PAMEKASAN | SIGAP88 — Rumah yang layak bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Bagi sebuah keluarga, rumah adalah tempat berlindung, ruang untuk membangun kehidupan, sekaligus bagian dari kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup.
Namun, tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk memperbaiki hunian yang mereka tempati.
Di Dusun Kramat, Desa Larangan Dalam, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, kebutuhan tersebut dijawab melalui kerja bersama. Personel TNI dan masyarakat bergotong royong membangun Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) melalui Program Karya Bakti Skala Besar (KBSB) TNI AD se-Madura, Senin (20/7/2026).
Pembangunan rumah tersebut kini memasuki tahap pemasangan pondasi baru dan pasangan bata. Material bangunan dipersiapkan bersama, sementara pekerjaan dikerjakan secara gotong royong oleh personel TNI dan warga.
Tidak ada sekat antara seragam dan masyarakat dalam pekerjaan tersebut. Setiap tenaga yang diberikan menjadi bagian dari proses mewujudkan sebuah hunian yang lebih aman dan layak bagi penerima bantuan.
Babinsa Koramil 0826-05/Larangan, Bambang, mengatakan Karya Bakti Skala Besar tidak hanya diarahkan untuk membantu pembangunan fisik rumah, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kepedulian sosial dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
“Melalui Karya Bakti Skala Besar TNI AD se-Madura ini, kami berharap dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong yang menjadi budaya bangsa,” ujarnya.
Dalam pembangunan RTLH, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting. Pekerjaan dapat berlangsung lebih cepat ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut terlibat dalam proses pembangunan.
Bagi TNI, sinergi tersebut menjadi kekuatan utama dalam menyelesaikan pekerjaan sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat.
“Kebersamaan seperti ini harus terus dipelihara karena tidak hanya mempercepat pekerjaan, tetapi juga memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kami berharap rumah ini segera selesai dan bisa ditempati dengan nyaman oleh penerima bantuan,” terangnya.
Warga Dusun Kramat pun turut berpartisipasi dalam setiap tahapan pembangunan. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sosial di lingkungan masyarakat tidak selalu harus diselesaikan secara sendiri-sendiri.
Ketika kepedulian, tenaga, dan semangat gotong royong dipertemukan, sebuah rumah yang sebelumnya tidak layak huni perlahan dapat berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.
Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang layak, pembangunan RTLH melalui Program KBSB TNI AD se-Madura memperlihatkan bahwa bantuan tidak hanya diukur dari hasil akhir berupa bangunan.
Yang tidak kalah penting adalah proses di baliknya: masyarakat ikut terlibat, pekerjaan dilakukan bersama, dan kepedulian hadir dalam bentuk tindakan nyata.
Sebab, rumah yang dibangun melalui gotong royong bukan hanya berdiri di atas pondasi dan pasangan bata. Di dalamnya terdapat harapan sebuah keluarga untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.














