Karang Taruna Pamekasan Buka Ruang Gagasan, Anak Muda Diajak Membaca Perubahan Zaman

0
140

PAMEKASAN | SIGAP88 – Anak muda tidak cukup hanya menjadi penonton ketika perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi bergerak semakin cepat. Mereka perlu ruang untuk berpikir, menguji gagasan, sekaligus menyampaikan pandangan terhadap persoalan yang berkembang di lingkungannya.

Semangat itulah yang coba dibangun Karang Taruna Kabupaten Pamekasan melalui sebuah diskusi publik bertema Industri Demonstrasi, Rabu (5/11/2026) malam.

Bertempat di salah satu kafe di Pamekasan, forum tersebut mempertemukan kalangan pemuda dengan sejumlah pakar dan perwakilan Polres Pamekasan. Pembahasan berlangsung dalam suasana terbuka. Peserta tidak sekadar menyimak materi, tetapi juga terlibat dalam pertukaran pandangan mengenai dinamika industri dan demonstrasi serta dampaknya bagi kehidupan masyarakat Pamekasan.

Ketua Karang Taruna Kabupaten Pamekasan, Moh. Faridi, mengatakan organisasi kepemudaan yang dipimpinnya harus mampu melampaui fungsi sebagai wadah berkumpul. Karang Taruna, menurut dia, perlu menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan kapasitas generasi muda.

“Di Kabupaten Pamekasan, Karang Taruna harus menjadi ruang untuk mengembangkan anak-anak muda,” ujarnya.

Faridi menjelaskan, berdasarkan sistem keanggotaan yang berlaku, pemuda berusia 17 hingga 30 tahun merupakan bagian dari Karang Taruna. Konsekuensinya, organisasi tersebut memiliki tanggung jawab untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi mereka dalam mengembangkan kemampuan dan memperkaya wawasan.

Pemilihan tema Industri Demonstrasi bukan tanpa pertimbangan. Faridi melihat perkembangan industri dan dinamika demonstrasi sebagai dua fenomena yang sama-sama mengalami perubahan. Keduanya memiliki implikasi yang perlu dibaca secara kritis, baik dari sisi peluang maupun persoalan yang mungkin muncul di daerah.

“Kebetulan hari ini kita angkat tema Industri Demonstrasi. Di tengah majunya industri, demonstrasi juga mengalami kemajuan. Ada kemajuan luar biasa dan keduanya ini memberikan implikasi positif dan negatif terhadap Kabupaten Pamekasan,” jelasnya.

Antusiasme peserta menjadi salah satu catatan penting dalam kegiatan tersebut. Diskusi berlangsung guyub, tetapi tetap diwarnai pertanyaan dan pandangan kritis dari kalangan muda. Bahkan, forum baru berakhir sekitar pukul 22.00 WIB.

“Luar biasa guyub dan ternyata anak muda Kabupaten Pamekasan memang sangat kritis. Antusiasmenya tinggi, ini sampai jam 10 malam baru selesai,” ungkap Faridi.

Bagi Karang Taruna, respons tersebut menjadi sinyal bahwa anak muda Pamekasan memiliki keinginan besar untuk belajar. Persoalannya, potensi itu membutuhkan ruang yang memadai agar tidak berhenti sebagai energi dan gagasan yang hanya berkembang di lingkungan terbatas.

Faridi menilai, setiap pemuda memiliki kecenderungan, minat, dan kemampuan berbeda. Karena itu, pengembangan kapasitas tidak semestinya diseragamkan. Mereka yang tertarik pada teknologi informasi perlu memperoleh ruang untuk menghasilkan karya di bidang IT. Begitu pula mereka yang menekuni dunia praktisi maupun tradisi.

“Setelah selesai, Karang Taruna akan terus menjadi media bagi anak-anak muda untuk belajar dan mengembangkan dirinya masing-masing sesuai dengan sumber daya yang ada,” tambahnya.

Ia juga menginginkan forum-forum semacam ini menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mengenal lebih banyak perspektif. Sebab, keterbatasan akses terhadap narasumber dan referensi kerap membuat kesempatan belajar tidak merata.

“Saya berharap anak-anak muda di Pamekasan tidak hanya mendapatkan referensi yang sedikit, tetapi kita buka ruang selebar-lebarnya agar semua ilmu dan pandangan bisa menjadi pengayaan terhadap kemampuan intelektual mereka,” tegasnya.

Menurut Faridi, pandangan terhadap generasi muda perlu diperbarui. Anak muda Pamekasan tidak bisa terus-menerus ditempatkan dalam stereotip sebagai kelompok yang hanya membutuhkan arahan. Mereka juga memiliki kemampuan untuk menganalisis persoalan, menyampaikan kritik, dan menawarkan gagasan.

“Saya rasa pandangan kita terhadap anak muda perlu kita perbarui, karena pemuda kita ini sangat potensial sekali dan sangat haus terhadap ilmu pengetahuan,” katanya.

Karang Taruna, lanjut dia, ingin mempertemukan berbagai latar belakang pemikiran dalam satu ruang dialog. Kehadiran pemateri dengan pengalaman dan kompetensi berbeda diharapkan dapat membuka cakrawala berpikir peserta sekaligus memperluas akses pengetahuan yang selama ini belum tentu mudah mereka peroleh.

“Ke depan akan banyak diskusi yang akan kami gelar,” pungkasnya.

Bagi Pamekasan, ruang dialog seperti ini menjadi penting. Sebab, pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan kebijakan pemerintah dan investasi ekonomi, tetapi juga generasi muda yang mampu membaca perubahan, memahami persoalan, serta berani menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.