
Ringkasan Berita
- Musik tongtong khas Kabupaten Sumenep tampil dalam rangkaian MotoGP Mandalika 2026.
- Penampilan tersebut menjadi sarana memperkenalkan budaya Madura kepada khalayak yang lebih luas.
- Pemerintah Kabupaten Sumenep berharap promosi kesenian tradisional dapat mendorong kunjungan wisatawan, membuka peluang bagi seniman lokal, dan mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif.
SUMENEP | SIGAP88 — Dentuman musik tongtong khas Madura mendapat ruang untuk memperkenalkan identitas budaya Kabupaten Sumenep di panggung internasional. Kesenian tradisional yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 itu tampil di kawasan Sirkuit Mandalika, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam rangkaian kegiatan MotoGP Mandalika 2026.
Kehadiran musik tongtong di tengah perhelatan balap motor kelas dunia tersebut menjadi kesempatan bagi para seniman Sumenep untuk memperluas jangkauan promosi budaya lokal. Tidak hanya menyasar masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, penampilan itu juga membuka peluang agar kesenian khas Madura semakin dikenal oleh publik mancanegara.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menilai, tampilnya musik tongtong di Mandalika merupakan kesempatan berharga untuk menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap relevan dan mampu mengambil tempat di panggung modern bertaraf internasional.
“Suatu kesempatan baik, musik tongtong bisa tampil di ajang MotoGP Mandalika yang bertaraf internasional,” kata Fauzi, Selasa (27/10/2026).
Menurut dia, ruang promosi di ajang internasional dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sumenep sekaligus menarik perhatian calon wisatawan agar berkunjung langsung ke daerah berjuluk Kota Keris tersebut.
“Melalui penampilan musik tongtong diharapkan mampu menggugah para calon wisatawan datang ke Kabupaten Sumenep untuk melihat khasanah budaya lokal yang dimiliki Kabupaten Sumenep,” ujarnya.
Fauzi berharap, pengenalan budaya melalui kegiatan berskala internasional tidak berhenti pada pertunjukan semata. Eksposur yang lebih luas diharapkan dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan, sehingga memberi manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku seni, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor pendukung pariwisata.
“Hal ini akan berdampak positif kepada perkembangan ekonomi masyarakat juga dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD),” terangnya kepada awak media.
Musik tongtong memiliki karakter bunyi yang khas dengan perpaduan irama yang mencerminkan kreativitas masyarakat Madura. Di balik pertunjukannya, kesenian ini juga merepresentasikan semangat kebersamaan dan kerja kolektif yang tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Tampilnya musik tongtong di ajang internasional menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat dikembangkan sebagai bagian dari promosi pariwisata dan penguatan ekonomi kreatif,” tegasnya.
Bagi Sumenep, pengenalan budaya di panggung internasional menjadi salah satu jalan untuk memperluas daya tarik daerah. Namun, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pelestarian kesenian, pengembangan destinasi wisata, serta keterlibatan masyarakat agar manfaat promosi dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Fauzi menegaskan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaannya. Kesenian daerah juga harus terus dimainkan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Dengan tampil di Mandalika, musik tongtong diharapkan tidak hanya memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya Madura, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi seniman lokal untuk berkarya dan menjadikan kekayaan tradisi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata serta ekonomi kreatif Sumenep.















