Materi Khutbah Jumat: Hukum Membangun Makam dan Duduk di Atas Kuburan
Oleh: Abdul Hanan
SIGAP88 — Tradisi membangun makam dengan kijing, marmer, hingga bangunan yang megah masih banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Tidak sedikit keluarga yang menganggap hal tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dunia.
Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai membangun makam, meninggikannya, atau bahkan duduk di atas kuburan?
Pertanyaan tersebut menjadi tema utama dalam Khutbah Jumat bertajuk “Hukum Membangun Makam dan Duduk di Atas Kuburan“. Khutbah ini mengajak umat Islam memahami tuntunan syariat berdasarkan Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih Rasulullah ﷺ agar tidak terjebak pada tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Selain membahas larangan membangun makam secara berlebihan, khutbah ini juga menjelaskan adab ketika berada di area pemakaman, hukum duduk di atas kuburan, serta siapa yang memikul dosa apabila sebuah makam dibangun atau dikijing tidak sesuai tuntunan syariat.
Melalui khutbah ini, jamaah diingatkan bahwa kuburan bukanlah tempat untuk bermegah-megahan. Yang paling dibutuhkan oleh seorang mayit bukan bangunan yang indah ataupun nisan yang mahal, melainkan doa, istigfar, dan amal saleh yang terus mengalir dari keluarga yang ditinggalkannya.
Berikut naskah Khutbah Jumat selengkapnya.
Hukum Membangun Makam dan Duduk di Atas Kuburan
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang tidak hanya terucap di lisan, tetapi bersemayam di dalam hati, tercermin dalam akhlak, serta diwujudkan melalui ketaatan kepada seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab hanya dengan bekal ketakwaan itulah seorang hamba akan memperoleh kebahagiaan di dunia sekaligus keselamatan pada kehidupan akhirat.
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Di dunia ini, manusia berlomba-lomba membangun rumah yang indah.
Ada yang menghabiskan waktu bertahun-tahun demi mendirikan tempat tinggal yang megah.
Ada yang rela mengeluarkan biaya besar agar rumahnya tampak mewah dan menjadi kebanggaan keluarga.
Semua itu tidaklah salah selama diperoleh dengan cara yang halal.
Namun pernahkah kita berhenti sejenak…
Lalu bertanya kepada diri sendiri…
Sudahkah kita mempersiapkan rumah terakhir yang pasti akan kita tempati?
Rumah yang tidak memiliki pintu…
Tidak ada jendela…
Tidak ada listrik yang menerangi…
Tidak ada keluarga yang menemani…
Tidak ada harta yang dapat dibawa masuk ke dalamnya…
Itulah liang kubur…
Tempat di mana setiap manusia akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di sanalah seluruh jabatan berakhir.
Seluruh kekayaan tertinggal.
Seluruh kemewahan dunia lenyap.
Yang tersisa hanyalah iman dan amal saleh yang pernah kita kerjakan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita melalui firman-Nya:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Ayat yang singkat ini menjadi peringatan yang sangat mendalam bagi setiap Muslim.
Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa bahwa seluruh manusia, tanpa terkecuali, akan berakhir di tempat yang sama.
Di bawah hamparan tanah…
Dengan hanya ditemani amal yang pernah diperbuat selama hidup di dunia.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang sering kita jumpai di tengah masyarakat.
Bagaimanakah sebenarnya hukum membangun makam, membuat kijing, meninggikan kuburan, atau menghiasnya dengan bangunan yang megah menurut syariat Islam?
Inilah yang akan kita renungkan bersama berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Hukum Membangun Makam dan Mengkijing Kuburan
Jamaah yang dirahmati Allah…
Di tengah masyarakat kita, membangun makam dengan kijing, melapisinya dengan marmer, bahkan mendirikan bangunan yang megah di atas kuburan, sering kali dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia.
Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa semakin indah sebuah makam, semakin besar pula bakti seorang anak kepada orang tuanya.
Padahal, ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah bukanlah megahnya bangunan makam yang ditinggalkan.
Bukan pula mahalnya batu nisan yang dipasang.
Melainkan iman, ketakwaan, dan amal saleh yang dibawa ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, Islam mengajarkan kesederhanaan, bahkan dalam urusan pemakaman.
Kuburan bukan tempat untuk menunjukkan kemewahan.
Bukan tempat berlomba-lomba membangun bangunan yang indah.
Apalagi menjadikannya sebagai simbol kebanggaan keluarga.
Rasulullah ﷺ telah memberikan tuntunan yang sangat jelas.
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَىٰ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَىٰ عَلَيْهِ
“Rasulullah ﷺ melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan membangun bangunan di atasnya.”(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi dasar yang sangat kuat mengenai larangan membangun makam secara berlebihan.
Para ulama menjelaskan bahwa mengapur, memperindah, meninggikan, maupun membangun bangunan permanen di atas kuburan termasuk perkara yang dilarang apabila bertujuan untuk berhias, bermegah-megahan, atau melampaui batas yang diajarkan syariat.
Rasulullah ﷺ juga mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan sebuah amanah penting.
Beliau bersabda:
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَىٰ مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ، وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ
“Maukah aku utus engkau untuk melaksanakan tugas sebagaimana Rasulullah ﷺ mengutusku, yaitu janganlah engkau biarkan patung kecuali engkau hancurkan, dan jangan pula engkau biarkan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menginginkan agar kuburan tetap sederhana, tidak ditinggikan secara berlebihan, dan tidak menjadi sarana kebanggaan manusia.
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Perlu kita pahami bersama…
Larangan ini bukan berarti Islam tidak menghormati orang yang telah meninggal dunia.
Justru sebaliknya.
Islam mengajarkan penghormatan yang paling mulia kepada jenazah.
Jenazah dimandikan dengan penuh penghormatan.
Dikafani dengan sebaik-baiknya.
Disalatkan oleh kaum Muslimin.
Diantarkan ke pemakaman dengan penuh doa.
Lalu dikuburkan dengan penuh kemuliaan.
Namun setelah itu, syariat mengajarkan agar kuburannya tetap sederhana.
Karena kemuliaan seorang hamba tidak berada pada bangunan makamnya.
Tetapi berada pada rahmat Allah yang diperoleh melalui iman, amal saleh, serta doa yang terus dipanjatkan oleh anak-anaknya dan kaum Muslimin.
Maka apabila kita benar-benar mencintai orang tua atau keluarga yang telah wafat, bentuk bakti terbaik bukanlah meninggikan bangunan makamnya.
Akan tetapi memperbanyak doa.
Memohonkan ampunan kepada Allah.
Bersedekah atas nama mereka.
Menyambung silaturahmi yang dahulu mereka jaga.
Dan meneruskan amal-amal kebaikan yang menjadi sebab mengalirnya pahala bagi mereka.
Itulah penghormatan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Itulah bakti yang akan terus memberi manfaat, meskipun jasad telah lama berbaring di dalam liang kubur.
Hukum Duduk di Atas Kuburan
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Apabila membangun kuburan secara berlebihan saja telah dilarang oleh Rasulullah ﷺ, maka bagaimana dengan seseorang yang duduk di atas kuburan?
Islam ternyata memberikan adab yang sangat tinggi terhadap makam seorang Muslim.
Bahkan sekadar duduk di atas kuburan pun dilarang oleh Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda:
لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَىٰ جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَىٰ جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَىٰ قَبْرٍ
“Sungguh, jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya lalu mengenai kulitnya, itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan.”(HR. Muslim)
Allahu Akbar…
Betapa kerasnya peringatan Rasulullah ﷺ.
Bayangkan sejenak…
Seseorang duduk di atas bara api yang menyala…
Panasnya membakar pakaian…
Lalu menembus hingga ke kulitnya…
Rasa sakit seperti itu, menurut Rasulullah ﷺ, masih lebih ringan daripada duduk di atas kuburan seorang Muslim.
Hadis ini menunjukkan bahwa kuburan memiliki kehormatan yang wajib dijaga.
Karena itu, janganlah kita menginjak kuburan tanpa kebutuhan.
Jangan menjadikannya tempat duduk.
Jangan pula melakukan perbuatan yang mengurangi kehormatan orang-orang yang telah mendahului kita.
Sebab suatu hari nanti…
Kitalah yang akan berada di tempat itu.
Siapakah yang Menanggung Dosanya?
Jamaah yang dirahmati Allah…
Di tengah masyarakat sering muncul sebuah pertanyaan.
Apabila sebuah makam dibangun dengan kijing, marmer, atau bangunan yang megah, lalu siapakah yang memikul dosanya?
Apakah mayit ikut menanggungnya?
Ataukah keluarga yang membangunnya?
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Yang memikul dosa adalah orang yang melakukan perbuatan tersebut, memerintahkannya, membiayainya, atau meridhainya setelah mengetahui bahwa hal itu bertentangan dengan tuntunan syariat.
Adapun orang yang telah meninggal dunia…
Ia tidak lagi menentukan apa yang dilakukan keluarganya terhadap makamnya.
Ia tidak lagi memiliki pilihan.
Amalnya telah terputus.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakannya.”(HR. Muslim)
Perhatikanlah hadis ini…
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa pahala orang yang meninggal bertambah karena kuburannya dibuat megah.
Beliau juga tidak mengatakan bahwa marmer yang mahal dapat menerangi alam kubur.
Yang disebutkan hanyalah tiga perkara.
Sedekah jariyah. Ilmu yang bermanfaat. Dan anak saleh yang tidak pernah lelah memanjatkan doa kepada kedua orang tuanya.
Muhasabah Sebelum Penutup
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Kuburan tidak membutuhkan kemewahan.
Yang dibutuhkan oleh penghuni kubur adalah doa yang tulus.
Istighfar yang terus dipanjatkan.
Sedekah yang diniatkan untuknya.
Dan amal saleh yang pahalanya terus mengalir.
Jangan sampai rasa cinta kepada orang tua justru diwujudkan dengan sesuatu yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
Karena cinta yang benar adalah cinta yang mengikuti tuntunan syariat.
Hari ini…
Kita masih berdiri di atas bumi.
Masih diberi kesempatan untuk bertobat.
Masih diberi waktu memperbanyak amal saleh.
Namun esok…
Belum tentu kita masih bersama keluarga.
Belum tentu kita masih menghirup udara.
Boleh jadi…
Kitalah yang sedang dibaringkan di dalam liang kubur.
Tubuh kita diselimuti tanah.
Semua orang pulang meninggalkan kita.
Dan yang tersisa hanyalah amal yang pernah kita kerjakan.
Maka hormatilah kuburan kaum Muslimin.
Sebagaimana kita berharap, kelak ketika Allah memanggil kita, kuburan kita pun dihormati sesuai tuntunan syariat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita, mengampuni kedua orang tua kita, melapangkan alam kubur mereka, menjadikannya sebagai taman dari taman-taman surga, serta mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
أَمَّا بَعْدُ…
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِلِقَاءِ اللَّهِ هُوَ التَّقْوَى.
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Marilah kita kembali memperkokoh ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ingatlah bahwa setiap manusia akan kembali kepada-Nya.
Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari kematian.
Tidak ada istana yang mampu menolaknya.
Tidak ada harta yang dapat menebusnya.
Dan tidak ada jabatan yang sanggup menundanya.
Karena itu, selama Allah masih memberi kesempatan hidup, marilah kita memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal.
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Pada khutbah pertama telah kita renungkan bersama bahwa Islam mengajarkan penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia dengan cara yang sesuai syariat.
Kuburan tidak dimuliakan karena marmernya.
Tidak pula karena tingginya bangunan yang berdiri di atasnya.
Kemuliaan seorang hamba berada pada iman, amal saleh, dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka apabila kita benar-benar mencintai kedua orang tua, keluarga, maupun saudara-saudara kita yang telah wafat, janganlah berhenti mendoakan mereka.
Perbanyaklah istigfar untuk mereka.
Bersedekahlah atas nama mereka.
Lanjutkan amal-amal kebaikan yang dahulu mereka cintai.
Sebab itulah hadiah yang paling berharga bagi penghuni alam kubur.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk anak-anak yang saleh, yang tidak pernah melupakan doa bagi kedua orang tuanya, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah dipanggil menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mari kita menengadahkan tangan seraya berdoa kepada Allah Yang Maha Pengampun.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ بِالْمَعَاصِي، وَنَعُوذُ بِكَ أَنْ نَكْشِفَ سِتْرَكَ عَلَيْنَا
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَحْيِي مِنْكَ حَقَّ الْحَيَاءِ، وَيَخَافُكَ حَقَّ الْخَوْفِ
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَزَيِّنْهَا بِالتَّقْوَىٰ وَالْإِيمَانِ
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ دِينِكَ، وَلَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَىٰ رَعَايَاهُمْ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ


















