Ringkasan Berita
- Sebanyak 372 ekor ayam bekisar dari berbagai daerah mengikuti Lomba Seni Suara Ayam Bekisar Tingkat Nasional 2026 di halaman Kantor Bupati Sumenep.
- Selain menjadi ajang kompetisi penghobi, kegiatan ini mendorong kepedulian terhadap pelestarian ayam bekisar yang berasal dari Pulau Kangean dan menjadi maskot fauna Jawa Timur.
SUMENEP | SIGAP88 – Sebanyak 372 ekor ayam bekisar dari berbagai daerah di Indonesia meramaikan Lomba Seni Suara Ayam Bekisar Tingkat Nasional 2026 di halaman Kantor Bupati Sumenep, Minggu (25/10/2026). Di balik persaingan kualitas suara dan penampilan, ajang ini membawa misi lebih besar, yakni menjaga kelestarian unggas khas Pulau Kangean yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumenep.
Kejuaraan tersebut masuk dalam Calendar of Event Kabupaten Sumenep 2026. Kehadiran peserta dari berbagai daerah sekaligus memperlihatkan bahwa ayam bekisar memiliki daya tarik tersendiri di kalangan penghobi unggas, sekaligus menyimpan potensi untuk memperkuat identitas daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, menilai pelestarian ayam bekisar tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan perlombaan. Keterlibatan komunitas penghobi dan masyarakat diperlukan agar keberadaan unggas tersebut tetap terjaga.
“Upaya melestarikan ayam bekisar memerlukan kontribusi kolektif dari seluruh lapisan masyarakat, terutama komunitas penghobi. Melalui ajang berskala nasional ini, kami berupaya menumbuhkan rasa bangga sekaligus kepedulian publik terhadap fauna kebanggaan daerah,” ujarnya. Jumat, (29/10)
Menurut Faruk, lomba tingkat nasional menjadi salah satu cara memperluas pengenalan ayam bekisar kepada masyarakat. Kompetisi tersebut juga membuka ruang bagi para penghobi untuk menunjukkan kualitas ayam peliharaan sekaligus mengambil bagian dalam upaya mempertahankan keberadaan unggas khas Sumenep.
Ayam bekisar merupakan hasil persilangan ayam hutan jantan dengan ayam kampung betina. Unggas yang berasal dari Pulau Kangean itu dikenal memiliki karakter suara khas dan tampilan bulu yang menarik perhatian.
Keunikan tersebut membuat ayam bekisar digemari di berbagai wilayah Indonesia. Statusnya sebagai maskot fauna Provinsi Jawa Timur juga menempatkan unggas ini sebagai bagian penting dari kekayaan hayati yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Faruk menegaskan, posisi Sumenep sebagai daerah asal ayam bekisar membawa tanggung jawab untuk memastikan keberadaannya tidak sekadar dikenal melalui perlombaan, tetapi juga didukung dengan upaya pengembangbiakan dan pelestarian secara berkelanjutan.
“Ayam bekisar bukan sekadar unggas hobi, melainkan simbol identitas budaya dan kekayaan alam kita. Keberadaannya harus terus dijaga dan dibudayakan agar keunggulannya tidak hilang ditelan zaman,” tegasnya.
Dalam kompetisi tersebut, peserta mengikuti sejumlah kategori, meliputi kelas utama, madya, pratama, gacoran, hingga best performance. Masing-masing kategori menjadi ruang bagi peserta untuk menampilkan keunggulan ayam bekisar yang mereka miliki.
Keikutsertaan 372 ekor ayam bekisar menunjukkan besarnya antusiasme komunitas penghobi terhadap unggas tersebut. Tantangan berikutnya adalah bagaimana minat itu dapat berkembang menjadi gerakan pelestarian yang berkesinambungan, termasuk melalui pengembangbiakan dan peningkatan kepedulian terhadap keberadaan ayam bekisar.
Bagi Sumenep, menjaga ayam bekisar bukan hanya soal mempertahankan tradisi perlombaan. Lebih dari itu, pelestarian unggas khas Kangean menjadi bagian dari upaya merawat kekayaan hayati sekaligus memperkenalkan identitas daerah kepada generasi mendatang.
















