SIGAP88 – Tidak banyak tokoh dalam sejarah Nusantara yang jejak perjuangan, pemikiran, dan dakwahnya tetap dikenang hingga melintasi benua. Salah satunya adalah Tuanta Yusuf Al-Makassari, yang dikenal luas sebagai Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari. Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626, beliau tumbuh menjadi ulama besar, ahli tasawuf, sekaligus pejuang antikolonial yang pengaruhnya tidak hanya membekas dalam sejarah Indonesia, tetapi juga menjadi bagian penting dari perkembangan Islam di Afrika Selatan.

Di tanah kelahirannya, masyarakat Bugis-Makassar mengenalnya dengan penuh penghormatan sebagai Tuanta Yusuf atau Tuanta Salamaka ri Gowa—guru pembawa keselamatan. Keteguhan dalam menuntut ilmu, keberanian melawan penjajahan, serta keluasan pemikirannya menjadikan Syekh Yusuf sebagai salah satu ulama Nusantara yang mampu menjembatani dakwah, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai kemanusiaan lintas bangsa.

Masa Kecil dan Pendidikan Awal

Terlahir dari lingkungan bangsawan Kerajaan Gowa-Tallo, Syekh Yusuf memperoleh pendidikan agama sejak usia dini. Ketika baru berusia sekitar tiga hingga empat tahun, ia telah dibiasakan mempelajari Al-Qur’an sebagaimana tradisi pendidikan Islam yang berkembang di masyarakat Bugis-Makassar.

Di bawah bimbingan Daeng Ri Tasammang, ia mempelajari bacaan Al-Qur’an, tajwid, dan qiraat hingga menguasainya dengan baik. Memasuki usia sekitar delapan hingga sembilan tahun, pendidikannya berlanjut kepada ulama terkemuka As-Syekh Sayyid Baa Alwi Assegaf bin Abdullah Al-Allaamatuttahir Assegaf, yang mengembangkan pusat pendidikan Islam di Bontoala, Makassar.

Semangat menuntut ilmu terus membawanya berguru kepada As-Syekh Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, ulama asal Hadramaut yang berdakwah melalui Aceh dan kemudian menetap di Takalar. Dari para guru inilah fondasi keilmuan, akhlak, dan spiritualitas Syekh Yusuf semakin matang.

Pengembaraan Menuntut Ilmu

Kecintaan terhadap ilmu membuat Syekh Yusuf meninggalkan kampung halamannya untuk menempuh perjalanan panjang ke berbagai pusat peradaban Islam. Pengembaraannya membawanya ke Banten, Aceh, Makkah, Madinah, Yaman, Damaskus, hingga wilayah Turki Utsmani.

Di Aceh, ia memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman di bawah bimbingan ulama besar Syekh Nuruddin ar-Raniri. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperluas cakrawala intelektualnya.

Selama berada di Timur Tengah, Syekh Yusuf mempelajari berbagai tarekat, di antaranya Qadiriyah, Ba’alawiyah, Syattariyah, dan Khalwatiyah. Pengembaraan ilmiah tersebut membentuk dirinya sebagai ulama yang memadukan keluasan ilmu syariat dengan kedalaman tasawuf. Berbagai ijazah keilmuan yang diperolehnya menjadi bekal penting dalam menjalankan dakwah ketika kembali ke Nusantara.

Ulama yang Turut Memimpin Perlawanan

Bagi Syekh Yusuf, ilmu tidak berhenti pada ruang-ruang pengajian. Ilmu harus hadir membela keadilan dan menjaga martabat umat. Ketika VOC memperluas kekuasaannya di Nusantara, ia bergabung dengan perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa di Kesultanan Banten.

Di Banten, Syekh Yusuf tidak hanya menjadi penasihat spiritual, tetapi juga memberikan dukungan dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan kerajaan. Setelah perlawanan berhasil dipatahkan VOC, ia ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (kini Sri Lanka), sebelum akhirnya dibuang ke Tanjung Harapan, Cape Town, Afrika Selatan.

Cahaya Dakwah di Tanah Pengasingan

Pengasingan tidak pernah memadamkan semangat Syekh Yusuf. Di tanah yang jauh dari kampung halamannya, ia tetap mengajarkan Islam dengan pendekatan yang damai, membimbing masyarakat, serta menanamkan nilai persaudaraan, kesabaran, dan keteguhan iman.

Selain berdakwah, ia juga menghasilkan sejumlah karya tulis mengenai tasawuf, tauhid, akhlak, dan pembinaan spiritual. Warisan intelektual tersebut menjadi bagian penting dari khazanah pemikiran Islam Nusantara yang masih dipelajari hingga kini.

Sejarah mencatat Syekh Yusuf sebagai salah satu tokoh yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan awal komunitas Muslim di Afrika Selatan. Keteladanan hidupnya menjadikan namanya dihormati sebagai simbol dakwah yang menyejukkan sekaligus perjuangan yang bermartabat.

Syekh Yusuf wafat di Cape Town pada 23 Mei 1699. Beberapa tahun kemudian, jenazahnya dipulangkan ke tanah kelahirannya dan dimakamkan di Katangka, Gowa, Sulawesi Selatan. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu destinasi ziarah sejarah dan religi yang ramai dikunjungi.

Warisan yang Melampaui Zaman

Atas pengabdian dan perjuangannya, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf pada 1995. Sementara di Afrika Selatan, namanya juga mendapat penghormatan sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam.

Pengakuan dari dua negara tersebut menjadi bukti bahwa warisan Syekh Yusuf melampaui batas geografis maupun zaman. Ia dikenang bukan semata sebagai ulama atau pejuang, melainkan sebagai sosok yang berhasil memadukan ilmu, akhlak, keberanian, dan keteguhan iman dalam satu perjalanan hidup.

Hampir empat abad setelah kelahirannya, Tuanta Yusuf Al-Makassari tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Dari Gowa hingga Afrika Selatan, jejak dakwah, pemikiran, dan perjuangannya terus hidup sebagai simbol persatuan, keadilan, serta peradaban yang menghubungkan Nusantara dengan dunia.

Jejak yang Dihormati hingga Afrika Selatan

Pengaruh Syekh Yusuf Al-Makassari tidak berhenti pada masa hidupnya. Hingga kini, Afrika Selatan tetap mengenangnya sebagai salah satu tokoh yang berjasa dalam perkembangan awal komunitas Muslim di negara tersebut. Kawasan tempat pengasingannya di sekitar Cape Town bahkan dikenal dengan nama Macassar, sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul sang ulama dari Makassar.

Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan melalui sejumlah nama jalan di kawasan tersebut, seperti Macassar Road, Kramat Road, dan Sheikh Yusuf Road, yang menjadi pengingat akan warisan dakwah dan perjuangannya.

Penghormatan terhadap Syekh Yusuf juga datang dari tokoh besar Afrika Selatan, Nelson Mandela. Dalam berbagai kesempatan, Mandela menyebut Syekh Yusuf sebagai salah satu sosok yang menginspirasi perjuangan melawan politik apartheid. Bahkan, ia pernah menyebut Syekh Yusuf sebagai “salah seorang putra terbaik Afrika”, sebuah ungkapan yang menunjukkan besarnya penghargaan terhadap warisan moral dan spiritual yang ditinggalkan ulama asal Gowa tersebut.

Atas jasa dan pengabdiannya, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf pada 7 Agustus 1995. Sementara itu, Pemerintah Afrika Selatan memberikan penghargaan Order of the Companions of O. R. Tambo in Gold pada 2009, salah satu penghargaan sipil tertinggi bagi tokoh asing yang dinilai berjasa mempererat hubungan persahabatan, perjuangan kemanusiaan, dan nilai-nilai kebebasan. Penghargaan tersebut diserahkan kepada ahli waris Syekh Yusuf dalam sebuah upacara di Pretoria yang turut disaksikan Wakil Presiden RI saat itu, M. Jusuf Kalla.

📌 Profil Singkat Tuanta Yusuf Al-Makassari

• Nama lengkap: Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari

• Lahir: Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626

• Wafat: Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699

• Dimakamkan: Katangka, Gowa, Sulawesi Selatan

• Julukan: Tuanta Yusuf, Tuanta Salamaka ri Gowa

• Keahlian: Ulama, ahli tasawuf, pendakwah, dan pejuang antikolonial

• Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (1995)

• Penghargaan internasional: Order of the Companions of O. R. Tambo in Gold (Afrika Selatan, 2009)