BPRS Bhakti Sumekar Setor Rp7,2 Miliar ke PAD Sumenep, Total Kontribusi Sejak 2002 Tembus Rp117 Miliar

0
276
Direktur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar
Direktur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar

SUMENEP | SIGAP88 — Kontribusi badan usaha milik daerah (BUMD) terhadap pendapatan daerah kembali menjadi sorotan. PT BPRS Bhakti Sumekar (Perseroda) mencatatkan setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumenep sekitar Rp7,2 miliar pada 2026. Jika dihitung sejak pertama kali berdiri pada 2002, total kontribusi bank milik pemerintah daerah tersebut telah mencapai Rp117 miliar.

Capaian itu memperlihatkan peran BPRS Bhakti Sumekar tidak hanya sebagai lembaga intermediasi keuangan yang melayani kebutuhan masyarakat, tetapi juga sebagai salah satu sumber penerimaan bagi kas daerah.

Direktur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, menjelaskan bahwa perkembangan perusahaan tercermin dari peningkatan dana yang dikelola. Saat awal berdiri pada 2002, BPRS Bhakti Sumekar memiliki dana awal sebesar Rp40 miliar. Pada 2026, nilainya disebut telah mencapai Rp173 miliar.

“Tahun 2002 BPRS berdiri mempunyai dana awal 40 miliar rupiah dan di tahun 2026 ini BPRS Bhakti Sumekar memiliki dana sebesar Rp173 miliar,” kata Hairil Fajar saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (2/11/2026).

Menurut Hairil, selama perjalanan operasionalnya hingga 2026, BPRS Bhakti Sumekar telah menyetorkan total Rp117 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep sebagai PAD.

“BPRS Bhakti Sumekar telah menyetor Rp117 miliar, jadi sisanya sekitar Rp56 miliar lagi,” jelasnya.

Laba Bersih Menjadi Dasar Setoran PAD

Untuk tahun ini, setoran PAD sekitar Rp7,2 miliar dihitung berdasarkan porsi 55 persen dari laba bersih perusahaan.

Hairil memberikan ilustrasi, apabila laba bersih perusahaan mencapai Rp13 miliar, maka 55 persen dari nilai tersebut menjadi bagian yang disetorkan kepada pemerintah daerah.

“Apabila laba bersih mencapai 13 miliar maka Rp13 miliar kali 55 persen menjadi Rp7 miliar,” ujarnya.

Besarnya kontribusi tersebut sekaligus menempatkan kinerja keuangan perusahaan sebagai salah satu faktor penting dalam mendukung penerimaan daerah. Semakin baik kemampuan perusahaan menghasilkan laba, semakin besar pula potensi kontribusinya terhadap PAD, sesuai dengan ketentuan pembagian laba yang berlaku.

Perluas Pasar Lewat Gadai Emas dan Pendekatan Pelaku Usaha

Untuk menjaga kinerja bisnis, manajemen BPRS Bhakti Sumekar menjalankan sejumlah strategi pemasaran. Salah satunya melalui promosi layanan gadai emas di setiap kantor cabang dengan memberikan hadiah langsung kepada masyarakat yang menggunakan layanan tersebut.

Selain mengembangkan produk, perusahaan juga mendorong petugas lapangan untuk mendatangi pelaku usaha di wilayah kerja masing-masing. Data kunjungan dan profil pelaku usaha kemudian dihimpun ke dalam sistem perusahaan sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan layanan.

“Di setiap cabang kami melakukan promosi setiap masyarakat yang melakukan gadai emas, mendapatkan hadiah langsung, serta mendata kunjungan ke setiap pelaku usaha di wilayah kerjanya untuk merekap masing-masing pelaku usaha dimasukkan ke sistem,” ujar Hairil.

Perusahaan juga menerapkan program kompensasi bagi penerima kredit. Menurut Hairil, kompensasi tersebut diberikan dalam bentuk nominal yang langsung masuk ke rekening nasabah.

“Setiap penerima kredit akan dapat kompensasi berupa nominal yang langsung masuk ke rekeningnya,” terangnya.

Strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan perusahaan dengan masyarakat sekaligus memperluas basis nasabah, terutama dari kalangan pelaku usaha yang membutuhkan akses layanan keuangan.

Dorong Budaya Menabung Sebelum Mengakses Pembiayaan

Di sisi lain, BPRS Bhakti Sumekar berupaya membangun kebiasaan menabung di tengah masyarakat. Petugas didorong untuk mengajak pelaku usaha membuka rekening dan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin.

Bagi perusahaan, aktivitas menabung juga menjadi salah satu cara untuk mengenali pola pengelolaan keuangan calon nasabah. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan ketika masyarakat mengajukan pembiayaan.

“Kami mendorong agar masyarakat memiliki tabungan, dan mengajak masyarakat untuk menabung, maka masyarakat telah aktif menabung dari sedikit penghasilan usahanya, kami dapat menilai karakteristik keuangan dari calon nasabah,” pungkas Hairil.

Saat ini, BPRS Bhakti Sumekar memiliki 31 kantor, baik kantor pusat maupun cabang, yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan Kabupaten Sumenep serta Kabupaten Pamekasan. Perusahaan menyebut memiliki total 2.880 nasabah.

Jaringan kantor yang menjangkau wilayah kepulauan menjadi bagian penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal, termasuk tabungan dan pembiayaan bagi pelaku usaha.

Dengan kontribusi PAD yang telah mencapai Rp117 miliar sejak 2002, tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan pertumbuhan usaha, memperluas akses pembiayaan yang sehat, serta memastikan kinerja perusahaan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.