Ali Zainal Abidin, Founder Yayasan Bani Insan Peduli (BIP) saat menggelar konferensi pers di Surabaya
Ali Zainal Abidin, Founder Yayasan Bani Insan Peduli (BIP) saat menggelar konferensi pers di Surabaya, Minggu,(12/9/2026)

SURABAYA | SIGAP88 — Polemik mengenai rencana penyaluran bantuan sosial senilai Rp2 miliar kepada Griya Lansia Malang dan Griya Yatim Sidoarjo memasuki babak baru. Setelah mencuat ke ruang publik dan memunculkan beragam persepsi, Founder Yayasan Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin, akhirnya menyampaikan penjelasan terbuka terkait duduk persoalan yang menurutnya dipicu oleh perbedaan pemahaman mengenai mekanisme penyaluran bantuan.

Polemik tersebut berkembang setelah muncul perbedaan pandangan mengenai mekanisme penyaluran bantuan yang direncanakan bagi Griya Lansia Malang dan Griya Yatim Sidoarjo. Perbedaan persepsi itu kemudian memunculkan beragam informasi di ruang publik hingga mendorong pihak Yayasan Bani Insan Peduli memberikan klarifikasi.

Penjelasan tersebut disampaikan Ali dalam agenda silaturahmi bersama sejumlah awak media di Surabaya, Minggu (12/7/2026). Ia menegaskan bahwa klarifikasi itu dimaksudkan untuk meluruskan informasi yang berkembang sekaligus menghindari kesalahpahaman yang berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kegiatan sosial yang dijalankan berbagai lembaga.

Menurut Ali, sejak awal Yayasan Bani Insan Peduli tidak pernah memiliki niat membatalkan komitmen bantuan yang telah direncanakan melalui program BIP Tour Jatim. Ia justru menilai dinamika yang terjadi berawal dari adanya perbedaan pandangan mengenai standar operasional dalam pelaksanaan program tersebut.

Ali mengatakan bahwa informasi yang menyebut pihaknya membatalkan bantuan tidak sesuai dengan komunikasi yang, menurutnya, berlangsung selama ini.

“Selama ini tidak ada satu pun komunikasi dari kami untuk membatalkan bantuan yang sudah diberikan. Namun, dari pihak Griya Lansia sendiri yang meminta bantuan tersebut dibatalkan karena menganggap ada ketidaksesuaian SOP,” ujar Ali di hadapan awak media.

Meski demikian, Ali mengakui persoalan tersebut masih menyisakan perbedaan versi antara pihak-pihak yang terlibat. Karena itu, ia berharap ruang komunikasi tetap dibuka agar setiap persoalan dapat diselesaikan secara musyawarah tanpa menimbulkan polemik yang berkepanjangan di tengah masyarakat.

Dalam penjelasannya, Ali mengatakan bantuan senilai Rp2 miliar yang ramai diperbincangkan sejak beberapa waktu terakhir bukanlah bantuan yang sejak awal dirancang untuk disalurkan sekaligus dalam bentuk uang tunai. Menurutnya, konsep bantuan tersebut telah disusun melalui tahapan tertentu dan sebagian besar diwujudkan dalam bentuk pembangunan maupun pengadaan kebutuhan yang disesuaikan dengan kebutuhan lembaga penerima.

Karena itu, ia mengaku cukup terkejut ketika dalam proses komunikasi muncul permintaan agar dana bantuan ditransfer langsung ke rekening yayasan penerima. Ali mengungkapkan, mekanisme tersebut berbeda dengan pola penyaluran yang selama ini diterapkan Yayasan Bani Insan Peduli dalam berbagai program sosialnya.

“Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba meminta nomor rekening kepada saya. Tentu saya bertanya-tanya, karena sejak awal konsep bantuan yang kami siapkan tidak seperti itu,” ujar Ali.

Ia menegaskan, setiap bantuan yang disalurkan BIP memiliki prosedur internal yang bertujuan menjaga akuntabilitas penggunaan dana sekaligus memastikan bantuan benar-benar diwujudkan sesuai kebutuhan di lapangan. Karena alasan itulah, menurut Ali, proses penyaluran bantuan tidak selalu dilakukan dalam bentuk transfer dana kepada lembaga penerima.

Selain mekanisme penyaluran, Ali juga menjelaskan adanya kebijakan internal yayasan terkait pencantuman nama pada bangunan atau fasilitas yang seluruh pembiayaannya berasal dari Yayasan Bani Insan Peduli. Kebijakan tersebut, kata dia, bukan muncul dalam polemik kali ini, melainkan telah lama diterapkan pada sejumlah program sosial yang telah selesai dibangun di berbagai daerah.

Kata Ali, penggunaan nama tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada kedua orang tuanya yang menjadi inspirasi lahirnya Yayasan Bani Insan Peduli.

“Salahkah saya jika menyarankan nama mendiang ibunda dan ayahanda pada beberapa tempat yang kami bantu sepenuhnya? Karena ini bagian dari bakti saya sebagai seorang anak. BANI sendiri berarti Bakti Anak Nurani Ibu,” tuturnya.

Ali menambahkan, kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah identitas lembaga penerima bantuan, melainkan sebagai penanda bahwa pembangunan fasilitas tersebut sepenuhnya didukung oleh Yayasan Bani Insan Peduli sesuai dengan ketentuan yang berlaku di internal yayasan.

Di tengah perbedaan pandangan yang mencuat ke ruang publik, Ali mengaku tidak ingin polemik tersebut berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Ia meminta seluruh relawan Yayasan Bani Insan Peduli maupun pihak-pihak yang mengikuti persoalan itu agar tidak saling menyudutkan melalui media sosial ataupun pernyataan yang berpotensi memperkeruh suasana.

Menurutnya, setiap persoalan dalam kegiatan kemanusiaan seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghormati, mengingat tujuan utama seluruh pihak pada dasarnya sama, yakni memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Saya berharap teman-teman relawan tetap tenang dan tidak memperpanjang perdebatan di ruang publik. Mari kita fokus pada kerja-kerja kemanusiaan, karena itu yang jauh lebih penting,” katanya.

Ali juga menegaskan bahwa dirinya tetap menaruh rasa hormat kepada Ketua Yayasan Griya Lansia, Arif Camra. Bahkan, ia menyebut Arif sebagai sosok yang selama ini menjadi tempat belajar dalam berbagai aktivitas sosial.

“Bapak Arif itu guru saya. Saya masih perlu banyak belajar kepada beliau. Saya meyakini persoalan ini hanya karena adanya miskomunikasi yang bisa diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ali berharap hubungan baik yang selama ini terjalin dapat kembali diperkuat melalui dialog. Ia menegaskan bahwa pintu komunikasi tetap terbuka apabila kedua belah pihak ingin mencari titik temu demi keberlangsungan program-program sosial yang memberikan manfaat bagi para lansia maupun anak-anak yatim.

Sebagai bagian dari penjelasannya, Ali menyebut daftar tersebut untuk menjelaskan bahwa kebijakan pencantuman nama tersebut telah diterapkan pada sejumlah program sebelumnya dan bukan kebijakan yang muncul dalam polemik kali ini.

Polemik Bantuan Rp2 Miliar Griya Lansia Malang Klarifikasi Founder BipMenurutnya, kebijakan tersebut telah diterapkan pada sejumlah fasilitas sosial yang seluruh pembangunannya didukung oleh yayasan, di antaranya Istana Tahfidz Ainun Bani di Majalengka, Dapur Ainun di Cirebon, Asrama Tahfidz Ainun Bani di Pacet, Sidoarjo, Masjid BANI di Lamongan, Asrama Umar Syarif di Wonoagung Pondok Rimba, serta Mushalla Ainun Bani di Badur, Sumenep.

Ali menegaskan bahwa seluruh penjelasan yang disampaikannya bertujuan meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat, bukan untuk memperuncing perbedaan pandangan dengan pihak mana pun. Ia berharap polemik tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama agar kerja sama dalam kegiatan sosial ke depan dapat berlangsung lebih baik dan mengedepankan komunikasi yang terbuka.

Menurutnya, semangat utama yang harus dijaga adalah memastikan setiap program kemanusiaan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan, tanpa terpengaruh oleh perbedaan persepsi yang muncul dalam proses pelaksanaannya.

Di akhir pernyataannya, Ali kembali menyampaikan bahwa Yayasan Bani Insan Peduli tetap membuka ruang silaturahmi dan komunikasi dengan seluruh pihak, termasuk pengelola Griya Lansia Malang maupun Griya Yatim Sidoarjo, apabila diperlukan pembahasan lebih lanjut terkait rencana program bantuan tersebut.

Sementara itu, hingga berita ini dipublikasikan, SIGAP88 belum memperoleh keterangan resmi dari pihak pengelola Griya Lansia Malang maupun Griya Yatim Sidoarjo terkait penjelasan yang disampaikan pihak Yayasan Bani Insan Peduli. Redaksi membuka ruang hak jawab dan akan memuat tanggapan dari pihak terkait setelah diperoleh.