
SURABAYA | SIGAP88 — Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Bagi Verta Mega Arlinsa, rentang waktu itu bukan sekadar jeda dari satu panggung ke panggung berikutnya, melainkan perjalanan untuk mengenal diri, membangun karier, melewati berbagai tantangan, dan menemukan sesuatu yang ingin ia bawa ketika akhirnya memutuskan kembali.
Perempuan kelahiran Surabaya, 14 Desember 1994, tersebut kembali dipercaya mewakili Jawa Tengah, khususnya Semarang, dalam ajang Miss Grand Indonesia 2026.
Sebelumnya, Verta pernah menjadi bagian dari kompetisi yang sama pada 2019.
Namun, Verta yang kembali pada 2026 bukan lagi sosok yang sama seperti tujuh tahun lalu.
Dunia modeling, televisi, pendidikan, fashion, hingga aktivitas advokasi telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Semua pengalaman itu kini menjadi bekal ketika ia kembali berdiri di panggung pageant nasional.
Verta tumbuh di Mojokerto, Jawa Timur, setelah lahir di Surabaya. Ketertarikannya terhadap dunia panggung dan komunikasi publik mulai terlihat sejak muda.
Ia pernah terpilih sebagai Tourism Ambassador 2013 dan menjadi finalis majalah Femina. Pengalaman tersebut kemudian membawanya lebih jauh ke dunia modeling dan public speaking sebelum akhirnya menekuni profesi sebagai presenter televisi.
Namanya antara lain dikenal melalui program Kisah Viral +62 di GTV. Pekerjaan di depan kamera membuat kemampuan komunikasi dan menghadapi berbagai karakter narasumber menjadi bagian dari kesehariannya.
Di luar dunia televisi, Verta juga menekuni bidang fashion dan mengejar impiannya sebagai seorang fashion designer.
2019, Ketika Ia Datang Tanpa Persiapan yang Cukup
Kembalinya Verta ke Miss Grand Indonesia bukan pengalaman pertamanya.
Pada 2019, ia sudah pernah berdiri di panggung nasional sebagai salah satu wakil Jawa Tengah. Saat itu, ia mengikuti rangkaian karantina dan kompetisi bersama para finalis dari berbagai daerah di Indonesia.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bahan evaluasi yang penting baginya.
Verta menyadari bahwa ketika mengikuti kompetisi pada 2019, dirinya belum memiliki persiapan yang cukup. Ia belum menjalani training secara khusus dan belum benar-benar memahami seperti apa karakter kompetisi pageant yang dihadapinya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ketika kesempatan untuk kembali datang, Verta memilih mempersiapkan diri dengan cara yang berbeda.
Bukan Karena Rindu Kompetisi

Verta mengatakan, keputusan untuk kembali mengikuti Miss Grand Indonesia pada 2026 bukan karena dirinya merindukan kompetisi.
Ada alasan yang jauh lebih personal.
Ia merasa telah berubah dan berkembang dibandingkan dirinya pada 2019.
“Sejujurnya, saya kembali bukan karena saya merindukan kompetisi. Saya kembali karena saya menyadari bahwa saya bukan lagi orang yang sama seperti pada tahun 2019,” ujar Verta, Senin(10/8)
Menurutnya, ketika mengikuti kompetisi tujuh tahun lalu, ia masih memiliki banyak impian, tetapi belum sepenuhnya memahami siapa dirinya dan apa yang ingin dikontribusikan.
Waktu kemudian membawanya melewati berbagai fase kehidupan.
Verta menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar Master. Ia juga menekuni profesi sebagai sports broadcaster atau pembawa acara sekaligus komentator olahraga.
Di dunia fashion, ia mengejar impiannya untuk menjadi seorang perancang busana.
Namun, perjalanan tersebut kemudian membawanya menemukan tujuan yang lebih besar.
Melalui pekerjaannya, Verta mengatakan dirinya menemukan sebuah misi yang bermakna, yakni mendukung para mantan atlet melalui advokasi yang dijalankannya, ByTheStrongOnes.
“Selama beberapa tahun terakhir, saya telah banyak berkembang. Saya menyelesaikan gelar Master, menjadi sports broadcaster, mengejar impian saya untuk menjadi fashion designer, dan melalui pekerjaan saya, saya menemukan sebuah tujuan yang sangat berarti bagi saya—yaitu mendukung para mantan atlet melalui advokasi saya, ByTheStrongOnes,” katanya.
Berbagai pengalaman hidup juga membuat Verta melihat banyak hal dengan perspektif berbeda.
Ia mengaku telah melewati sejumlah tantangan yang membuat dirinya menjadi lebih kuat, lebih tangguh, sekaligus lebih menghargai berbagai hal yang dimiliki.
Karena itu, ketika memutuskan kembali ke Miss Grand Indonesia, tujuan Verta tidak lagi semata-mata tentang memenangkan sebuah kompetisi.
“Jadi kali ini, saya kembali bukan hanya untuk berkompetisi atau memenangkan mahkota. Saya kembali karena saya percaya bahwa saya memiliki sesuatu yang bermakna untuk diberikan, dan saya siap menggunakan platform ini untuk memberikan dampak yang nyata,” tuturnya.
Come Back Stronger dengan Persiapan Berbeda
Jika pengalaman 2019 menjadi pelajaran, maka persiapan 2026 menjadi bagian dari upaya Verta untuk tidak mengulangi hal yang sama.
Kali ini, ia menjalani berbagai training untuk menghadapi kompetisi dengan persiapan yang lebih terarah.
Pelatihan tersebut mencakup public speaking, catwalk, hingga public branding.
Creative Director sekaligus Team Director Verta, Ayah Dardo Siregar, mengatakan pengalaman pada 2019 menjadi salah satu bahan evaluasi penting sebelum Verta memutuskan kembali.
“Waktu 2019, Verta merasa persiapannya belum cukup. Saat itu dia mengikuti kompetisi hanya sekadar ikut, tanpa menjalani training dan belum benar-benar tahu seperti apa kompetisinya,” ujar Dardo.
Menurutnya, persiapan kali ini dilakukan lebih serius agar Verta memiliki kesiapan yang lebih baik.
“Di tahun ini Verta berusaha untuk kembali lagi, come back stronger, untuk mengikuti Miss Grand Indonesia 2026. Dia sudah melewati berbagai macam training, mulai dari public speaking, catwalk, sampai public branding,” kata Dardo.
Rangkaian persiapan tersebut membuat Verta merasa lebih siap menghadapi kompetisi tahun ini.
“Dengan persiapan yang sudah dia lakukan, Verta merasa tahun ini lebih ready dan come back stronger untuk mengikuti Miss Grand Indonesia 2026,” ujarnya.
Istilah come back stronger akhirnya memiliki makna tersendiri dalam perjalanan Verta.
Ia bukan hanya kembali dengan persiapan teknis yang lebih matang, tetapi juga membawa pengalaman hidup dan tujuan yang menurutnya lebih jelas.
Kembali Membawa Nama Jawa Tengah

Pada 31 Juli 2026, dalam konferensi pers yang berlangsung di Lippo Mall Nusantara, Verta resmi diperkenalkan sebagai salah satu dari 18 finalis Miss Grand Indonesia 2026.
Ia kembali membawa nama Jawa Tengah, Semarang.
Selempang peserta kemudian disematkan oleh Direktur Nasional Miss Grand Indonesia, Jonathan Johanes Handoko, di bawah naungan Yayasan Mahadaya Kemilau Gemintang.
Kembalinya Verta menjadi menarik bukan semata karena ia pernah mengikuti ajang yang sama.
Ada jeda tujuh tahun antara penampilan pertamanya pada 2019 dan keikutsertaannya kembali pada 2026.
Dalam rentang tersebut, ia telah menjalani berbagai pengalaman profesional di luar dunia pageant.
Pengalaman sebagai presenter membuatnya terbiasa berhadapan dengan kamera dan publik. Pendidikan, dunia olahraga melalui profesinya sebagai sports broadcaster, fashion, bisnis, hingga advokasi turut menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya.
Kini, seluruh pengalaman tersebut dibawa kembali ke panggung Miss Grand Indonesia.
Menanti Malam Final
Malam final Miss Grand Indonesia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Agustus 2026.
Pemenang ajang tersebut nantinya akan mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia pada Miss Grand International 2026 yang dijadwalkan berlangsung di India.
Bagi Verta, panggung 2026 menjadi babak baru setelah perjalanan panjang sejak keikutsertaannya pada 2019.
Jika tujuh tahun lalu ia datang dengan persiapan yang belum cukup dan masih berusaha memahami dunia pageant, kini ia kembali dengan pengalaman yang lebih panjang, persiapan yang lebih terarah, serta tujuan yang menurutnya lebih jelas.
Hasil akhir tentu akan ditentukan di atas panggung.
Namun, perjalanan Verta menunjukkan bahwa kesempatan kedua tidak selalu berarti mengulang cerita lama.
Kadang, seseorang memang membutuhkan waktu untuk belajar, berkembang, menemukan arah, kemudian kembali ketika merasa lebih siap.
Dan bagi Verta Mega Arlinsa, Miss Grand Indonesia 2026 bukan sekadar panggung untuk mengejar mahkota.
Ini adalah kesempatan untuk membawa pengalaman, tujuan, dan misi yang telah tumbuh bersamanya selama tujuh tahun terakhir.
Sebab, ada perbedaan besar antara sekadar kembali dan benar-benar kembali dengan alasan yang lebih kuat.

















