang sulit, ternyata perdagangan kita tumbuh. Kalau dibandingkan secara year on year, yakni periode Januari-September 2025 dengan Januari-September 2026, pertumbuhan perdagangan internasional mencapai 6,85 persen. Nilainya meningkat dari 14,46 juta pada 2025 menjadi 15,45 juta pada 2026,” ujarnya ketika dihubungi Senin (2/11/2026).

Harry melihat perluasan pasar ekspor, terutama ke kawasan Eropa dan Amerika Selatan, menjadi salah satu faktor yang mendorong aktivitas perdagangan lintas negara.

“Kita menemukan beberapa pasar baru, utamanya di Eropa dan Amerika Selatan. Itu salah satu keberhasilan sehingga terutama ekspor-impor kita naik dibandingkan domestik,” katanya.

Menurut dia, kondisi perdagangan domestik relatif belum bergerak sekuat perdagangan internasional karena konsumsi masyarakat belum menunjukkan peningkatan signifikan.

Sementara itu, sejumlah komoditas seperti produk turunan kelapa sawit, mesin dan peralatan, bahan kimia, serta elektronik turut menjadi bagian dari aktivitas perdagangan internasional.

Dari sisi kesiapan infrastruktur, Harry menilai sejumlah pelabuhan di Pulau Jawa yang melayani kegiatan ekspor dan impor relatif mampu memenuhi kebutuhan pengguna jasa. Pembaruan peralatan bongkar muat menjadi salah satu faktor pendukung.

Namun, kesenjangan kesiapan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah, terutama bagi pelabuhan di kawasan Indonesia timur.

“Secara umum, kalau secara objektif, masih ada beberapa catatan kami. Kami melihat masih bisa mengimbangi. Ini dibuktikan di beberapa terminal yang memperbarui peralatan bongkar muat, terutama yang terbuka untuk perdagangan internasional,” ungkapnya.

“Pelabuhan-pelabuhan di Jawa, khususnya yang melakukan kegiatan importasi dan eksportasi, relatif sudah memenuhi. Tetapi untuk wilayah timur, memang masih cukup jauh,” tambahnya.

Volume Naik Belum Tentu Daya Saing Menguat

Pertumbuhan arus peti kemas tidak serta-merta menggambarkan peningkatan daya saing perdagangan nasional. Ada sejumlah indikator lain yang perlu diperhitungkan, mulai dari nilai perdagangan, efisiensi distribusi, hingga kemampuan produk dalam negeri menciptakan nilai tambah.

Akademisi dan praktisi manajemen rantai pasok Universitas Airlangga, Puspandam Katias, mengingatkan agar kenaikan volume peti kemas tidak dibaca sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan sektor perdagangan.

“Pertumbuhan peti kemas merupakan indikator meningkatnya aktivitas logistik, tetapi belum cukup menjadi bukti meningkatnya daya saing perdagangan nasional,” ujarnya ketika dihubungi Jumat (30/10/2026).

Menurut Puspandam, pertumbuhan tersebut harus dibaca bersama perkembangan ekspor dan impor, komposisi peti kemas isi maupun kosong, serta nilai perdagangan yang dihasilkan.

Dengan demikian, peningkatan arus peti kemas dapat diuji apakah benar-benar mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi dan perdagangan luar negeri, atau lebih banyak dipengaruhi perubahan pola pengiriman dan jaringan distribusi.

Dia juga menyoroti perubahan rute pelayaran internasional, termasuk penggunaan kembali Terusan Suez secara bertahap oleh sejumlah perusahaan pelayaran di tengah risiko keamanan kawasan Laut Merah.

Dinamika tersebut berpotensi memengaruhi jaringan pelayaran, waktu tempuh, biaya pengangkutan, serta pola distribusi barang dalam perdagangan global.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya meningkatkan jumlah peti kemas yang melewati terminal, melainkan memastikan seluruh mata rantai logistik bekerja semakin efisien.

“Tantangan terbesar ke depan adalah menghindari growth without network efficiency. Artinya, volume peti kemas bertambah, tetapi biaya, waktu, dan ketidakpastian distribusi di luar terminal tidak ikut menurun,” ungkapnya.

Peringatan tersebut menjadi penting karena efisiensi logistik tidak berhenti di dermaga. Kelancaran pengangkutan dari dan menuju pelabuhan, kepastian jadwal kapal, ketersediaan armada, serta waktu penyelesaian dokumen turut menentukan daya saing biaya perdagangan.

Jawa Timur Perlu Menjaga Momentum

Dampak pertumbuhan arus peti kemas juga menjadi perhatian pelaku logistik di Jawa Timur. Posisi wilayah ini dalam jaringan perdagangan nasional dan internasional menjadikan konektivitas pelayaran sebagai salah satu faktor penting bagi kelancaran distribusi barang.

Ketua DPW ALFI/ILFA Jawa Timur, Sebastian Wibisono, menilai pertumbuhan arus peti kemas sepanjang Januari-September 2026 memberikan sinyal positif bagi perkembangan perdagangan dan kegiatan logistik di daerah.

“Pertumbuhan arus peti kemas ini menunjukkan bahwa kebutuhan pengiriman barang, terutama untuk kegiatan ekspor dan impor, terus berkembang. Ini menjadi indikasi positif bagi aktivitas perdagangan dan logistik di Jawa Timur,” ujarnya, Senin (2/11/2026).

Menurut dia, bertambahnya konektivitas pelayaran internasional, termasuk kunjungan kapal nonreguler di Terminal Teluk Lamong, memberikan alternatif layanan bagi pelaku usaha.

“Penambahan layanan dan kunjungan kapal ini memberikan lebih banyak pilihan pengiriman bagi pelaku usaha sekaligus membuka peluang untuk menjangkau pasar internasional,” katanya.

Pria yang akrab disapa Wibi ini juga mengapresiasi langkah Pelindo dalam memperkuat kapasitas terminal melalui penambahan fasilitas dan modernisasi peralatan bongkar muat. Salah satunya melalui pengadaan empat unit QCC dan 14 unit RTG di Terminal Petikemas Surabaya.

Namun, dari perspektif pengguna jasa, peningkatan kapasitas fisik harus dibarengi perbaikan kinerja pelayanan secara menyeluruh.

Kecepatan bongkar muat, kepastian jadwal kapal, kelancaran arus keluar masuk peti kemas, hingga struktur biaya logistik menjadi sejumlah aspek yang menentukan manfaat modernisasi terminal bagi dunia usaha.

“Namun, bagi pelaku usaha logistik, yang terpenting adalah bagaimana peningkatan kapasitas tersebut diimbangi dengan kecepatan bongkar muat, kepastian jadwal kapal, kelancaran keluar masuk peti kemas, serta biaya logistik yang kompetitif,” jelas Wibi.

Dia berharap peningkatan arus peti kemas dapat terus diikuti penguatan kualitas layanan dan konektivitas pelayaran.

“Dengan begitu, aktivitas logistik di Jawa Timur dapat berjalan semakin lancar dan mampu mendukung daya saing industri serta perdagangan, baik di pasar domestik maupun internasional,” tuturnya.

Pada akhirnya, pertumbuhan 10,31 juta TEUs bukan sekadar catatan statistik operasional terminal. Angka tersebut menjadi gambaran bergeraknya aktivitas perdagangan yang harus dijawab dengan kesiapan infrastruktur, jaringan pelayaran yang kompetitif, dan efisiensi distribusi.

Sebab, ukuran keberhasilan pelabuhan modern bukan hanya seberapa banyak peti kemas yang dapat ditangani, tetapi juga seberapa cepat, pasti, dan kompetitif barang dapat bergerak dari produsen menuju pasar.