SUMENEP | SIGAP88 — Modernisasi rumah sakit tidak otomatis membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih baik.

Gedung yang semakin representatif, peralatan yang semakin modern, dan sistem layanan yang semakin digital tetap membutuhkan satu hal yang paling menentukan: bagaimana pasien dilayani ketika datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan.

Persoalan itulah yang kini menjadi bagian dari arah transformasi pelayanan di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep.

Manajemen rumah sakit daerah tersebut menyatakan transformasi pelayanan tidak hanya diarahkan pada pembaruan fasilitas dan penguatan sistem, tetapi juga pada perubahan budaya kerja seluruh unsur rumah sakit.

Mulai dari petugas pelayanan, tenaga pendukung, tenaga medis, hingga jajaran administrasi, setiap unsur dinilai memiliki peran dalam menentukan pengalaman pasien dan keluarga pasien selama memperoleh layanan.

Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Erliyati, mengatakan peningkatan mutu pelayanan harus menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari, bukan sekadar program yang dijalankan untuk memenuhi standar tertentu.

“Transformasi layanan bukan hanya fokus kepada sarana dan prasarana saja, akan tetapi juga menekankan kepada budaya kerja setiap petugas, baik dari yang paling bawah sampai kepada tim medis dan administrasi,” kata Erliyati, Rabu (22/7/2026).

Mutu Layanan Diukur dari Cara Pasien Dilayani

Menurut Erliyati, pelayanan kesehatan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan medis. Kecepatan merespons kebutuhan pasien, ketepatan pelayanan, keamanan, komunikasi, serta kemampuan memberikan rasa nyaman kepada pasien dan keluarga juga menjadi bagian penting dari mutu layanan.

Karena itu, evaluasi terhadap pelayanan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mengetahui kebutuhan dan pengalaman pasien.

“ Kami selalu melakukan evaluasi terkait dengan layanan kepada setiap pasien, melakukan penguatan kompetensi sumber daya manusia, serta mengutamakan keselamatan pasien,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menempatkan pasien sebagai bagian penting dalam proses evaluasi pelayanan. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah rumah sakit tidak berhenti pada tersedianya fasilitas, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat merasa memperoleh pelayanan yang aman, cepat, tepat, dan manusiawi.

Modernisasi Fasilitas Harus Berjalan Bersama Perubahan Budaya Kerja

Di sisi lain, RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep juga terus melakukan pembaruan fasilitas kesehatan untuk mendukung efektivitas dan efisiensi pelayanan medis.

Namun, modernisasi fasilitas dipandang tidak dapat berdiri sendiri.

Peralatan yang lebih modern tetap membutuhkan tenaga yang kompeten. Sistem yang lebih cepat tetap membutuhkan petugas yang responsif. Dan fasilitas yang lebih lengkap tetap harus diikuti dengan budaya kerja yang menempatkan keselamatan serta kebutuhan pasien sebagai prioritas.

“Transformasi yang dijalankan bukan sekadar memenuhi standar akreditasi, melainkan membangun budaya pelayanan prima yang berkelanjutan. Seluruh jajaran rumah sakit didorong untuk menjadikan kepuasan dan keselamatan pasien sebagai prioritas utama,” kata Erliyati.

Arah transformasi tersebut juga ditempatkan dalam semangat pelayanan publik yang diusung Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui tagline “Bismillah Melayani”.

Bagi rumah sakit daerah, tantangan terbesar bukan hanya membangun fasilitas baru atau memperbarui sistem. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap perubahan benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang datang untuk mendapatkan pelayanan.

Karena pada akhirnya, kualitas sebuah rumah sakit tidak hanya terlihat dari apa yang dimilikinya, tetapi dari bagaimana pasien diperlakukan ketika berada di dalamnya.