SUMENEP | SIGAP88 — Di wilayah kepulauan, pilihan sekolah bagi orang tua tidak selalu sesederhana memilih lembaga pendidikan yang paling dekat dengan tempat tinggal.

Ada pertimbangan lain yang ikut menentukan. Kepercayaan terhadap guru, lingkungan belajar, pembentukan karakter, hingga ruang bagi anak untuk mengembangkan bakat menjadi bagian dari keputusan orang tua ketika menentukan masa depan pendidikan putra-putrinya.

Gambaran itu terlihat di SDN Sepanjang 1, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Memasuki tahun ajaran 2026/2027, sekolah tersebut menerima 28 siswa baru sesuai kuota yang ditetapkan Dinas Pendidikan. Namun, tingginya minat membuat tidak seluruh calon siswa dapat ditampung.

Ketika kuota telah terpenuhi, sejumlah calon siswa kemudian diarahkan untuk mendaftar ke SDN Sepanjang IV dan SDN Sepanjang VI.

Fakta tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap sebuah sekolah tidak selalu dibentuk oleh promosi. Dalam banyak kasus, kepercayaan justru tumbuh dari pengalaman, lingkungan pendidikan, serta penilaian orang tua terhadap proses belajar yang berlangsung di dalamnya.

Kepala SDN Sepanjang 1, Suhrati, mengatakan seluruh kuota penerimaan siswa baru telah terpenuhi.

“Tahun ajaran baru 2026 SDN Sepanjang 1 menerima siswa/siswi sesuai kuota yang ditentukan oleh Dinas Pendidikan sebanyak 28 siswa,” kata Suhrati, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, sebagian besar siswa baru yang diterima merupakan lulusan TK dan RA dari lingkungan sekitar.

Namun, jumlah calon siswa yang berminat tidak seluruhnya dapat diakomodasi karena keterbatasan kuota.

“Ada beberapa calon siswa yang kami tolak dikarenakan kuota sudah penuh, dan kami mengarahkan kepada pihak orang tua untuk mendaftarkan ke SDN Sepanjang IV dan VI,” jelasnya.

Bagi wali murid, keputusan memilih sekolah tidak hanya berkaitan dengan tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Sekolah juga dipandang sebagai ruang pertama bagi anak untuk membangun kebiasaan, mengenal tanggung jawab, belajar berinteraksi, serta mengembangkan potensi di luar pelajaran akademik.

Salah satu wali murid mengatakan, tenaga pendidik dan kegiatan sekolah menjadi alasan pihaknya mempercayakan pendidikan anaknya kepada SDN Sepanjang 1.

“Kami mempercayakan anak saya mengenyam pendidikan di SDN Sepanjang I selain tenaga pengajar yang profesional juga aktif dalam kegiatan-kegiatan pendidikan karakter dan ekstrakurikuler,” ujarnya.

Di titik inilah terpenuhinya kuota SDN Sepanjang I memiliki makna lebih besar daripada sekadar angka 28 siswa baru.

Ketika jumlah pendaftar melampaui daya tampung, sekolah berhadapan dengan satu ukuran penting yang tidak selalu tercatat dalam laporan administrasi: kepercayaan masyarakat.

Kepercayaan itu tentu tidak lahir dalam satu hari. Ia dibangun melalui proses pendidikan, interaksi antara guru dan siswa, keterlibatan sekolah dalam membentuk karakter, serta pengalaman orang tua dalam melihat perkembangan anak-anak mereka.

Di wilayah kepulauan seperti Sapeken, kepercayaan tersebut memiliki arti yang lebih penting. Sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menjadi salah satu ruang utama bagi tumbuhnya generasi di tengah keterbatasan akses dan pilihan pendidikan.

Karena itu, ketika kuota telah penuh dan masih ada calon siswa yang harus diarahkan ke sekolah lain, persoalannya bukan sekadar soal jumlah penerimaan.

Di balik angka tersebut terdapat pesan yang lebih besar: masyarakat sedang memberikan penilaian terhadap sekolah melalui pilihan mereka.

Dan bagi SDN Sepanjang 1, pilihan 28 siswa baru serta tingginya minat calon peserta didik menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan tersebut.