TMMD ke-130 Kodim Pamekasan, Gotong Royong TNI dan Warga Hidupkan Semangat AMD

0
126

PAMEKASAN | SIGAP88 — Pembangunan identik dengan alat berat, mesin, dan pekerjaan yang dikejar waktu. Namun, pemandangan berbeda terlihat dalam pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 0826/Pamekasan di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu.

Di lokasi pembangunan drainase Dusun Kotalon, prajurit TNI dan warga bekerja berdampingan. Pasir diangkut menggunakan ember, sedangkan pekerjaan pengecoran dilakukan dengan peralatan sederhana, termasuk cangkul.

Cara kerja tersebut bukan sekadar pilihan teknis. Di balik penggunaan peralatan sederhana, terdapat semangat yang telah melekat sejak program TMMD pertama kali dikenal sebagai ABRI Masuk Desa (AMD) pada 1980: mendekatkan TNI dengan rakyat melalui kerja nyata.

Kala itu, Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf menegaskan bahwa AMD bukan proyek kontraktor, melainkan media untuk menyatukan TNI dan rakyat. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar pembangunan tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan.

Semangat tersebut masih terlihat di Desa Jarin. Alih-alih menyerahkan seluruh pekerjaan kepada mesin, Satgas TMMD membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses pembangunan.

Bukan Sekadar Mengejar Kecepatan

Pembangunan drainase di Dusun Kotalon menjadi gambaran nyata pendekatan tersebut. Penggunaan excavator memang berpotensi mempercepat pekerjaan, tetapi Satgas TMMD memilih metode manual yang memungkinkan warga ikut bekerja setiap hari.

Pasiter Kodim 0826/Pamekasan, Kapten Chb Aman Karyoko, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan inti dari pelaksanaan TMMD.

“Kalau pakai alat berat, warga hanya jadi penonton. Kalau pakai cangkul, warga bisa kerja bareng setiap hari. Itu inti TMMD,” ujarnya saat ditemui di Balai Desa Jarin, Jumat (30/10).

Bagi Satgas TMMD, pembangunan tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat pekerjaan diselesaikan. Proses yang melibatkan masyarakat juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kepedulian dan rasa memiliki terhadap infrastruktur yang dibangun.

Keterlibatan itu terlihat dalam aktivitas sehari-hari di lapangan. Samsul Ma’arif, tokoh masyarakat Dusun Kotalon, misalnya, setiap pagi turut mengangkut batu bersama prajurit TNI.

Tidak ada sekat antara warga dan personel Satgas ketika pekerjaan berlangsung. Keduanya berbagi tugas dan tenaga demi menyelesaikan pembangunan yang manfaatnya akan dirasakan masyarakat setempat.

Tiga Nilai di Balik Gotong Royong

Metode kerja bersama tersebut membawa tiga nilai penting bagi kehidupan masyarakat desa.

Pertama, memperkuat ketahanan sosial.

Warga yang terlibat langsung dalam pembangunan diharapkan memiliki kepedulian lebih besar terhadap hasilnya. Jalan di Dusun Morsoksok yang mereka cor bersama, misalnya, bukan sekadar fasilitas umum, melainkan bagian dari hasil kerja yang patut dijaga dan dirawat bersama.

Kedua, membuka ruang transfer keterampilan.

Keterlibatan masyarakat memberikan kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai teknik pengecoran, pemasangan bata, hingga pembuatan adukan yang benar. Pengetahuan praktis tersebut diperoleh melalui proses kerja bersama prajurit TNI Zeni.

Ketiga, memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat.

Kedekatan prajurit dengan masyarakat tidak hanya terbangun melalui pekerjaan fisik. Di Desa Jarin, Babinsa Serda Syarif tinggal di rumah warga, bukan di tenda.

Kehidupan sehari-hari pun dijalani bersama masyarakat, mulai dari makan bersama hingga salat berjamaah di musala yang sama.

Kebersamaan tersebut menjadi gambaran bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Hubungan itu tumbuh dari interaksi, kepercayaan, dan pengalaman bekerja bersama.

Teknologi Tetap Digunakan

Meski mengedepankan gotong royong, pelaksanaan TMMD ke-130 Kodim 0826/Pamekasan tidak sepenuhnya meninggalkan penggunaan alat berat maupun peralatan modern.

Dalam pekerjaan pengaspalan jalan di tiga dusun, yakni Dusun Morsoksok, Dusun Barat, dan Dusun Kotalon, Satgas tetap menggunakan baby roller dan truk aspal.

Namun, proses penyelesaian akhir atau finishing serta pemerataan tetap dilakukan secara manual dengan melibatkan warga.

Pola tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dan partisipasi masyarakat bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Peralatan modern tetap digunakan untuk mendukung pekerjaan, sementara keterlibatan warga dipertahankan agar semangat kebersamaan tidak hilang dari proses pembangunan.

Dengan pendekatan itu, TMMD tidak hanya berorientasi pada hasil fisik, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengambil bagian dalam pembangunan desanya sendiri.

Kades Jarin: Warga Ikut Merasakan Prosesnya

Kepala Desa Jarin, Moh. Zuhri, menilai keterlibatan warga memberikan makna tersendiri bagi pembangunan di desanya.

Masyarakat tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi turut merasakan tenaga dan proses yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk menjaga hasil pembangunan.

“Kalau proyek dari atas, kami terima jadi. Kalau TMMD, kami ikut sakit pinggangnya, jadi kami sayang hasilnya. Drainase itu anak saya ikut gali,” terangnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan TMMD di Desa Jarin.

Di tengah pembangunan yang semakin mengandalkan teknologi, penggunaan ember dan cangkul di lokasi TMMD menyimpan pesan tersendiri. Infrastruktur memang menjadi sasaran fisik, tetapi kebersamaan antara prajurit dan masyarakat merupakan nilai yang ingin terus dirawat.

Sebab, pembangunan desa tidak hanya tentang jalan yang selesai diaspal atau drainase yang berdiri. Lebih dari itu, pembangunan juga menyangkut tumbuhnya kepedulian, keterampilan, dan rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungan tempat mereka hidup.