Akmalul firdaus Pamekasan
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Pamekasan, Akmalul Firdaus

PAMEKASAN | SIGAP88 — Pemilihan Kacong Cebbhing dan Putra-Putri Batik Pamekasan kembali digelar setelah sempat vakum beberapa waktu. Melalui ajang tersebut, Pemerintah Kabupaten Pamekasan ingin menyiapkan generasi muda sebagai duta budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang mampu membawa nama daerah ke tingkat regional maupun nasional.

Riuh tepuk tangan bergema di Lapangan Pendopo Agung Ronggosukowati, Sabtu (11/7), ketika puluhan finalis melangkah percaya diri di hadapan dewan juri dan masyarakat. Bagi sebagian orang, malam itu mungkin hanya menjadi ajang pemilihan Kacong Cebbhing serta Putra-Putri Batik Pamekasan 2026. Namun bagi Pemerintah Kabupaten Pamekasan, momentum tersebut menandai kebangkitan kembali panggung pembinaan generasi muda yang sempat terhenti beberapa waktu.

Ajang yang diselenggarakan Disporapar Pamekasan itu mempertemukan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum dalam satu panggung pembinaan yang memadukan kecakapan komunikasi, wawasan budaya, dan kepemimpinan.

Peserta yang datang dari kalangan pelajar SMP, SMA sederajat, mahasiswa, hingga masyarakat umum dari berbagai wilayah di Madura dan Jawa Timur memperlihatkan tingginya antusiasme generasi muda untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah melalui jalur kreativitas, budaya, dan pariwisata.

Di balik kemeriahan panggung, tersimpan harapan besar agar ajang tersebut tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang lahirnya generasi muda yang berkarakter, berwawasan, dan siap membawa nama Pamekasan semakin dikenal di berbagai daerah.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Pamekasan, Akmalul Firdaus, menjelaskan penyelenggaraan ajang tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperkuat peran generasi muda sebagai mitra pembangunan. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi simbol atau ikon daerah, tetapi juga mampu berkontribusi dalam memperkenalkan potensi wisata, melestarikan budaya lokal, sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Menurutnya, konsep penyelenggaraan tahun ini dirancang lebih terintegrasi dengan menggabungkan beberapa ajang pemilihan dalam satu rangkaian kegiatan. Langkah tersebut menjadi implementasi kebijakan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2026, tanpa mengurangi kualitas pembinaan maupun proses seleksi terhadap para peserta.

“Kegiatan ini juga merupakan wujud penerapan prinsip efisiensi anggaran APBD 2026. Melalui penyelenggaraan terpadu ini, kualitas pembinaan tetap terjaga sekaligus tercipta sinergi program yang lebih efektif dan berdampak luas bagi promosi pariwisata, budaya, serta industri batik Pamekasan,” ujar Akmalul Firdaus.

Akmalul menuturkan, para finalis yang terpilih nantinya dipersiapkan untuk menjadi representasi daerah dalam berbagai agenda promosi, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Mereka diharapkan mampu membangun citra positif Pamekasan melalui kemampuan berkomunikasi, wawasan kebudayaan, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap berbagai isu pembangunan daerah.

Lebih dari sekadar kompetisi, proses seleksi tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas lokal. Pemerintah daerah berharap lahir generasi muda yang tidak hanya mengenal warisan budaya dan batik Pamekasan, tetapi juga mampu mengembangkannya menjadi kekuatan promosi yang memberi nilai tambah bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Bupati Pamekasan Kholilurrahman
Bupati Pamekasan Kholilurrahman

Komitmen pemerintah daerah itu mendapat penegasan langsung dari Bupati Pamekasan Kholilurrahman yang hadir membuka malam puncak pemilihan.

Di hadapan ratusan tamu undangan dan masyarakat yang memadati arena kegiatan, Bupati Pamekasan Kholilurrahman menegaskan bahwa para finalis yang tampil pada malam tersebut merupakan generasi muda pilihan yang telah melalui proses pembinaan. Karena itu, ia mengajak masyarakat melihat ajang tersebut sebagai investasi sumber daya manusia, bukan sekadar kompetisi penampilan.

Menurutnya, ruang-ruang pembinaan seperti Kacong Cebbhing dan Putra-Putri Batik memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, serta jiwa kepemimpinan generasi muda yang kelak akan menjadi bagian dari pembangunan daerah.

“Kami yakin, jika kemampuan yang ditunjukkan ini terus dikembangkan hingga ke jenjang perguruan tinggi, mereka akan menjadi kekuatan besar untuk membangun Pamekasan nanti,” tegas Kholilurrahman.

Bupati menilai, potensi yang dimiliki para peserta harus terus dipupuk melalui pendampingan dan kesempatan untuk tampil di berbagai forum promosi daerah. Dengan bekal wawasan, karakter, dan kecintaan terhadap budaya lokal, mereka diharapkan mampu menjadi duta yang membawa citra positif Pamekasan di tingkat regional maupun nasional.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak memandang ajang tersebut dari sisi seremonial semata. Menurutnya, keberhasilan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas generasi muda yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman.

Kehadiran Duta Wisata Provinsi Jawa Timur bersama para duta wisata dari berbagai kabupaten dan kota di Madura turut memberi warna tersendiri dalam malam puncak pemilihan tersebut. Pertemuan para representasi daerah itu menjadi ruang membangun jejaring promosi yang dinilai penting untuk memperkuat posisi Madura sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Jawa Timur.

Bupati Kholilurrahman berharap sinergi antardaerah tidak berhenti pada seremoni malam pemilihan. Menurutnya, kolaborasi antarduta wisata dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan budaya, tradisi, kuliner, hingga batik khas Pamekasan kepada masyarakat yang lebih luas.

Ia mengungkapkan, ajang Kacong Cebbhing dan Putra-Putri Batik merupakan agenda tahunan yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Pamekasan sebelum akhirnya sempat terhenti. Pemerintah daerah kini berkomitmen menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan konsep yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, sehingga mampu melahirkan duta-duta muda yang tidak hanya berprestasi di atas panggung, tetapi juga aktif mempromosikan potensi daerah melalui berbagai media dan ruang publik.

Lebih jauh, menurut Bupati, pembinaan generasi muda melalui jalur budaya menjadi salah satu langkah preventif menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks. Ketika anak-anak muda diberi ruang untuk berkarya, berprestasi, dan menunjukkan identitas daerahnya, mereka memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif serta menjauh dari berbagai perilaku menyimpang.

“Pemilihan ini juga menjadi jalan positif mengarahkan minat generasi muda, sekaligus melindungi mereka dari bahaya kenakalan remaja, narkoba, serta masalah sosial lainnya yang saat ini mengancam,” pungkas Kholilurrahman.

Hidupnya kembali ajang Kacong Cebbhing dan Putra-Putri Batik Pamekasan menjadi penanda bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari keseriusan menyiapkan sumber daya manusia yang berkarakter, berdaya saing, dan memiliki kebanggaan terhadap identitas daerahnya sendiri.

Melalui pembinaan yang berkelanjutan, para duta muda diharapkan mampu menjadi jembatan antara kekayaan budaya lokal dengan kebutuhan promosi di era digital. Mereka tidak hanya membawa nama Pamekasan dalam berbagai ajang, tetapi juga berperan memperkenalkan destinasi wisata, mengangkat nilai batik sebagai warisan budaya, serta mendorong berkembangnya sektor ekonomi kreatif yang menjadi salah satu kekuatan baru daerah.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial, panggung Kacong Cebbhing serta Putra-Putri Batik bukan lagi sekadar ajang memilih ikon daerah. Lebih dari itu, ia menjadi ruang bagi Pamekasan menyiapkan generasi yang kelak akan berbicara tentang daerahnya dengan pengetahuan, kebanggaan, dan karya. Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya lahir dari pembangunan fisik, tetapi juga dari manusia-manusia yang tumbuh bersama identitas budayanya.