JOMBANG | SIGAP88 — Ketahanan pangan tidak dibangun hanya melalui kebijakan dan target produksi. Di tingkat paling dasar, ketahanan pangan dimulai dari lahan yang ditanami, benih yang tumbuh, serta petani yang memastikan tanaman tetap terawat hingga masa panen.

Di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, satu hektare lahan pertanian mulai ditanami jagung, Rabu (22/7/2026). Lahan milik Novits tersebut ditanami jagung varietas Bisi 18 dengan kebutuhan benih sekitar 22 kilogram.

Jika proses budidaya berjalan sesuai rencana, tanaman jagung itu diperkirakan memasuki masa panen pada Oktober 2026.

Bagi petani, setiap musim tanam bukan sekadar aktivitas produksi. Ada biaya yang harus dihitung, lahan yang harus dijaga, benih yang harus dipastikan tumbuh, serta harapan terhadap hasil panen yang akan menentukan keberlanjutan usaha tani.

Karena itu, dukungan terhadap sektor pertanian tidak cukup berhenti pada penyediaan benih. Keberhasilan program ketahanan pangan juga sangat bergantung pada bagaimana petani mendapatkan pendampingan, mampu menjaga produktivitas lahan, dan memperoleh hasil yang layak dari kerja keras mereka.

Penanaman jagung di Desa Keras menjadi bagian dari upaya mendukung agenda ketahanan pangan nasional melalui sinergi antara petani, Kementerian Pertanian, dan Polri.

Kanit Binmas Polsek Diwek bersama para petani turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Proses penanaman turut didampingi Ketua Kelompok Tani, Retno, bersama para petani setempat.

Kapolsek Diwek, AKP Achmad Darul Hudha, mengatakan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mendukung peningkatan produksi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah Kecamatan Diwek.

“Kami berharap kerja sama ini dapat meningkatkan hasil pertanian, memberikan manfaat bagi para petani, serta memperkuat ketahanan pangan di wilayah Kecamatan Diwek,” ujarnya.

Namun, keberhasilan sebuah program pertanian pada akhirnya tidak ditentukan saat benih ditanam. Ukurannya akan terlihat ketika tanaman tumbuh, produktivitas tercapai, biaya produksi dapat ditekan, dan petani memperoleh manfaat ekonomi dari hasil panennya.

Dari satu hektare lahan di Desa Keras, sebuah proses kembali dimulai. Benih ditanam hari ini, sementara hasilnya baru akan diuji beberapa bulan mendatang.

Di situlah sesungguhnya ketahanan pangan bekerja: bukan hanya pada seremoni penanaman, tetapi pada kemampuan menjaga lahan tetap produktif dan memastikan petani tetap memiliki alasan untuk terus menanam.