
PAMEKASAN | SIGAP88 — Maulid Nabi Muhammad SAW tak hanya dirayakan melalui panggung, lantunan selawat dan ceramah. Di Palengaan, Pamekasan, momentum tersebut diterjemahkan dalam bentuk kepedulian sosial melalui pembagian makanan gratis, santunan anak yatim dan perhatian kepada guru ngaji.
Sebanyak 10 ribu porsi makanan gratis disiapkan dalam peringatan Maulid Nabi yang digelar di Kecamatan Palengaan, Sabtu (12/9/2026). Ratusan anak yatim dan guru ngaji se-Kecamatan Palengaan juga menerima tali asih berupa santunan, sembako dan uang tunai.
Kegiatan tersebut dikemas dalam Gebyar Budaya dengan menghadirkan empat kelompok musik daul, lima drum band, Samman Jidur dan Tari Pecut. Ribuan warga dari berbagai wilayah di Kecamatan Palengaan turut memadati Lapangan Garuda.
Di tengah kemeriahan itu, pesan yang dibawa cukup sederhana: Maulid tidak cukup hanya dirayakan, tetapi semangat keteladanan Rasulullah juga perlu diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.
Founder Bashra BIP, Ali Zainal Abidin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
Ia menyebut Central 88 Gold dibangun dengan semangat kepedulian terhadap anak yatim dan kaum dhuafa.
“Kami ingin menebar manfaat melalui makanan gratis, tali asih untuk anak yatim dan guru ngaji. Ini adalah wujud kecil kepedulian kami di bulan Maulid,” katanya.
Pembagian makanan menjadi salah satu bagian utama dalam kegiatan tersebut. Di saat yang sama, perhatian juga diberikan kepada anak yatim dan guru ngaji melalui pemberian tali asih.
Guru ngaji menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian karena perannya dalam pendidikan keagamaan di tengah masyarakat.
Maulid Diterjemahkan Menjadi Kepedulian
Ketua MWCNU Palengaan, KH Muchlis Nasir, mengatakan peringatan Maulid Nabi semestinya tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.
Menurutnya, kecintaan Rasulullah SAW kepada anak yatim dan kepedulian terhadap sesama perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan masyarakat.
“Maulid bukan hanya seremonial. Dengan gebyar budaya dan makan gratis ini kita wujudkan semangat berbagi, sekaligus memuliakan guru ngaji dan menyantuni anak yatim sebagai bentuk cinta kepada penerus perjuangan Nabi,” ujarnya.
Kemeriahan sebuah perayaan memang mudah terlihat. Namun, nilai yang lebih penting adalah manfaat yang dapat dirasakan masyarakat setelah acara berlangsung.
Di Palengaan, kemeriahan Maulid berjalan beriringan dengan aksi sosial. Sepuluh ribu porsi makanan dibagikan, sementara ratusan anak yatim dan guru ngaji mendapat tali asih.
Gebyar budaya juga menjadi bagian dari perayaan. Musik daul, drum band, Samman Jidur dan Tari Pecut menghadirkan kesenian masyarakat dalam momentum keagamaan tersebut.
Perpaduan itu membuat peringatan Maulid tidak hanya menjadi ruang berkumpul dan merayakan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat ukhuwah serta kepedulian sosial.
Sebab, keteladanan tidak cukup hanya dibicarakan dari atas panggung. Ia menjadi lebih bermakna ketika diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dirasakan orang lain.
Di Palengaan, pesan itu diwujudkan melalui hal-hal sederhana: berbagi makanan, menyantuni anak yatim, menghargai guru ngaji dan menghidupkan budaya masyarakat.















