SURABAYA | SIGAP88 — Meningkatnya jumlah anak usia sekolah dan remaja yang mengalami tekanan darah di atas ambang normal menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan. Fenomena tersebut dinilai tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga hingga masyarakat.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, mengingatkan pentingnya membangun budaya hidup sehat sejak usia muda sebagai langkah mencegah meningkatnya penyakit tidak menular di masa depan.
Pernyataan itu disampaikan menyusul data Kementerian Kesehatan yang mencatat sebanyak 2,21 juta anak usia sekolah dan remaja memiliki tekanan darah di atas normal berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang berlangsung hingga 31 Juli 2026.
Menurut Cahyo, angka tersebut menggambarkan persoalan kesehatan yang terjadi secara nasional sehingga memerlukan perhatian dan penanganan terpadu dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
“Masalah ini bukan hanya terjadi di Jawa Timur, tetapi menjadi tantangan nasional yang memang sudah diantisipasi pemerintah melalui berbagai program promotif dan preventif,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan, salah satu upaya yang terus diperkuat pemerintah adalah memperluas pelaksanaan skrining kesehatan melalui Program Cek Kesehatan Gratis. Namun, menurutnya, pemeriksaan kesehatan saja tidak cukup apabila tidak dibarengi perubahan gaya hidup masyarakat.
Karena itu, edukasi mengenai pola hidup sehat harus terus digencarkan agar masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kondisi tubuh sebelum penyakit muncul.
Cahyo menilai kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko hipertensi maupun penyakit kronis lainnya pada usia muda.
Menurutnya, pola makan memiliki pengaruh yang sama besarnya dengan aktivitas olahraga maupun waktu istirahat. Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat memilih makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Selain edukasi, ia juga mendorong adanya regulasi yang mewajibkan setiap produk makanan mencantumkan informasi kandungan gizi secara jelas sehingga masyarakat dapat mengetahui kadar gula, garam, lemak maupun nilai nutrisi lainnya sebelum membeli.
Transparansi informasi tersebut dinilai dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih sehat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Di sisi lain, Cahyo menegaskan upaya membangun budaya hidup sehat tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan maupun rumah sakit milik pemerintah daerah.
Ia menilai keberhasilan program pencegahan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, mulai dari puskesmas, posyandu, kader kesehatan, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), hingga media massa yang memiliki peran besar dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Kesadaran hidup sehat harus menjadi gerakan bersama. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk terus mengingatkan masyarakat agar menerapkan pola hidup sehat sejak dini demi menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif,” pungkasnya.
















