
SUMENEP | SIGAP88 — Pondok Pesantren Annuqayah di Guluk-Guluk, Sumenep, tak lagi hanya dipandang sebagai pusat pendidikan keagamaan. Dengan jumlah santri yang besar, jaringan alumni yang luas, serta potensi lahan pertanian yang dimiliki, pesantren dinilai memiliki modal kuat untuk berkembang menjadi salah satu penggerak ketahanan pangan dan ekonomi agribisnis daerah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid, mengatakan potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dunia usaha, dan lembaga keuangan.
Menurutnya, lingkungan pesantren memiliki sumber daya manusia yang besar sekaligus ruang yang cukup untuk membangun ekosistem pertanian produktif. Santri tidak hanya dapat memperoleh pendidikan agama, tetapi juga dibekali keterampilan kewirausahaan dan pengelolaan usaha berbasis pertanian.
“Pesantren seperti Annuqayah merupakan mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah. Selain mencetak generasi yang berakhlak, pesantren juga mampu melahirkan pelaku usaha di sektor pertanian yang produktif dan mandiri,” kata Chainur saat kegiatan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026 di Pondok Pesantren Annuqayah, Jumat (7/8/2026).
Ia menilai pengembangan sektor pertanian di lingkungan pesantren tidak berhenti pada produksi. Potensi yang ada dapat diarahkan hingga tahap pengolahan dan hilirisasi sehingga hasil pertanian memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Konsep tersebut dinilai sejalan dengan agenda Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka ruang pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Untuk memperkuat kapasitas tersebut, DKPP Sumenep memberikan pendampingan melalui penyuluh pertanian. Pendampingan mencakup perencanaan usaha tani, penerapan teknologi budidaya, pemanfaatan benih unggul, pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga peningkatan produktivitas lahan.
Pendekatan itu diarahkan agar sektor pertanian semakin efisien dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Pada saat yang sama, peningkatan produktivitas diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani dan pelaku usaha di lingkungan pesantren.
Chainur juga mengapresiasi dukungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur dalam pengembangan sektor pertanian di Pondok Pesantren Annuqayah.
Salah satu bentuk dukungan tersebut berupa bantuan combine harvester yang diharapkan dapat mempercepat proses panen sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan pertanian pesantren.
“Sinergi seperti ini penting. Pemerintah daerah memiliki fungsi pendampingan, pesantren memiliki potensi sumber daya, sementara lembaga seperti Bank Indonesia dapat memperkuat dukungan dan kapasitasnya,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan tidak harus bertumpu pada sektor pemerintahan semata. Pesantren dengan basis komunitas yang kuat dapat mengambil peran lebih besar dalam membangun rantai ekonomi pertanian, mulai dari produksi, pengolahan hingga pemasaran.
Jika ekosistem tersebut berjalan konsisten, Pondok Pesantren Annuqayah berpeluang menjadi salah satu contoh pengembangan ekonomi pesantren berbasis agribisnis di Sumenep.
Bukan hanya menghasilkan lulusan yang memiliki bekal keagamaan, tetapi juga generasi yang mampu mengelola potensi pertanian menjadi kekuatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.














