Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda, PFI Surabaya Gelar Doa dan Ingatkan Keselamatan Peliputan

0
246
Doa bersama PFI Surabaya untuk lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda
Sejumlah wartawan mengikuti doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih dalam pencarian setelah dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda. Doa digelar PFI Surabaya bersama IJTI Surabaya di depan Taman Apsari, Jumat (11/9/2026).

Lima jurnalis dan tiga kru kapal masih dalam pencarian setelah hilang saat menjalankan aktivitas peliputan di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. PFI Surabaya bersama IJTI dan sejumlah wartawan menggelar doa di Taman Apsari. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya mitigasi risiko dan keselamatan dalam tugas jurnalistik.

SURABAYA | SIGAP88 — Delapan orang masih dalam pencarian setelah kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga kru dilaporkan hilang ketika menjalankan aktivitas peliputan di sekitar Gunung Anak Krakatau, perairan Selat Sunda, Senin (7/9/2026).

Kabar tersebut menyisakan kecemasan bagi keluarga, rekan seprofesi, serta komunitas pers. Di Surabaya, rasa kehilangan dan harapan agar seluruh korban segera ditemukan diwujudkan melalui doa bersama yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Surabaya bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Surabaya dan sejumlah wartawan.

Doa bersama berlangsung di depan Taman Apsari, Surabaya, Jumat (11/9/2026). Lilin dinyalakan sebagai simbol harapan agar proses pencarian membuahkan hasil dan seluruh jurnalis serta kru kapal dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Ketua PFI Kota Surabaya Suryanto mengatakan kegiatan tersebut bukan aksi demonstrasi, melainkan bentuk solidaritas sesama pekerja pers yang tengah menunggu kabar dari rekan-rekan mereka.

“Ini sebenarnya bukan aksi, tapi ini adalah doa bersama untuk lima orang jurnalis dan tiga orang kru yang saat ini masih dalam pencarian. Harapan kami kelima jurnalis dan tiga orang kru ini bisa segera ditemukan dengan selamat,” kata Suryanto.

Lima jurnalis yang masih dalam pencarian yakni M. Bagus Khoirunnas dari Perum LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.

Bagi komunitas pers, hilangnya mereka bukan hanya persoalan sebuah perjalanan liputan yang berakhir dengan ketidakpastian. Peristiwa tersebut kembali membuka pembicaraan mengenai risiko yang melekat pada pekerjaan jurnalistik, terutama ketika wartawan harus bekerja di medan yang berbahaya.

Pencarian Terus Dipantau

PFI Surabaya menyatakan terus memantau perkembangan pencarian melalui koordinasi dengan PFI Nasional, organisasi jurnalis lainnya, tim SAR gabungan, serta keluarga korban.

Koordinasi juga dilakukan dengan perusahaan media tempat para jurnalis bekerja.

Untuk Firman Daus, Suryanto mengatakan pihak Anadolu Agency telah mengetahui kejadian tersebut dan melakukan komunikasi dengan tim pencarian dan Basarnas.

“Pihak tempat Mas Daud bekerja sudah tahu dan sudah melakukan pendekatan sendiri kepada Tim SAR dan Basarnas,” ujarnya.

Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, perhatian utama tetap diarahkan pada keselamatan seluruh korban dan upaya tim SAR menemukan mereka.

Doa yang digelar para jurnalis di Surabaya pun menjadi bentuk dukungan moral bagi keluarga dan seluruh pihak yang masih menunggu kabar.

Ketika Tugas Jurnalistik Berhadapan dengan Risiko

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kerja jurnalistik tidak selalu berlangsung di ruang yang aman.

Wartawan dituntut mendekati sumber peristiwa untuk mendapatkan informasi, gambar, maupun fakta langsung. Namun, kebutuhan memperoleh berita tidak semestinya menghilangkan pertimbangan keselamatan.

Gunung berapi, laut, wilayah bencana, konflik, hingga lokasi dengan kondisi alam ekstrem memiliki karakter risiko yang berbeda. Setiap penugasan membutuhkan perhitungan sebelum wartawan berangkat ke lapangan.

Suryanto mengatakan seorang jurnalis memang harus berada cukup dekat dengan objek liputan, tetapi tetap harus mengetahui batas aman.

“Sebagai jurnalis, kita memang harus mendekat, tetapi tidak boleh terlalu dekat dan tidak boleh terlalu jauh. Mitigasi risiko itu memang harus dihitung,” katanya.

Persoalannya, tidak semua risiko dapat dihitung secara sempurna.

Kondisi alam dapat berubah dalam hitungan menit. Gelombang laut, cuaca, aktivitas vulkanik, maupun kondisi medan dapat menghadirkan ancaman yang tidak selalu terlihat ketika penugasan dimulai.

“Namanya alam juga kita tidak bisa lawan. Mungkin tiba-tiba ada ombak besar, itu kita tidak bisa hitung. Itu yang tidak bisa kita prediksi,” ujar Suryanto.

Karena itu, keselamatan seharusnya tidak ditempatkan sebagai urusan pribadi jurnalis semata. Ada tanggung jawab media untuk memastikan wartawan yang dikirim ke wilayah berisiko memiliki pengetahuan, perlengkapan, dan kemampuan menghadapi kondisi darurat.

PFI Siapkan Pelatihan Mitigasi Risiko

PFI Surabaya menyatakan akan memperkuat pembekalan keselamatan bagi jurnalis melalui program pelatihan mitigasi risiko bencana.

Program tersebut masih dalam tahap persiapan, termasuk penyusunan materi yang sesuai dengan kebutuhan wartawan ketika menjalankan tugas di lapangan.

Dorongan juga diarahkan kepada perusahaan media agar tidak hanya mengejar kebutuhan liputan, tetapi memastikan aspek keselamatan menjadi bagian dari standar penugasan.

Menurut Suryanto, jurnalis yang ditugaskan ke wilayah dengan risiko tinggi, termasuk kawasan konflik, idealnya telah mendapatkan pembekalan dan sertifikasi khusus.

“Harusnya sebelum jurnalis diberangkatkan ke peliputan konflik atau wilayah konflik, media sendiri sudah membekali dengan sertifikasi-sertifikasi khusus. Jadi yang diberangkatkan adalah orang-orang yang memang sudah memiliki sertifikasi khusus untuk wilayah tersebut,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika dunia jurnalistik menuntut kecepatan memperoleh informasi dan visual dari lokasi kejadian.

Kecepatan berita memang penting. Tetapi tidak seharusnya keselamatan manusia menjadi harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sebuah gambar atau laporan.

Di tengah harapan agar lima jurnalis dan tiga kru kapal segera ditemukan, peristiwa ini meninggalkan satu pelajaran penting bagi dunia pers: liputan harus sampai kepada publik, tetapi wartawan juga harus pulang dengan selamat.