
Ringkasan Berita
PT Dharma Lautan Utama menguji kesiapsiagaan awak kapal KM Kirana VII melalui simulasi kebakaran dan evakuasi penumpang di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (3/11/2026).
SURABAYA | SIGAP88 – Kebakaran di atas kapal bukan sekadar keadaan darurat biasa. Dalam hitungan menit, api dan kepulan asap dapat mengancam keselamatan ratusan penumpang, terutama ketika kapal sedang berlayar dan jauh dari jangkauan pertolongan darat.
Risiko itulah yang menjadi perhatian PT Dharma Lautan Utama (DLU) melalui simulasi penanganan kebakaran kapal KM Kirana VII Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (3/11/2026).
Latihan tersebut menjadi bagian dari Kampanye Keselamatan Pelayaran. Sejumlah skenario disiapkan untuk menguji kemampuan awak kapal dalam menghadapi kebakaran, melaporkan keadaan darurat, melakukan pemadaman awal hingga mengevakuasi penumpang.
Pantauan wartawan SIGAP88 di lokasi, simulasi diawali dengan penanda “Kode Matahari Terbit” sebagai isyarat munculnya api dari dalam dek kapal.
Awak kapal KM Kirana VII dengan sigap segera mengambil tindakan dengan mengoperasikan alat pemadam api ringan (APAR). Pada saat bersamaan, nahkoda menyampaikan laporan keadaan darurat kepada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Perak.
Laporan tersebut menjadi awal bergeraknya unsur penyelamatan. Kapal pemadam dan armada Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dikerahkan menuju lokasi kejadian.
Skenario semakin menegangkan ketika sejumlah penumpang diperagakan melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Tim penyelamat kemudian melakukan evakuasi menggunakan sekoci.
Operasi ini melibatkan Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Perak, Basarnas, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), TNI, Polisi Perairan dan Udara (Polairud), Dinas Navigasi, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP), Karantina, serta RS PHC.
Seluruh rangkaian latihan diakhiri dengan “Kode Matahari Terbenam” sebagai penanda bahwa operasi penanganan keadaan darurat telah selesai.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Samsudin, mengapresiasi pelaksanaan kampanye keselamatan dan simulasi tersebut.
Menurut dia, keselamatan pelayaran tidak bisa hanya dibebankan kepada operator kapal. Regulator, pengelola pelabuhan, aparat keamanan, hingga masyarakat pengguna jasa transportasi laut memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan.
“Kita berharap ke depan, semua stakeholder dapat tumbuh menjadi sebuah budaya. Safety first bukan lagi sekadar slogan,” ujarnya.
Samsudin menegaskan, keselamatan harus ditempatkan di atas kepentingan ekonomi maupun target operasional. Karena itu, kesiapan awak kapal, kelengkapan peralatan, ketepatan mengambil keputusan, dan koordinasi antarlembaga harus terus diuji melalui latihan berkala.
Setidaknya ada empat aspek yang menjadi perhatian operator pelayaran. “Pertama, kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan. Kedua, kesiapan sarana dan prasarana keselamatan. Ketiga, kepatuhan terhadap ketentuan muatan. Keempat, koordinasi lintas instansi.” ungkapnya
Peralatan seperti APAR, sekoci, rakit penolong, dan sistem komunikasi bukan sekadar perlengkapan untuk memenuhi persyaratan administrasi.
“Dalam situasi darurat, keberadaan dan kelayakan peralatan tersebut dapat menentukan keselamatan penumpang”. tegasnya
Persoalan muatan juga tidak kalah penting. Kelebihan muatan atau overload, termasuk pengangkutan barang berbahaya yang tidak sesuai ketentuan, dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan memperbesar dampak ketika keadaan darurat terjadi.
Dalam kesempatan yang sama, anggota Badan Legislatif DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, regulasi Organisasi Maritim Internasional (IMO), serta International Safety Management Code (ISM Code).
“Kita sangat mengharapkan transportasi ini bisa menuju zero accident dan zero korban. Keselamatan itu adalah harga diri dan harga mati, tidak bisa ditoleransi,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala KSOP Tanjung Perak, Lollan Andy Sutomo Panjaitan, menekankan pentingnya komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan tugas sesuai ketentuan keselamatan pelayaran.
Melalui kegiatan tersebut, DLU bersama instansi terkait berharap kemampuan menghadapi kebakaran kapal dan mengevakuasi penumpang semakin terukur.
Namun, keberhasilan latihan keselamatan pada akhirnya tidak cukup dinilai dari kelancaran sebuah simulasi.
“Ukuran sesungguhnya terletak pada kesiapan seluruh unsur ketika keadaan darurat benar-benar terjadi’ tegasnya.
“Sebab, dalam transportasi laut, keselamatan penumpang bukan ruang untuk kompromi” pungkasnya.

















