100 Penari Makan Ati Meriahkan Sumpah Pemuda Jatim, Bocah Pamekasan Tampil di Hadapan Gubernur Khofifah

0
133
Penampilan penari Sanggar Seni Makan Ati dengan musik daul Madura pada Sumpah Pemuda Jatim 2026 di Pamekasan
Penampilan seni tari dan musik daul Madura dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda tingkat Provinsi Jawa Timur di Pamekasan, 28 Oktober 2026.

PAMEKASAN | SIGAP88 — Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 di Kabupaten Pamekasan tak hanya diwarnai upacara bendera. Sekitar 100 penari dari Sanggar Seni Makan Ati tampil berkolaborasi dengan musik tradisional daul khas Madura, menghadirkan warna budaya lokal di tengah momentum kebangsaan.

Penampilan tersebut menjadi bagian dari upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda tingkat Provinsi Jawa Timur yang digelar di halaman Kantor Bakorwil Pamekasan, Rabu (28/10/2026). Upacara dipimpin langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati”.

Di antara para penampil, nama Vilka Arkana Arsyka menjadi salah satu representasi generasi muda Pamekasan yang mendapat kesempatan tampil dalam agenda tingkat provinsi tersebut. Vilka mewakili SDN Potoan Laok 1 melalui Sanggar Seni Makan Ati, yang berada di bawah binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Bagi Vilka, kesempatan itu bukan sekadar pengalaman tampil di panggung besar. Ia mengaku bangga bisa menunjukkan kemampuannya di hadapan gubernur dan jajaran pejabat yang menghadiri peringatan tersebut.

Sanggar Seni Makan Ati“Terima kasih Sanggar Seni Makan Ati. Saya terpilih dan bisa tampil mewakili sekolah SDN Potoan Laok 1. Saya senang dan bangga bisa tampil di hadapan Ibu Gubernur Jawa Timur,” ujar Vilka.

Kesempatan tampil di panggung provinsi itu sekaligus memperlihatkan pentingnya ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat sejak dini. Melalui sanggar seni, potensi generasi muda tidak hanya diasah sebagai kemampuan individual, tetapi juga diarahkan untuk mengenal dan menjaga warisan budaya daerah.

Utusan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Kartika, mengingatkan para penampil agar mempersiapkan diri secara maksimal. Penampilan tari dan musik daul Pamekasan menjadi salah satu sajian yang ingin disaksikan dalam peringatan tersebut.

“Pesan saya, berilah tampilan yang terbaik, karena Ibu Gubernur ingin melihat tampilan tari dan musik daul Pamekasan,” ujar Kartika.

Kolaborasi sekitar 100 penari dengan iringan musik daul menjadi penegasan bahwa peringatan Sumpah Pemuda juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas budaya daerah. Seni tradisional tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, melainkan dapat terus hidup melalui keterlibatan generasi muda.

Bagi Pamekasan, kehadiran para penari dalam agenda tingkat Provinsi Jawa Timur menjadi kesempatan untuk membawa kekayaan seni Madura ke hadapan khalayak yang lebih luas. Di tengah perkembangan zaman, keterlibatan anak-anak seperti Vilka memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang tampil, pembinaan berkelanjutan, serta dukungan dari lingkungan pendidikan dan masyarakat.

Momentum Sumpah Pemuda pun memperoleh makna yang lebih dekat dengan kehidupan daerah: semangat persatuan tidak hanya diucapkan melalui ikrar kebangsaan, tetapi juga dapat diwujudkan dengan merawat kebudayaan sendiri dan memberi kesempatan kepada generasi penerus untuk berkarya.