IWO Sumenep Ingatkan Wartawan tentang Etika Jurnalistik di Tengah Gempuran AI

0
229

SUMENEP | SIGAP88 — Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memudahkan produksi informasi. Berita dapat disusun lebih cepat, data diolah dalam waktu singkat, dan konten digital diproduksi nyaris tanpa jeda. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu hal yang tak boleh ikut tergantikan: etika dan tanggung jawab jurnalistik.

Persoalan tersebut menjadi sorotan Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Sumenep dalam Seminar Jurnalistik bertema “Relevansi Etika Jurnalistik di Tengah Gempuran AI” di Aula Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (28/10/2026).

Seminar ini mempertemukan kalangan pers, akademisi, mahasiswa, dan pemerintah untuk membahas tantangan jurnalistik di tengah perkembangan teknologi yang kian cepat. Jurnalis senior Ibnu Hajar dan akademisi Mohammad Suhaidi dihadirkan sebagai narasumber.

Ketua PD IWO Sumenep, Imam Mustain R, menegaskan bahwa AI dapat menjadi alat bantu bagi wartawan. Namun, teknologi tidak boleh mengambil alih tanggung jawab manusia dalam memastikan kebenaran informasi.

Menurutnya, kecepatan produksi berita bukan satu-satunya ukuran kualitas jurnalistik. Di balik setiap informasi yang disampaikan kepada publik, terdapat kewajiban melakukan verifikasi, menjaga keberimbangan, serta mempertimbangkan dampak pemberitaan.

“AI bisa membantu wartawan bekerja lebih cepat, tetapi kebenaran, keberimbangan, dan hati nurani tidak bisa diserahkan begitu saja kepada mesin. Wartawan tetap harus melakukan verifikasi, memastikan informasi yang disampaikan akurat, serta mempertanggungjawabkan setiap karya jurnalistiknya kepada masyarakat,” ujarnya.

Imam menjelaskan, pemilihan tema tersebut didasari semakin luasnya penggunaan AI dalam penulisan, pengolahan data, hingga produksi konten digital. Perkembangan itu membuka peluang efisiensi, tetapi sekaligus menuntut insan pers lebih cermat agar kemudahan teknologi tidak menggerus prinsip dasar jurnalistik.

Ia berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, melainkan menjadi bekal bagi mahasiswa dan calon jurnalis untuk menghadapi perubahan lanskap media.

“Kami ingin peserta memahami bahwa menjadi wartawan bukan sekadar mampu menulis dan menyebarkan informasi. Ada etika, tanggung jawab, dan kepentingan publik yang harus dijaga. Harapannya, generasi jurnalis mendatang mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tetap menjadikan integritas sebagai pegangan utama,” tambahnya.

Mahasiswa Dituntut Kritis di Tengah Banjir Informasi

Dukungan terhadap kegiatan tersebut disampaikan Rektor UPI Sumenep, Asmuni, melalui Wakil Rektor II, M. Ridwan. Ia menilai seminar jurnalistik relevan dengan kebutuhan mahasiswa untuk memahami proses produksi informasi sekaligus membangun kemampuan memilah berita di tengah derasnya arus digital.

Kemudahan mengakses informasi, menurutnya, harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Informasi yang tersedia di ruang digital tidak serta-merta dapat dianggap benar, terlebih ketika konten bisa diproduksi menggunakan teknologi AI tanpa pemeriksaan yang memadai.

“Seminar ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan tentang dunia jurnalistik, terutama dalam memahami pentingnya etika di tengah perkembangan teknologi AI. Kemudahan memperoleh dan memproduksi informasi harus diimbangi dengan sikap kritis, kehati-hatian, serta tanggung jawab agar informasi yang diterima dan disebarkan kepada masyarakat tetap berkualitas,” jelasnya.

Pesan tersebut menempatkan literasi digital sebagai bagian penting dari pendidikan. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu mengakses dan memproduksi konten, tetapi juga perlu memahami bagaimana informasi diverifikasi, disusun, dan disebarluaskan secara bertanggung jawab.

Pemkab Sumenep: Teknologi Tetap Perlu Pengawasan Manusia

Pemerintah Kabupaten Sumenep juga menyambut positif penyelenggaraan seminar yang diinisiasi IWO tersebut. Dukungan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, disampaikan melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Dedy Falahuddin.

Pemkab menilai AI dapat meningkatkan efisiensi pekerjaan, termasuk di bidang jurnalistik. Namun, hasil yang diproduksi teknologi tetap membutuhkan pemeriksaan manusia agar tidak menyesatkan, kehilangan konteks, atau mengandung bias.

“AI memang memudahkan dan mempercepat pekerjaan. Namun, bukan berarti kita harus bergantung sepenuhnya pada teknologi tersebut. Kemampuan untuk menyaring informasi, memeriksa kebenarannya, dan menggunakan hati nurani tetap harus diasah. Konten yang dihasilkan AI pun perlu diperiksa agar informasi yang disampaikan benar-benar aktual, akurat, dan tidak bias,” tandasnya.

Dedy juga mengingatkan peserta agar memanfaatkan seminar sebagai kesempatan untuk berdiskusi dan menggali pengetahuan dari narasumber yang memiliki pengalaman di bidang jurnalistik maupun akademik.

Baginya, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab tetap diperlukan, terutama ketika informasi yang keliru dapat menyebar luas dalam waktu singkat.

“Untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik, kita juga membutuhkan hati nurani karena kita bukan robot. Teknologi boleh berkembang, tetapi tanggung jawab dan pertimbangan manusia harus tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses penyampaian informasi kepada masyarakat,” pungkasnya.

Kecepatan Bukan Pengganti Akurasi

Seminar jurnalistik IWO Sumenep tersebut menegaskan bahwa kehadiran AI tidak menghapus kewajiban wartawan untuk bekerja sesuai standar profesi. Teknologi dapat membantu proses kerja, tetapi pemeriksaan fakta, keberimbangan, dan pertanggungjawaban atas isi berita tetap menjadi tanggung jawab manusia.

IWO Sumenep berharap kegiatan ini memperkuat pemahaman insan pers dan kalangan akademisi mengenai pentingnya menjaga etika jurnalistik di tengah perubahan teknologi.

Kolaborasi organisasi profesi, perguruan tinggi, dan pemerintah juga diharapkan mampu meningkatkan literasi informasi serta mendorong lahirnya karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Sebab, dalam dunia jurnalistik, berita yang paling cepat terbit belum tentu menjadi berita yang paling layak dipercaya.