SURABAYA | SIGAP88 — Keluhan flu pada anak di Surabaya meningkat dalam sepekan terakhir. Lonjakan itu mulai terasa di sejumlah fasilitas kesehatan, terutama pada layanan anak hingga ruang gawat darurat rumah sakit.
Di RS Husada Utama Surabaya, peningkatan pasien bahkan membuat kapasitas ruang perawatan pediatrik penuh. Sebanyak 44 tempat tidur yang tersedia dalam satu lantai telah terisi sehingga sebagian pasien harus ditempatkan di lantai lain.
Direktur Utama RS Husada Utama Surabaya, dr. Didi D. Dewanto, mengatakan kondisi tersebut terjadi seiring bertambahnya pasien anak dengan keluhan batuk, pilek dan demam.
“Satu lantai ada 44 kapasitas maksimal. Jadi sampai kita oper-oper lantai lain. Sampai gunakan lantai-lantai atas,” kata Didi di RS Kemenkes Surabaya, dikutip Jumat (18/9/2026).
Kelompok anak usia 2 hingga 15 tahun disebut menjadi pasien yang paling banyak mengalami keluhan tersebut.
Meski demikian, peningkatan kasus itu belum otomatis menunjukkan adanya infeksi influenza dengan varian tertentu. Didi menyebut tipe virus yang beredar masih belum dipastikan sebagai virus influenza tipe A.
Dari pola pelayanan yang berjalan, sebagian besar pasien tidak membutuhkan perawatan inap. Penanganan dilakukan sesuai kondisi klinis pasien dan dapat berlangsung relatif cepat.
“Enggak rawat inap, biasanya penanganannya cepat. Jaga kebersihan, hidup sehat, pakai masker,” ujarnya.
Rumah Sakit Tipe A Belum Melihat Lonjakan Tinggi
Kondisi berbeda terlihat di RS Kemenkes Surabaya. Direktur RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha M. L. Siahaan, mengatakan peningkatan pasien flu tidak terlihat setinggi di fasilitas kesehatan lain.
Menurut Martha, karakteristik rumah sakit tipe A membuat sebagian masyarakat memilih mendapatkan penanganan awal di fasilitas kesehatan tingkat bawah, termasuk puskesmas maupun rumah sakit rujukan sebelumnya.
“Mungkin karena kelas A, jadi lebih banyak di kelas di bawahnya atau puskesmas,” tutur Martha.
Perbedaan tingkat kunjungan tersebut menunjukkan bahwa tingginya keluhan flu tidak selalu tercermin dalam satu rumah sakit. Distribusi pasien sangat bergantung pada pola rujukan dan pilihan fasilitas kesehatan masyarakat.
Dinkes Surabaya: Belum Ada Kasus Berat
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Surabaya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan penyakit dengan gejala flu di wilayah kota.
Kepala Dinkes Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, membenarkan adanya peningkatan keluhan flu yang ditemukan pada sejumlah puskesmas dan rumah sakit.
Namun, hingga pemantauan dilakukan, Dinkes Surabaya belum menemukan pasien dengan gejala berat yang membutuhkan perawatan inap akibat kondisi tersebut.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala, tetapi juga tidak perlu panik. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama apabila keluhan mulai muncul atau kondisi anak membutuhkan penanganan medis.
“Faskes kita siap. Jika ada keluhan, silakan periksa ke puskesmas terdekat terlebih dahulu,” kata Billy.
Di tengah meningkatnya keluhan flu pada anak, perhatian utama saat ini bukan hanya pada jumlah pasien, tetapi juga memastikan kapasitas layanan kesehatan tetap mampu menangani kebutuhan masyarakat.
Kebersihan, pola hidup sehat, penggunaan masker ketika sakit serta pemeriksaan sejak munculnya keluhan menjadi langkah yang ditekankan untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.


















