SUMENEP | SIGAP88 — Laut yang sejak pagi menjadi tempat menggantungkan harapan bagi para nelayan di pesisir Kecamatan Pragaan mendadak berubah menjadi ruang duka. Sebuah perahu fiber yang digunakan untuk menebar jaring di perairan Desa Pakamban Laok karam di tengah aktivitas melaut, Kamis (9/7/2026). Seluruh penumpang tercebur ke laut. Tiga orang berhasil diselamatkan, sementara seorang nelayan bernama M. Rusdi tak mampu bertahan dan dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa tersebut dibenarkan Kapolsek Prenduan AKP Hudi Susilo. Menurutnya, musibah itu terjadi saat korban bersama anggota keluarganya sedang melakukan aktivitas penebaran jaring ikan di perairan Desa Pakamban Laok.
“Korban berangkat sekitar pukul 08.00 WIB bersama sepupunya, Bustomi, serta dua cucu Bustomi, yaitu Ulfa Lailatul Husna (13) dan Ahmad Habibi (5), menggunakan perahu fiber berukuran sekitar lima meter untuk memasang jaring ikan,” ujar AKP Hudi Susilo.
Namun, rutinitas yang semula berjalan normal itu berubah menjadi kepanikan. Saat proses pemasangan jaring berlangsung, M. Rusdi berpindah ke sisi perahu. Pergerakan tersebut diduga membuat titik keseimbangan perahu berubah hingga lambungnya oleng dan akhirnya karam. Dalam hitungan detik, seluruh penumpang tercebur ke laut.
Di tengah situasi yang berlangsung begitu cepat, harapan datang dari seorang nelayan yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Musliyanto alias Rizki, yang saat itu sedang mencari rajungan, melihat perahu korban karam dan para penumpangnya berusaha menyelamatkan diri di tengah laut.
Tanpa menunggu lama, ia segera mengarahkan perahunya menuju lokasi dan mengevakuasi seluruh korban. Satu per satu berhasil diangkat ke atas perahunya sebelum kemudian dibawa menuju daratan.
Namun, perjuangan penyelamatan itu tak sepenuhnya berakhir bahagia. Setelah dilakukan pemeriksaan, M. Rusdi diketahui telah meninggal dunia. Polisi menduga korban kehabisan tenaga saat berusaha bertahan di dalam air sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.
Sementara itu, Bustomi langsung mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Pragaan. Adapun Ulfa Lailatul Husna dan Ahmad Habibi hanya mengalami kondisi yang tidak membahayakan dan menjalani pemulihan di rumah keluarganya. Jenazah M. Rusdi kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Menerima laporan kejadian tersebut, personel Polsek Prenduan bersama unsur Kecamatan Pragaan dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Pragaan bergerak cepat menuju lokasi. Aparat kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), meminta keterangan para saksi, serta mengumpulkan sejumlah fakta untuk memastikan penyebab pasti musibah tersebut.
Dari hasil penyelidikan awal, polisi tidak menemukan adanya indikasi unsur kesengajaan maupun tindak pidana. Peristiwa yang merenggut nyawa M. Rusdi diduga murni merupakan kecelakaan laut yang dipicu hilangnya keseimbangan perahu saat proses pemasangan jaring.
AKP Hudi Susilo juga mengungkapkan bahwa pihak keluarga korban telah menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menyatakan menolak dilakukan visum maupun autopsi terhadap jenazah.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aktivitas melaut, meski telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir, tetap menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, Polres Sumenep mengimbau para nelayan agar selalu mengutamakan aspek keselamatan dengan memperhatikan kondisi cuaca, memastikan kapasitas perahu tidak melebihi batas aman, serta menggunakan perlengkapan keselamatan setiap kali beraktivitas di laut.
Musibah yang terjadi di perairan Desa Pakamban Laok itu pun menyisakan duka bagi keluarga korban, sekaligus menjadi pelajaran bahwa kewaspadaan dan keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas di laut.














