SURABAYA | SIGAP88 — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menggeber penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui Surabaya Great Expo (SGE) 2026. Pameran yang digelar di Exhibition Hall Grand City, Surabaya, mulai 5 hingga 9 Agustus 2026 itu ditargetkan mampu mencatat transaksi melampaui Rp9 miliar.

Memasuki penyelenggaraan ke-15, SGE tak lagi sekadar menjadi ajang promosi produk lokal. Pemkot Surabaya mengemasnya dengan konsep terpadu yang memadukan pameran UMKM dan pelayanan publik dalam satu lokasi.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, optimisme terhadap peningkatan nilai transaksi didukung kualitas produk UMKM yang terus berkembang. Beragam produk unggulan ditampilkan, mulai dari fesyen, batik, kerajinan tangan hingga kuliner khas Surabaya.

Salah satu produk yang menarik perhatian adalah koleksi batik hasil kolaborasi desainer dengan anak-anak Rumah Anak Prestasi (RAP), yang menjadi bukti kreativitas pelaku ekonomi kreatif di Kota Pahlawan.

“Dengan kualitas produk yang semakin menarik, saya berharap omzet tahun ini bisa melebihi Rp9 miliar seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Eri saat membuka SGE 2026, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, SGE bukan hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga etalase bagi produk-produk lokal agar semakin dikenal masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Surabaya.

Ia mencontohkan produk kuliner seperti gelato buatan pelaku UMKM asal Kecamatan Sawahan yang kini mampu bersaing dan layak dipromosikan sebagai produk unggulan daerah.

Karena itu, Eri menegaskan pemerintah tidak boleh berhenti sebagai regulator. Pemkot Surabaya harus mengambil peran sebagai mitra pemasaran dengan memperkenalkan serta menggunakan produk UMKM dalam berbagai kegiatan pemerintahan.

“Pemkot juga harus menjadi marketing bagi UMKM. Produk lokal Surabaya, baik pakaian maupun makanan, harus kita tunjukkan kepada masyarakat bahwa kualitasnya luar biasa dan bisa menjadi pilihan warga maupun wisatawan,” ujarnya.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, SGE 2026 juga menghadirkan berbagai layanan publik. Pengunjung dapat mengurus perizinan usaha, konsultasi sertifikasi halal, pendaftaran merek, hingga layanan paspor tanpa harus berpindah lokasi.

Konsep tersebut, menurut Eri, merupakan penerapan one stop shopping, sehingga masyarakat dapat berbelanja sekaligus memperoleh berbagai layanan administrasi dalam satu tempat.

“Jadi, orang bisa menikmati makanan, melihat dan membeli pakaian, sekaligus mendapatkan pelayanan publik. Ke depan, kegiatan seperti ini akan lebih sering kita gerakkan untuk memasarkan UMKM Surabaya,” tuturnya.

Tak hanya mengandalkan pameran tahunan, Pemkot Surabaya juga tengah menyiapkan Surabaya Urban Creative Hub (Sub Expocenter) di kawasan bekas Hi-Tech Mall sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif dan industri digital.

Fasilitas tersebut akan menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku usaha kreatif, startup, serta generasi muda Surabaya untuk mengembangkan inovasi dan memperluas pemasaran berbasis teknologi.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, mengatakan SGE merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi daerah melalui pemberdayaan UMKM, koperasi, dan sektor ekonomi kreatif.

Selama periode 2022–2025, penyelenggaraan SGE berhasil membukukan akumulasi transaksi lebih dari Rp30,3 miliar. Selain memfasilitasi sekitar 370 UMKM binaan, kegiatan tersebut juga mendorong terbitnya sekitar 450 legalitas usaha, mulai Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pendaftaran merek.

Pada tahun ini, SGE diikuti 106 peserta dengan total 142 stan yang berasal dari perangkat daerah, BUMD, BUMN, UMKM, koperasi, perusahaan swasta, asosiasi usaha, hingga pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia.

Pemkot Surabaya menargetkan transaksi selama lima hari penyelenggaraan mencapai sedikitnya Rp7 miliar dengan jumlah kunjungan sekitar 47.650 orang.

Selain pameran produk, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kegiatan pendukung, seperti talk show pengembangan usaha, lomba kreasi sambal antarkota, konsultasi merek, pendampingan sertifikasi halal, hingga layanan informasi ekspor dan impor.

“Harapannya, pameran ini tidak hanya menghasilkan transaksi selama lima hari, tetapi juga melahirkan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan, memperluas akses pasar, meningkatkan penggunaan produk lokal, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya,” pungkas Mia.