ALFI Probolinggo Raya Periode 2026–2031 Dilantik, Daya Saing Logistik Jadi Taruhan

0
175

PROBOLINGGO | SIGAP88 — Ambisi memperkuat posisi Probolinggo Raya sebagai kawasan strategis logistik dan kepelabuhanan di Jawa Timur menuntut kesiapan seluruh ekosistem usaha. Tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur, penguatan koordinasi antara pelaku usaha, regulator, otoritas pelabuhan, dan operator terminal menjadi faktor penting untuk meningkatkan efisiensi serta daya saing distribusi barang.

Di tengah peluang tersebut, Dewan Pengurus Cabang (DPC) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Probolinggo Raya memulai langkah konsolidasi melalui pelantikan pengurus masa bakti 2026–2031.

Mengusung tema “Memperkuat Sinergi dan Daya Saing Logistik Probolinggo Raya”, kepengurusan baru ALFI dihadapkan pada tantangan membangun organisasi yang solid sekaligus memperkuat komunikasi dengan para pemangku kepentingan sektor logistik dan kepelabuhanan.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Kepala Dinas Perhubungan Kota dan Kabupaten Probolinggo, Kepala KSOP Kelas IV Probolinggo, Kepala Bea Cukai Probolinggo, Direktur Perseroda Bahari Tanjung Tembaga, perwakilan PT Delta Artha Bahari Nusantara (DABN) dan Pelindo, Ketua Koperasi TKBN, serta Ketua dan jajaran pengurus DPW ALFI Jawa Timur bersama tamu undangan lainnya.

Kehadiran unsur pemerintah, regulator, operator pelabuhan, dan organisasi usaha tersebut menempatkan konsolidasi ALFI dalam konteks yang lebih luas, yakni kebutuhan membangun sinergi untuk mendukung perkembangan aktivitas logistik di Probolinggo Raya.

Ketua ALFI/ILFA Probolinggo, Abdur Rakhman Sayoto, mengatakan pembenahan internal menjadi langkah awal sebelum asosiasi menjalankan program yang lebih luas.

Sebagai organisasi yang relatif baru di Probolinggo, ALFI perlu menyamakan pemahaman para anggota mengenai fungsi dan perannya dalam mendukung perkembangan industri logistik.

“Target kita internal dulu karena ini termasuk asosiasi baru. Mungkin masih belum banyak yang memahami fungsi dan tugas ALFI ini sendiri. Jadi, kita akan konsolidasi internal, setelah itu meminta petunjuk dan arahan dari instansi terkait,” ujarnya.

Setelah konsolidasi internal, ALFI Probolinggo Raya berencana memperkuat koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, mulai Bea Cukai, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), DABN, hingga Pelindo.

Koordinasi tersebut dinilai penting karena kelancaran arus barang tidak hanya bergantung pada ketersediaan infrastruktur. Kepastian prosedur kepabeanan, efektivitas pelayanan pelabuhan, dan keselarasan operasional antarpihak turut memengaruhi efisiensi distribusi.

“Kami selaku pengusaha juga akan selalu berkoordinasi dengan kepabeanan, ada kantor Bea Cukai, KSOP, DABN, Pelindo, termasuk dari kepabeanan itu,” katanya.

Infrastruktur Pelabuhan Harus Diikuti Kesiapan Usaha

Probolinggo memiliki sejumlah fasilitas kepelabuhanan, di antaranya Pelabuhan Tanjung Tembaga, Pelabuhan Perikanan Mayangan, serta fasilitas pelabuhan yang dikelola DABN.

Potensi tersebut menjadi modal untuk memperkuat peran Probolinggo dalam jaringan distribusi barang di Jawa Timur. Terlebih, terdapat rencana pengembangan Probolinggo sebagai kawasan pelabuhan peti kemas berskala besar.

Namun, pengembangan kawasan kepelabuhanan membutuhkan kesiapan ekosistem usaha secara menyeluruh. Infrastruktur fisik perlu berjalan beriringan dengan kapasitas perusahaan logistik, kepastian layanan, kepatuhan terhadap regulasi, dan koordinasi operasional yang efektif.

Bagi pelaku usaha, kelancaran distribusi dan kepastian prosedur merupakan bagian penting dalam menjaga efisiensi kegiatan logistik. Karena itu, komunikasi antara perusahaan ekspedisi, freight forwarder, pergudangan, regulator, serta operator pelabuhan perlu diperkuat.

Di titik inilah ALFI diharapkan mengambil peran lebih dari sekadar wadah organisasi. Asosiasi dituntut mampu menjadi jembatan komunikasi antarpelaku usaha sekaligus mendorong terciptanya tata kelola logistik yang tertib dan kompetitif.

Ketua ALFI/ILFA Probolinggo, Abdur Rakhman Sayoto, menilai kebutuhan koordinasi akan semakin besar apabila rencana pengembangan Probolinggo sebagai pelabuhan peti kemas berskala besar terealisasi. Kesiapan pelaku usaha dan sinergi antarlembaga menjadi bagian penting untuk menunjang aktivitas pelabuhan.

Dengan demikian, tantangan pengembangan logistik tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Kualitas pelayanan dan kemampuan seluruh pihak mengelola arus barang secara efisien juga menentukan daya saing kawasan.

INSA Sambut Kehadiran ALFI

Penguatan organisasi logistik di Probolinggo mendapat sambutan positif dari kalangan pelaku usaha pelayaran.

Ketua Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Kota Probolinggo, Banu Amza, mengapresiasi kehadiran ALFI yang dinilai membuka peluang kolaborasi lebih kuat antara sektor pelayaran dan logistik.

“INSA mengapresiasi adanya ALFI di Probolinggo. Nantinya, kami bisa bersatu dan mengatur bidang masing-masing. Dengan adanya asosiasi baru ini, kami berharap ke depan bisa berjalan lebih baik, khususnya di bidang logistik dan kepabeanan di Pelabuhan Probolinggo,” ujarnya.

Menurut Banu, rencana pemerintah mengembangkan Probolinggo sebagai kawasan pelabuhan besar di Jawa Timur perlu diikuti dukungan konkret seluruh pihak yang bergerak di sektor kepelabuhanan.

Infrastruktur yang memadai diharapkan dapat menunjang kegiatan ekonomi dan memperkuat aktivitas logistik. Untuk itu, komunikasi antara pemerintah, operator pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan pelaku usaha perlu berjalan seiring.

“Semoga cita-cita gubernur dan pemerintah provinsi juga dibarengi dengan dukungan rekan-rekan yang bergerak di bidang pelabuhan. Semua infrastruktur ini diharapkan bisa menunjang pembangunan logistik di wilayah Probolinggo,” katanya.

Sementara itu, Ketua ALFI/ILFA Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mendorong penguatan organisasi di tingkat daerah untuk memperbesar peran pelaku usaha logistik dalam menghadapi tantangan industri.

Penguatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembentukan kepengurusan, tetapi berlanjut pada konsolidasi anggota, komunikasi yang produktif dengan pemangku kepentingan, dan program kerja yang memberikan manfaat bagi dunia usaha.

Bagi ALFI Probolinggo Raya, masa bakti 2026–2031 menjadi periode penting untuk menerjemahkan tema sinergi dan daya saing ke dalam langkah nyata.

Peluang memperkuat posisi Probolinggo dalam jaringan logistik Jawa Timur terbuka seiring potensi kepelabuhanan yang dimiliki. Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan kesiapan infrastruktur, kepastian layanan, serta koordinasi yang efektif antara pemerintah, regulator, operator pelabuhan, dan pelaku usaha.

Pada akhirnya, daya saing logistik Probolinggo Raya tidak hanya ditentukan oleh besarnya infrastruktur yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan membangun layanan yang efisien, tertib, dan berkelanjutan.