SUMENEP | SIGAP88 — Kewajiban menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sektor kemaritiman tak membuat ratusan siswa SMK kehilangan kesempatan mengikuti evaluasi akademik. Sebanyak 500 siswa dari berbagai daerah mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada 26–29 Oktober 2026.
Skema ujian lintas daerah ini menjadi jalan keluar bagi para siswa yang tengah menjalani praktik di wilayah perairan. Ketika jadwal ujian tiba, sebagian dari mereka masih berada di kapal sehingga tidak memungkinkan kembali ke sekolah asal tanpa mengganggu kegiatan praktik.
Sekolah kemudian berkoordinasi dengan nakhoda kapal dan otoritas pendidikan di Sumenep untuk memastikan para siswa tetap dapat mengikuti ujian di lokasi terdekat.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Jawa Tengah, Sukamto, mengatakan pelaksanaan TKA di Sumenep secara umum berlangsung lancar. Ia menilai koordinasi antardaerah menjadi faktor penting dalam mengatasi kendala yang dihadapi siswa SMK kemaritiman.
“Secara umum, setelah saya cek langsung di lapangan, pelaksanaan berjalan lancar. Saya mengucapkan terima kasih atas kerja sama semua pihak, baik sekolah maupun Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep, atas bantuan dan dukungannya sehingga pelaksanaan TKA bisa berjalan baik,” ujar Sukamto, Kamis (29/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Sukamto bersama Kepala SMKN 2 Rembang, Gatot Raharjo, meninjau pelaksanaan ujian sekaligus memastikan proses evaluasi berjalan sesuai rencana.
Rombongan diterima Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep, Rusliy, bersama Kepala SMKN 1 Sumenep, Sucipto. Peninjauan dilakukan di SMKN 1 Sumenep, kemudian dilanjutkan ke SMKN 1 Kalianget yang menjadi salah satu lokasi pelaksanaan TKA bagi siswa dari luar daerah.
Di SMKN 1 Kalianget, rombongan diterima Kepala Sekolah Zainul Sahari beserta jajaran guru.
Menjaga Hak Belajar di Tengah Praktik Lapangan
Sukamto menjelaskan, pelaksanaan ujian di luar daerah asal merupakan langkah untuk menjembatani dua kewajiban pendidikan yang harus dijalani siswa, yakni evaluasi akademik dan praktik kerja sesuai kompetensi keahlian.
Menurut dia, pola tersebut bukan kali pertama diterapkan. Pengalaman tahun sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan untuk kembali memfasilitasi siswa yang lokasi PKL-nya berdekatan dengan Sumenep.
“Prinsipnya, kami ingin memudahkan. Saat TKA berlangsung, anak-anak masih menjalani PKL. Setelah berkoordinasi, ternyata posisi mereka dekat dengan wilayah Sumenep. Pengalaman tahun lalu juga berjalan baik, sehingga pola ini kembali diterapkan,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberlanjutan pendidikan membutuhkan dukungan sekolah, dunia industri, dan pemerintah daerah. Kerja sama itu diperlukan agar siswa tidak harus mengorbankan salah satu kegiatan demi memenuhi kewajiban lainnya.
“Keberlanjutan pendidikan intinya adalah kolaborasi. Kami berharap sinergi sekolah, industri, dan pemerintah daerah terus ditingkatkan. Dengan kolaborasi yang kuat, kualitas siswa akan semakin baik dan manfaatnya juga dapat dirasakan masyarakat,” katanya.
Sukamto juga menyampaikan apresiasi kepada Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep, SMKN 1 Sumenep, dan SMKN 1 Kalianget yang telah membantu penyelenggaraan ujian bagi para siswa tersebut.
Peserta Datang dari Berbagai Daerah
Kepala SMKN 2 Rembang, Gatot Raharjo, mengatakan pihaknya ikut mengoordinasikan sekitar 11 SMK bidang kemaritiman yang siswanya menjalani PKL di wilayah Juwana. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan peserta mengetahui lokasi ujian sekaligus memperoleh akses mengikuti TKA.
Peserta yang difasilitasi tidak hanya berasal dari Jawa Tengah. Sejumlah siswa dari Probolinggo, Padang, Yogyakarta, Bantul, dan Rembang juga mengikuti ujian melalui skema tersebut.
“Peserta tidak hanya berasal dari Jawa Tengah. Ada juga siswa dari Probolinggo, Padang, Yogyakarta, Bantul, dan Rembang yang mengikuti ujian melalui skema tersebut,” terang Gatot.
Selain di SMKN 1 Sumenep dan SMKN 1 Kalianget, fasilitasi ujian juga dilakukan melalui koordinasi dengan sekolah di Kecamatan Arjasa. Jumlah peserta di wilayah tersebut diperkirakan sekitar 100 siswa, termasuk yang berasal dari SMK Al-Hidayah.
Menurut Gatot, persiapan dilakukan sejak tahap pendaftaran. Pihak sekolah berkoordinasi dengan nakhoda untuk memastikan posisi kapal dan keberadaan siswa, kemudian mengajukan permohonan kepada pihak terkait di Kabupaten Sumenep agar pelaksanaan TKA dapat difasilitasi.
Langkah itu diperlukan mengingat mobilitas siswa yang mengikuti PKL di sektor kemaritiman sangat bergantung pada lokasi kapal dan kegiatan praktik yang sedang berlangsung.
Meski secara umum berjalan lancar, pelaksanaan TKA sempat menghadapi gangguan teknis pada sesi pertama hari kedua. Siswa yang terdampak dijadwalkan mengikuti ujian susulan pada Jumat.
“Gangguan tersebut berkaitan dengan kendala teknis yang juga terjadi secara nasional, sehingga pihak sekolah dan siswa dapat memahami penjadwalan ulang tersebut,” ucap Gatot.
Kolaborasi Antardaerah Jadi Kunci
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep, Rusliy, mengapresiasi koordinasi yang terbangun antara pihak sekolah dan otoritas pendidikan dari dua provinsi tersebut.
“Kami di Sumenep selalu siap berkolaborasi dengan pihak mana pun demi pendidikan yang berdampak. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Kacabdisdik Wilayah 4 Jawa Tengah yang telah memilih Sumenep sebagai lokasi bagi para siswa PKL untuk mengikuti TKA. Semoga ke depannya komunikasi yang baik ini tetap terjalin,” harapnya.
Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 268 siswa mengikuti TKA di SMKN 1 Sumenep, sedangkan di SMKN 1 Kalianget jumlahnya lebih dari 200 siswa. Sementara itu, peserta yang difasilitasi di wilayah SMKN 1 Arjasa dan SMK Al-Hidayah diperkirakan mencapai 100 siswa.
Pelaksanaan TKA di Sumenep menunjukkan bahwa kendala jarak dan mobilitas tidak selalu harus menjadi penghalang bagi siswa untuk memenuhi hak akademiknya. Melalui koordinasi lintas wilayah, kegiatan ujian dan praktik kerja dapat diupayakan tetap berjalan beriringan.
Bagi siswa SMK kemaritiman, pengalaman bekerja di lapangan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Namun, akses terhadap evaluasi akademik juga harus tetap terjaga agar proses pendidikan tidak terputus oleh tuntutan praktik di dunia kerja.
















