Gubernur Jatim Dorong Penguatan SDM melalui Beasiswa dan Riset Pesantren

0
228
Gubernur Jatim Khofifah saat kegiatan beasiswa dan riset pesantren 2026
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri Studium Generale penerima Beasiswa LPPD 2026 sekaligus meluncurkan Pusat Riset Pesantren Jawa Timur di Surabaya, Kamis (10/9/2026).

SURABAYA | SIGAP88 — Pesantren di Jawa Timur didorong tidak lagi hanya menjadi tempat berlangsungnya pendidikan keagamaan, tetapi ikut mengambil peran dalam menghasilkan ilmu pengetahuan dan penelitian.

Arah tersebut mengemuka saat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri Studium Generale mahasiswa dan mahasantri baru penerima Beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 sekaligus meluncurkan Pusat Riset Pesantren Jawa Timur di Surabaya, Kamis (10/9/2026).

Bagi Pemprov Jatim, penguatan pendidikan dan riset pesantren merupakan bagian dari investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Beasiswa tidak hanya diarahkan agar penerima dapat menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.

“Maka semua yang ada di sini itu selalu karya. Dari mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ini,” kata Khofifah.

1.100 Penerima Beasiswa Tahun 2026

Program Beasiswa Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur tahun 2026 menyediakan kuota sebanyak 1.100 penerima.

Program tersebut mencakup sejumlah jenjang dan lembaga pendidikan, mulai S1, S2, S3, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, Ma’had Aly hingga Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Beasiswa LPPD diselenggarakan melalui kerja sama dengan puluhan perguruan tinggi mitra. Tahun ini, program tersebut juga memperluas jalur afirmasi pada bidang Science, Technology, Engineering, Economics, and Mathematics (STEM).

Langkah itu diarahkan untuk memperluas pilihan pendidikan dan profesi bagi lulusan pesantren agar tidak berhenti pada bidang keilmuan yang selama ini identik dengan pendidikan keagamaan.

Khofifah menilai perubahan zaman menuntut generasi muda memiliki penguasaan keilmuan yang lebih beragam.

“Era sekarang adalah era STEM. Karena itu, pesantren harus mampu mengikuti perkembangan zaman dengan memperluas bidang pendidikan dan profesi bagi para lulusannya,” ujarnya.

Namun, penguasaan sains dan teknologi, menurutnya, tetap harus berjalan bersama pembentukan karakter dan penguatan spiritualitas.

Melalui skema tersebut, lulusan pesantren diharapkan mampu memasuki berbagai bidang strategis, termasuk sains, teknologi dan ekonomi, tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.

“Melalui program beasiswa ini, kita ingin melahirkan generasi pesantren yang unggul di bidang sains, teknologi, ekonomi, sekaligus tetap memiliki karakter Islam moderat. Dengan begitu, Jawa Timur dapat terus menjadi episentrum Islam moderat di Indonesia,” kata Khofifah.

7.796 Penerima Manfaat

Program beasiswa LPPD sejak diluncurkan telah mencatat 7.796 penerima manfaat.

Sebanyak 2.395 penerima telah menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana, 1.345 menyelesaikan jenjang magister, dan 75 penerima menempuh jenjang doktor.

Sementara itu, 125 penerima tercatat telah menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Program tersebut juga mulai menunjukkan keluaran dalam bentuk karya ilmiah. Sejak 2022, mahasiswa jenjang doktor penerima beasiswa telah menghasilkan 170 karya ilmiah.

Adapun mahasiswa magister di Mesir ditargetkan menghasilkan 30 buku yang mengangkat berbagai literasi dan kajian kitab.

Angka tersebut menunjukkan bahwa program beasiswa tidak semata berbicara tentang jumlah penerima, tetapi juga diarahkan menghasilkan pengetahuan dan karya yang dapat memberikan manfaat lebih luas.

Pesantren Didorong Menjadi Subjek Riset

Semangat menghasilkan pengetahuan kemudian diperluas melalui peluncuran Pusat Riset Pesantren Jawa Timur.

Pusat riset tersebut diarahkan menjadi ruang untuk mendokumentasikan, mengembangkan dan memperkuat berbagai kekayaan intelektual yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren.

Khofifah mengatakan masih banyak karya keilmuan ulama dan pesantren yang belum terdokumentasi secara optimal. Padahal, karya-karya tersebut merupakan bagian dari kekayaan intelektual yang penting untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, karya pesantren dinilai tidak cukup hanya disimpan sebagai arsip. Pengetahuan tersebut perlu dikembangkan, diteliti, dipublikasikan dan diolah menjadi sumber pengetahuan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penguatan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi dan berbagai pihak terkait.

Kolaborasi diharapkan tidak hanya memperkuat penelitian, tetapi juga dokumentasi, publikasi serta pengembangan keilmuan pesantren dengan tetap menjaga basis sanad sekaligus memenuhi standar akademik.

Ketua LPPD Jatim mengatakan, arah program beasiswa kini perlu dilihat lebih jauh dari sekadar membuka akses pendidikan tinggi.

“Melalui Program Beasiswa LPPD ini, kita tidak hanya memberikan akses pendidikan tinggi kepada mahasiswa dan mahasantri, tetapi juga mendorong lahirnya generasi pesantren yang mampu menghasilkan penelitian dan pengetahuan,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan riset juga menjadi bagian dari perubahan posisi pesantren dalam dunia penelitian.

“Jika sebelumnya pesantren lebih banyak menjadi objek penelitian, kini kita dorong pesantren menjadi subjek yang menghasilkan karya ilmiah dan memberikan kontribusi bagi pembangunan,” katanya.

Hingga kini, kalangan pesantren telah menghasilkan 40 hasil penelitian. Capaian tersebut menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat Pusat Riset Pesantren Jawa Timur.

Pendidikan Pesantren Menuju Jejaring Global

Pengembangan sumber daya manusia juga diperkuat melalui perluasan kerja sama pendidikan dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Salah satunya melalui kerja sama dengan King’s College London dalam pengembangan program Digital Future dan Digital Economy, serta rencana pengembangan program Advanced Cyber Security dan Digital Law.

Bagi Pemprov Jatim, jejaring tersebut diperlukan agar generasi muda tidak hanya memiliki basis keilmuan yang kuat, tetapi juga mampu menghadapi perubahan teknologi dan persaingan global.

“Kalau kita mau bersiap, Indonesia sangat siap dan harusnya Jawa Timur lebih siap lagi,” ujar Khofifah.

Pada akhirnya, beasiswa dan pusat riset ditempatkan dalam satu rangkaian yang sama: memperluas akses pendidikan sekaligus memastikan pendidikan tersebut melahirkan karya.

Penerima beasiswa tidak hanya diharapkan menyelesaikan studi, tetapi juga membawa pulang pengetahuan, penelitian dan gagasan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan masyarakat.

“Peradaban dunia bisa datang dari Jawa Timur dan itu dari Jawa Timur melalui kekuatan intelektual santri,” pungkas Khofifah.

Dengan penguatan beasiswa, jejaring pendidikan tinggi dan pusat riset, pesantren di Jawa Timur didorong naik satu tingkat: bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang lahirnya pengetahuan dan karya yang dapat memberi kontribusi bagi masyarakat.