SUMENEP | SIGAP88 – Di Pulau Sapudi, dentuman semangat karapan sapi belum pernah benar-benar padam. Di balik derap langkah sepasang sapi yang berpacu di lintasan, tersimpan denyut kehidupan masyarakat yang menggantungkan harapan pada tradisi warisan leluhur itu. Bagi warga kepulauan di Kabupaten Sumenep, karapan sapi bukan sekadar tontonan atau perlombaan, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus menghidupi perekonomian, mulai dari peternak hingga pelaku usaha kecil.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Setiap kali arena karapan sapi digelar, perputaran ekonomi ikut bergerak. Nilai jual sapi meningkat, lapak-lapak UMKM ramai pembeli, dan masyarakat memperoleh tambahan penghasilan dari salah satu ikon budaya paling khas di Madura.
Salah seorang pecinta karapan sapi, Jailani, mengatakan masyarakat Kepulauan Sapudi hingga kini tetap konsisten menjaga tradisi tersebut karena manfaatnya masih dirasakan secara nyata oleh warga.
“Masyarakat Kepulauan Sapudi sampai saat ini tetap eksis mempertahankan tradisi karapan sapi sebagai warisan turun temurun leluhur yang mampu meningkatkan ekonomi peternak sapi dan menggeliatkan ekonomi pelaku UMKM,” kata Jailani, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, sapi yang memiliki potensi menjadi sapi karapan memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibanding sapi biasa. Bahkan sejak masih anakan, harganya sudah mengalami peningkatan apabila dinilai layak untuk dipersiapkan sebagai sapi karapan.
“Sapi anakan bisa dipatok dengan harga Rp25.000.000 apabila dapat dijadikan karapan sapi,” ujarnya.
Ia juga menyebut Pulau Sapudi dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi terbesar di Indonesia. Populasi sapi di wilayah tersebut bahkan disebut hampir sebanding dengan jumlah penduduknya.
“Jumlah sapi yang ada di Pulau Sapudi hampir menyamai jumlah penduduk di Pulau Sapudi, bahkan peternak Sapudi merupakan terbanyak seluruh Indonesia,” jelasnya.
Manfaat ekonomi dari tradisi karapan sapi juga dirasakan langsung para pedagang kecil. Salah satu pelaku UMKM, Suparto, mengaku rutin membuka lapak setiap kali ajang karapan sapi digelar.
“Setiap ada karapan sapi saya selalu membuka lapak dan hasilnya lumayan,” terangnya.
Menurut Suparto, agenda karapan sapi yang digelar secara berkala di Pulau Sapudi selalu menjadi kesempatan bagi pedagang untuk meningkatkan pendapatan.
“Alhamdulillah setiap pelaksanaan karapan sapi kami selalu hadir dengan menjual bakso dan hasilnya lumayan,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Nonggunong, Roby Firmansyah Wijaya, memberikan apresiasi terhadap komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya tersebut. Ia menilai karapan sapi tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Madura, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar karena sebagian besar bibit sapi karapan berasal dari wilayah Sapudi.
“Kami mengapresiasi semangat masyarakat Sapudi mempertahankan tradisi karapan sapi, karena bibit sapi karapan 90 persen dari wilayah Sapudi,” jelasnya.
Keberlangsungan tradisi karapan sapi di Pulau Sapudi menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tradisi yang diwariskan para leluhur itu kini tidak hanya menjaga identitas budaya Madura, tetapi juga menjadi penggerak roda perekonomian warga, mulai dari peternak hingga pelaku UMKM.














