JAKARTA | SIGAP88 – Penanganan kelainan tulang belakang seperti skoliosis dan kifosis terus mengalami perkembangan seiring kemajuan teknologi kedokteran. Berbagai inovasi kini memungkinkan tindakan koreksi dilakukan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi, risiko komplikasi yang lebih rendah, serta masa pemulihan yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Teknologi VBT Hadir sebagai Alternatif Modern
Salah satu inovasi yang kini menjadi perhatian di dunia bedah tulang belakang adalah Vertebral Body Tethering (VBT), sebuah teknik modern yang menjadi alternatif pengganti prosedur spinal fusion atau peleburan tulang belakang.
Berbeda dengan metode konvensional yang membuat ruas tulang belakang menjadi kaku, VBT memanfaatkan proses pertumbuhan alami pasien untuk mengoreksi kelengkungan secara bertahap sehingga fleksibilitas tulang belakang tetap dapat dipertahankan.
Teknik tersebut dilakukan melalui pendekatan anterior atau sayatan dari bagian depan maupun samping tubuh. Dokter memasang sekrup titanium pada ruas tulang belakang yang mengalami kelengkungan, kemudian menghubungkannya menggunakan kabel fleksibel (tether) dengan tingkat ketegangan tertentu.
Metode ini dinilai sangat efektif bagi anak maupun remaja penderita skoliosis idiopatik yang masih berada pada masa pertumbuhan, khususnya usia 7–14 tahun.
Presisi Operasi Didukung Teknologi Navigasi Digital
Salah satu dokter yang menerapkan teknik tersebut di Malaysia adalah Dr. Wong Chung Chek, konsultan bedah ortopedi tulang belakang dengan pengalaman lebih dari 25 tahun menangani berbagai kasus deformitas tulang belakang.
Untuk kasus revisi yang kompleks, baik pada skoliosis berat maupun hiperkifosis terfiksasi, ia memanfaatkan Brainlab Navigation System.
“Sistem ini bertindak sebagai GPS real-time bermonitor gambar digital selama operasi berlangsung. Teknologi ini membantu memasang instrumen (pedicle screws) dengan presisi tingkat milimeter pada anatomi tulang belakang yang terdistorsi, sehingga meminimalkan risiko cedera saraf dan mempercepat pemulihan pascaoperasi,” ujar Dr. Wong, Selasa (30/6)
Menurut mantan Ketua AO Spine Asia Pasifik itu, pasien dengan sudut Cobb di bawah 40 derajat masih diprioritaskan menjalani terapi nonbedah.
Pada kasus hiperkifosis dengan kemiringan hingga 90 derajat, tindakan operasi menjadi penting karena dapat memengaruhi fungsi paru-paru, jantung, bahkan lambung.
“Hiperkofosis dengan kemiringan sampai 90 derajat sangat mempengaruhi kerja paru-paru, jantung dan bahkan lambung. Dengan melakukan tindakan atau operasi tulang belakang, koreksi postur yang baik akan memperbaiki kerja organ paru, jantung dan lambung.”
Pengalaman Panjang Menangani Kasus Kompleks
Selama lebih dari dua dekade, konsultan ortopedi tersebut menangani ribuan pasien dengan berbagai kasus, mulai dari skoliosis, kifosis, stenosis spinal, hernia nukleus pulposus hingga operasi revisi tulang belakang.
Dalam praktiknya, ia juga memanfaatkan teknologi Navigasi O-Arm 3D untuk meningkatkan akurasi pemasangan instrumen, memperkecil luka operasi, mengurangi paparan radiasi, serta mempercepat pemulihan pasien.
Selain aktif melayani pasien, ia juga menjadi pengajar, pembimbing calon spesialis, peneliti, serta pembicara pada berbagai forum ilmiah internasional.
Kepercayaan Pasien Indonesia Terus Meningkat
Pengalaman dan kompetensi tersebut membuat banyak pasien dari Indonesia memilih menjalani penanganan di bawah tim medis yang dipimpinnya.
“Ya, sekitar 40 sampai 50 persen pasien dari Indonesia,” tutur Dr. Wong.
Data tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap layanan penanganan deformitas tulang belakang yang ditawarkan.
Konsultasi Awal Dapat Dilakukan dari Indonesia
Perwakilan resmi KPJ Healthcare di Indonesia, Khristina Kencana, mengatakan calon pasien tidak perlu langsung datang ke Malaysia. Konsultasi awal dapat dilakukan secara daring dengan mengirimkan dokumen medis untuk dipelajari terlebih dahulu oleh tim dokter.
“Semua layanan kami bebas biaya alias gratis. Kami akan membantu proses perjalanan berobat lebih mudah, efektif dan efisien; mulai dari pasien sebelum berangkat, selama proses pengobatan hingga kembali ke tanah air,” papar Khristina.
Masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi layanan WhatsApp resmi KPJ Healthcare Indonesia di +62 812 8962 2999.

















