Terpisah laut dan jarak antarpulau, sembilan desa di Kecamatan Sapeken kini dapat mengikuti rapat koordinasi melalui sistem luring dan daring yang dinilai lebih efektif, efisien waktu serta anggaran.
SUMENEP | SIGAP88 — Laut yang memisahkan pulau-pulau di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, selama ini menjadi tantangan tersendiri dalam koordinasi pemerintahan.
Jarak antarpulau membuat pertemuan antara pemerintah kecamatan dan pemerintah desa tidak selalu mudah dilakukan.
Para kepala desa harus menempuh perjalanan menggunakan perahu untuk menghadiri rapat di kantor kecamatan. Waktu perjalanan, biaya transportasi hingga keterbatasan jadwal perahu menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi.
Kini, pola tersebut mulai diubah.
Camat Sapeken Hamka menerapkan sistem rapat koordinasi secara luring dan daring melalui Zoom Meeting untuk menghubungkan sembilan desa yang tersebar di sejumlah kepulauan.
Inovasi tersebut menjadi upaya untuk memastikan seluruh kepala desa tetap dapat mengikuti koordinasi pemerintahan tanpa harus selalu menempuh perjalanan laut menuju pusat kecamatan.
“Kami melakukan rapat koordinasi dengan setiap desa dengan cara luring dan daring, Zoom Meeting, mengingat jarak tempuh antara desa yang ada jauh di kepulauan lain dengan kecamatan,” ujar Hamka.
Menurutnya, kondisi geografis Sapeken membutuhkan pola koordinasi yang lebih fleksibel.
Dengan desa-desa yang tersebar di sejumlah pulau, rapat tatap muka tidak selalu menjadi pilihan paling efektif untuk setiap agenda pemerintahan.
Karena itu, kombinasi rapat luring dan daring dinilai menjadi solusi untuk menjaga koordinasi tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi geografis wilayah.
“Alhamdulillah kami telah menerapkan pola baru dan perdana, rapat koordinasi dengan luring dan daring hasilnya sangat efektif, semua kepala desa bisa mengikuti rapat semua,” jelasnya.
Bagi pemerintah desa yang berada di pulau lain, perubahan tersebut langsung dirasakan manfaatnya.
Kepala Desa Saseel, Taufek, mengapresiasi langkah yang dilakukan Camat Sapeken. Menurutnya, rapat secara daring mampu menghemat waktu sekaligus mengurangi biaya perjalanan.
“Rapat melalui luring dan daring ini sangat efektif sekali bagi kami, para kepala desa yang keberadaannya di kepulauan, sangat efisien terhadap anggaran dan waktu,” kata Taufek.
Sebelumnya, untuk menghadiri rapat di kantor kecamatan, pihak desa harus menyesuaikan diri dengan jadwal perahu taksi air.
Taufek mengungkapkan, perjalanan dari wilayahnya menuju Sapeken dapat memakan waktu lebih dari satu jam.
“Kami sering kali setiap rapat di kantor kecamatan harus naik perahu taksi air pukul 07.30 WIB dan sampai di pelabuhan Sapeken 08.30 WIB dan harus pulang kembali ikut taksian sekitar pukul 12.00 WIB, sehingga tidak maksimal mengikuti rapat,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat waktu rapat menjadi terbatas. Para peserta tidak hanya harus fokus pada agenda pemerintahan, tetapi juga memikirkan jadwal keberangkatan perahu untuk kembali ke pulau masing-masing.
Dengan sistem rapat daring, persoalan tersebut dapat dikurangi.
“Ini sangat berdampak positif bagi kami yang keberadaannya di pulau lain dengan kantor kecamatan, dapat efisien anggaran dan waktu,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan Bendahara Desa Pagerungan Kecil, Abdul Rahim.
Menurutnya, rapat melalui Zoom Meeting sangat membantu desa-desa yang secara geografis berada jauh dari pusat Kecamatan Sapeken.
“Ini sangat efektif, dapat mengikuti rapat dengan baik tanpa harus dikejar waktu karena takut ditinggal perahu taksian saat rapat di kantor kecamatan,” terangnya.
Meski demikian, ia menilai rapat daring tetap perlu diimbangi dengan pertemuan tatap muka.
Menurutnya, pertemuan langsung antara camat dan kepala desa tetap penting untuk memperkuat komunikasi serta hubungan antarpemerintahan desa.
“Namun perlu juga kita rapat secara tatap muka dengan camat dan kepala desa agar jalinan silaturahmi semakin erat,” imbuhnya.
Penerapan rapat luring dan daring di Kecamatan Sapeken menunjukkan bahwa pelayanan pemerintahan di wilayah kepulauan tidak selalu harus mengikuti pola yang sama dengan wilayah daratan.
Ketika jarak dipisahkan laut, teknologi dapat menjadi jembatan.
Bukan untuk menggantikan seluruh pertemuan tatap muka, tetapi untuk memastikan koordinasi pemerintahan tetap berjalan tanpa harus selalu dibebani waktu perjalanan, biaya transportasi dan keterbatasan akses antar-pulau.
Di Sapeken, rapat pemerintahan kini tidak lagi selalu menunggu perahu.














