
PAMEKASAN | SIGAP88 – Jauh sebelum nama Pamekasan dikenal seperti sekarang, wilayah ini masih disebut Pamelingan. Dari daerah inilah mata rantai pemerintahan Pamekasan bermula, ketika Ki Wonorono memimpin sebagai penguasa awal yang dalam tradisi sejarah daerah disebut masih memiliki garis keturunan Raja Majapahit, Wikramawardhana (1389–1429). Berdasarkan catatan sejarah yang digunakan Pemerintah Kabupaten Pamekasan, ketika pengaruh Majapahit mulai melemah pada sekitar 1478, Pamelingan berkembang sebagai wilayah yang berdiri sendiri dan dipimpin oleh Ki Wonorono. Sejak masa pemerintahannya, kesinambungan pemerintahan di Pamelingan terus berlanjut hingga akhirnya berkembang menjadi Pamekasan.
📌 Ringkasan Sejarah
• Nama wilayah awal: Pamelingan
• Penguasa awal: Ki Wonorono
• Penerus: Nyi Banu (Ratu Pamelingan)
• Generasi berikutnya: Pangeran Bonorogo (Nugroho)
• Penerus selanjutnya: Panembahan Ronggosukowati (Raden Aryo Seno)
• Tonggak penting: Perpindahan pusat pemerintahan ke cikal bakal Kota Pamekasan
• Hari Jadi Pamekasan: 3 November 1530
Sepeninggal Ki Wonorono, kepemimpinan diteruskan oleh putrinya, Nyi Banu yang dikenal sebagai Ratu Pamelingan. Pemerintahan kemudian beralih kepada putranya, Pangeran Bonorogo atau Nugroho. Masa pemerintahannya berlangsung pada periode transisi ketika pengaruh Majapahit terus surut, sementara ajaran Islam mulai berkembang di berbagai wilayah Madura.
Meski sumber sejarah mengenai pemerintahannya tidak banyak, dalam tradisi lokal ia dikenang sebagai pemimpin yang menjaga kesinambungan pemerintahan hingga memasuki babak baru sejarah daerah.
Di tengah masyarakat Pamekasan berkembang sejumlah cerita rakyat mengenai Pangeran Bonorogo. Salah satu kisah yang diwariskan secara turun-temurun menyebutkan bahwa beliau belum sepenuhnya memeluk Islam ketika wafat. Dalam cerita tersebut juga dikisahkan bahwa sebelum meninggal ia berpesan akan terjadi guncangan tanah sebagai pertanda kepergiannya.
Tradisi lisan itu kemudian dikaitkan dengan munculnya sebutan Pangeran Lendu, yang diyakini berasal dari kata lindu atau gempa.
Karena bersumber dari tradisi lisan, kisah tersebut belum dapat diverifikasi melalui sumber sejarah primer sehingga diposisikan sebagai bagian dari folklor masyarakat Pamekasan.

Menurut tradisi sejarah Pamekasan, meski Pangeran Bonorogo diyakini belum sepenuhnya memeluk Islam, ia tetap memberikan ruang kepada putranya, Raden Aryo Seno, untuk mendalami ajaran Islam. Dalam sejumlah catatan sejarah daerah disebutkan bahwa Raden Aryo Seno menimba ilmu agama di pusat penyebaran Islam di Giri, yang pada masa itu menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Jawa.
Ketika usia Pangeran Bonorogo semakin lanjut, tampuk kepemimpinan kemudian diserahkan kepada Raden Aryo Seno yang kelak dikenal sebagai Panembahan Ronggosukowati.
Pada masa pemerintahannya, struktur pemerintahan mulai berkembang seiring semakin kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat. Ia juga memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal Kota Pamekasan.
Periode pemerintahannya kemudian dijadikan dasar oleh Pemerintah Kabupaten Pamekasan dalam menetapkan 3 November 1530 sebagai Hari Jadi Kabupaten Pamekasan.
Jejak tokoh-tokoh awal Pamelingan hingga kini masih dapat ditemukan di kompleks pemakaman yang dikenal masyarakat sebagai Bujuk Lenduh di Kota Pamekasan. Di kompleks tersebut terdapat makam yang oleh masyarakat diyakini sebagai tempat peristirahatan Pangeran Bonorogo, istrinya Siti Hasanatul Jannah, serta Ki Adipati Pramono yang disebut sebagai ayah Pangeran Bonorogo. Situs ini menjadi salah satu pengingat keterkaitan antara catatan sejarah daerah dan tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.

Perjalanan dari Pamelingan menuju Pamekasan tidak berlangsung dalam satu generasi. Kepemimpinan Ki Wonorono, Nyi Banu, Pangeran Bonorogo, hingga Panembahan Ronggosukowati menjadi mata rantai yang saling menyambung dalam membentuk pemerintahan awal Pamekasan. Di antara catatan sejarah dan tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat, nama Pangeran Bonorogo tetap menempati posisi penting sebagai penghubung antara berakhirnya pengaruh Majapahit dan tumbuhnya pemerintahan bercorak Islam yang kemudian menjadi fondasi lahirnya Pamekasan sebagaimana dikenal hingga sekarang.
Catatan Redaksi
Artikel ini merupakan bagian pertama dari seri Jejak Sejarah Pamekasan yang disusun berdasarkan catatan sejarah daerah, tradisi lokal, dan penelusuran lapangan SIGAP88.













