JAKARTA | SIGAP88 — Kepercayaan pasien Indonesia terhadap layanan bedah ortopedi di Malaysia terus meningkat. Salah satu nama yang menjadi rujukan adalah dr. Lee Woo Guan, dokter spesialis ortopedi senior sekaligus Konsultan Utama di KPJ Kuching Specialist Hospital, Sarawak, yang dikenal memiliki pengalaman panjang menangani operasi penggantian sendi dan cedera olahraga.
Selama lebih dari 25 tahun berpraktik, dr. Lee telah menangani ribuan pasien dengan berbagai gangguan tulang dan sendi. Dalam tiga tahun terakhir pascapandemi, ia tercatat melakukan lebih dari 2.500 tindakan operasi, dengan lebih dari separuh pasien berasal dari Indonesia.
Kepercayaan tersebut tidak lepas dari pengalamannya dalam menerapkan teknik bedah minimal invasif yang dipadukan dengan teknologi robotik modern untuk meningkatkan ketepatan tindakan sekaligus mempercepat proses pemulihan pasien.
Tak sedikit pasien Indonesia menjulukinya sebagai dokter ortopedi “Bertangan Dewa”, berkat keberhasilannya menangani berbagai kasus yang sebelumnya dinilai sulit.
Ditempa di Berbagai Pusat Pendidikan Dunia
Karier dr. Lee dibangun melalui pendidikan dan pelatihan di sejumlah institusi kedokteran ternama dunia. Ia merupakan lulusan University of Malaya, kemudian melanjutkan pendidikan Magister Bedah di National University of Singapore serta meraih Fellowship Royal College of Surgeons of Edinburgh.
Komitmennya dalam mengembangkan ilmu bedah ortopedi juga membawanya mengikuti berbagai program fellowship di Inggris dan Amerika Serikat, termasuk di Royal Infirmary of Edinburgh dan Princess Margaret Hospital.
Dedikasinya di bidang ortopedi mengantarkan dr. Lee meraih sejumlah penghargaan internasional, di antaranya GlobalHealth Asia Pacific Awards 2025 di Bangkok serta Healthcare Asia Awards 2026 di Singapura.
Presisi Lebih Tinggi, Pemulihan Lebih Cepat
Dalam praktiknya, dr. Lee memanfaatkan teknologi robotik seperti ROSA dan VELYS yang dikombinasikan dengan pemetaan anatomi tiga dimensi serta teknologi 3D printing.
Pendekatan tersebut membantu dokter menentukan posisi implan secara lebih akurat sesuai kondisi anatomi masing-masing pasien sehingga hasil operasi menjadi lebih presisi.
“Melalui pemindaian tiga dimensi sebelum operasi, kami dapat merencanakan tindakan dengan lebih detail sehingga ukuran dan posisi implan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasien,” jelas dr. Lee, Senin(29/6)
Menurutnya, penggunaan teknologi robotik juga memungkinkan sayatan lebih kecil, mengurangi perdarahan, meminimalkan kerusakan jaringan, dan mempercepat proses rehabilitasi.
“Sebagian besar pasien bahkan sudah dapat berjalan dalam waktu sekitar tiga hari setelah operasi,” katanya.
Keahlian Dokter Tetap Menjadi Penentu
Meski teknologi terus berkembang, dr. Lee menegaskan bahwa robot hanyalah alat bantu untuk meningkatkan akurasi tindakan medis.
“Robot tidak bekerja sendiri. Seluruh analisis, perencanaan hingga keputusan selama operasi tetap berada di tangan dokter. Karena itu pengalaman dan keterampilan seorang ahli bedah tetap menjadi faktor yang paling menentukan keberhasilan operasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguasaan teknologi yang baik justru menjadi syarat penting agar manfaat robotik benar-benar dapat dirasakan pasien.
Sementara itu, perwakilan resmi KPJ Healthcare di Indonesia, Khristina Kencana, mengatakan masyarakat Indonesia dapat berkonsultasi secara daring dengan dr. Lee sebelum menjalani pengobatan di Malaysia. Seluruh proses pendampingan, mulai konsultasi awal, keberangkatan, pengobatan hingga kepulangan pasien ke Indonesia, diberikan tanpa biaya layanan.

















