Kalender Event Sumenep, Karapan Sapi Betina Giliraja Jadi Daya Tarik Budaya Lokal

0
243

SUMENEP | SIGAP88 – Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi sektor pertanian, masyarakat Kepulauan Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, masih mempertahankan sebuah tradisi yang terbilang langka. Namanya karapan sapi betina.

Berbeda dengan karapan sapi pada umumnya, tradisi ini memiliki karakteristik tersendiri. Sepasang sapi betina tidak sekadar dipacu untuk menunjukkan kecepatan, tetapi juga menarik alat pembajak sawah tradisional yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan nanggala.

Di belakang alat tersebut, seorang joki berlari mengikuti laju sapi tanpa menungganginya. Pemandangan inilah yang menjadikan karapan sapi betina Giliraja memiliki keunikan tersendiri dibandingkan tradisi karapan sapi di daerah lain.

Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut bukan sekadar hiburan musiman. Karapan sapi betina diyakini telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur dan memiliki hubungan erat dengan kehidupan agraris masyarakat kepulauan.

Pada masa lalu, aktivitas ini juga menjadi bagian dari kegiatan pertanian. Tenaga sapi dimanfaatkan untuk menarik nanggala guna membajak lahan, sehingga tanah siap diolah menjelang musim tanam.

Tradisi tersebut biasanya digelar pada penghujung musim kemarau, ketika masyarakat mulai bersiap menyambut datangnya musim hujan dan kembali menggarap lahan pertanian.

Sahrul, salah seorang pemuda asli Kepulauan Giliraja, mengatakan karapan sapi betina merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah sekaligus identitas masyarakat setempat.

Menurutnya, keunikan tradisi ini perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

“Budaya ini merupakan suatu budaya yang unik juga, merupakan bentuk mempertahankan budaya membajak ladang dengan memakai alat tradisional,” kata Sahrul, Sabtu (31/10/2026).

Ia menegaskan, keberadaan karapan sapi betina menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Giliraja. Sebab, tradisi tersebut hanya dikenal dan berkembang di wilayah kepulauan itu.

“Karapan sapi betina hanya ada di pulau Giliraja maka dari itu, kami sebagai pemuda dan asli kepulauan Giliraja wajib melestarikan budaya ini.”

Sahrul juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kalangan generasi muda, untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.

“Kami mengajak kepada semua warga kepulauan Giliraja untuk terus melestarikan budaya ini dengan tujuan mempererat silaturrahim,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong pelestarian kebudayaan lokal melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan dan agenda budaya.

Karapan sapi betina Giliraja menjadi salah satu tradisi yang mendapat perhatian karena memiliki kekhasan serta potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.

Menurut Faruk, penyelenggaraan event budaya tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi, tetapi juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang pertemuan warga, mempererat hubungan sosial, sekaligus membuka peluang usaha bagi peternak sapi dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Melalui event ini dapat mempertahankan kelestarian budaya lokal dan tali silaturrahim semakin erat, meningkatkan taraf ekonomi masyarakat peternak dan pelaku UMKM,” kata Faruk.

Ia berharap karapan sapi betina tidak hanya bertahan sebagai tradisi masyarakat kepulauan, tetapi juga dapat diperkenalkan lebih luas hingga dikenal sebagai salah satu kekhasan budaya Kabupaten Sumenep.

“Pemerintah terus mendorong pelestarian budaya lokal melalui gelaran event dan harapannya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Keberadaan karapan sapi betina Giliraja menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya daerah tidak selalu lahir dari panggung pertunjukan. Sebagian justru tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat, diwariskan lintas generasi, dan bertahan karena masih dijaga oleh pemilik tradisinya sendiri.