back to top
Beranda NEWS Madura Raya

Hari Santri 2026, Fatayat NU Pamekasan Angkat Suara Santri Lewat Stand Up Comedy

0
118
Kegiatan Santri Berbicara Fatayat NU Pamekasan dalam rangka Hari Santri Nasional 2026
Ketua Fatayat NU Pamekasan Mariatul Qibtiyah saat memberikan keterangan kepada wartawan, Senin(26/10)

Ringkasan Berita

  • PC Fatayat NU Pamekasan menggelar Stand Up Comedy bertema Santri Berbicara dalam rangka Hari Santri Nasional 2026.
  • Kegiatan yang menghadirkan Ning Inayah Wakhid ini mengangkat pentingnya keberanian berekspresi, peran pesantren, dan kaderisasi kepemimpinan perempuan.

PAMEKASAN | SIGAP88 — Keberanian menyampaikan gagasan tidak cukup hanya dimiliki. Kemampuan berbicara, mengolah pesan, dan menyampaikan kritik secara tepat juga perlu dilatih. Ruang inilah yang coba dibuka Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Pamekasan melalui kegiatan Stand Up Comedy bertema Santri Berbicara.

Digelar di Kantor PCNU Pamekasan, Senin (26/10/2026), kegiatan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 tersebut menghadirkan Ning Inayah Wakhid. Pendekatan komedi dipilih sebagai medium untuk menyampaikan gagasan dengan cara yang lebih komunikatif sekaligus menjangkau kalangan muda.

Di balik kemasan hiburan, kegiatan ini membawa pesan tentang pentingnya membangun keberanian santri, khususnya perempuan, untuk tampil, berbicara, dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial.

Ketua PC Fatayat NU Pamekasan, Mariatul Qibtiyah, mengatakan tema Santri Berbicara tidak terlepas dari hubungan historis Fatayat NU dengan lingkungan pesantren.

“Ini berkaitan erat dengan akar organisasi,” tuturnya.

Menurut Mariatul, peringatan Hari Santri tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kembali hubungan organisasi dengan pesantren sebagai tempat pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan kader.

“Kami selenggarakan dalam rangka Hari Santri Nasional 2026, dengan dikemas Stand Up Comedy mengusung tema Santri Berbicara. Karena tidak luput dari peran bahwa Fatayat ini berasal dari Pesantren,” ujarnya.

Pesantren dan Tantangan Kepemimpinan Perempuan

Bagi Fatayat NU Pamekasan, pesantren memiliki posisi penting dalam menyiapkan generasi penerus organisasi. Keterlibatan santri dan alumni pesantren dinilai menjadi salah satu unsur yang dapat memperkuat kesinambungan kaderisasi.

Mariatul menegaskan, penguatan hubungan dengan pesantren menjadi bagian dari komitmennya selama memimpin organisasi.

“Komitmen saya sebagai Ketua, bagaimana Fatayat itu kembali ke Pesantren dan Pesantren itu menjadi wadah terbesar, wadah yang paling penting untuk menjalankan program-program yang ada di Fatayat,” tegasnya.

Pesan tersebut sekaligus menempatkan kaderisasi sebagai pekerjaan jangka panjang. Regenerasi tidak cukup mengandalkan pergantian kepengurusan, tetapi membutuhkan ruang pembelajaran agar generasi muda memiliki kemampuan, keberanian, dan tanggung jawab ketika kelak menerima amanah kepemimpinan.

Dalam konteks itu, perempuan muda dari lingkungan pesantren memiliki peluang untuk mengembangkan kapasitas diri dan berkontribusi lebih luas di tengah masyarakat.

Tema Santri Berbicara juga menekankan pentingnya keberanian menyuarakan kebenaran dan keadilan. Gagasan tersebut membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik agar pesan dapat disampaikan secara jelas, bertanggung jawab, dan diterima masyarakat.

Mariatul berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan ketertarikan santri dan alumni pesantren untuk terlibat dalam organisasi serta mengambil bagian dalam proses regenerasi kepemimpinan.

“Harapan saya melalui Stand Up Comedy ini, bagaimana ada ketertarikan dan ada tanggung jawab besar bagi pondok-pondok Pesantren, bagi santri-santri alumni pondok Pesantren bisa ikut serta untuk melanjutkan estafet kepemimpinan yang akan datang,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, tantangan berikutnya adalah memastikan ruang ekspresi tidak berhenti di atas panggung. Keberanian berbicara perlu diikuti kesempatan berpartisipasi, peningkatan kapasitas, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial.

Sebab, santri tidak hanya dipersiapkan untuk memahami nilai-nilai keagamaan, tetapi juga diharapkan mampu membawa nilai tersebut ke tengah masyarakat melalui gagasan, keteladanan, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

error: Konten dilindungi!!