PAMEKASAN | SIGAP88 — Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca dan menulis tidak lagi cukup untuk memastikan seseorang memahami kebenaran. Generasi muda juga dituntut mampu memilah fakta, menguji informasi, serta memahami bagaimana informasi seharusnya disampaikan kepada publik.

Persoalan itulah yang menjadi perhatian dalam kegiatan “Mengenal Jurnalistik” yang digelar Jurnalis Muda Pamekasan di STIS As-Salafiyah Pamekasan, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal jurnalistik secara lebih utuh. Bukan sekadar aktivitas menulis atau melaporkan peristiwa, melainkan proses yang menuntut ketelitian, verifikasi, akurasi, serta tanggung jawab terhadap kebenaran informasi.

Di tengah kebiasaan masyarakat menerima dan menyebarkan informasi melalui layar telepon seluler, kemampuan untuk berhenti sejenak dan memeriksa kebenaran sebuah informasi menjadi semakin penting. Sebab, informasi yang beredar cepat tidak selalu berarti informasi yang benar.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa jurnalistik memiliki prinsip yang membedakannya dari percakapan, opini, maupun informasi yang beredar tanpa proses pemeriksaan.

Penasihat Jurnalis Muda Pamekasan (JMP), Andikur Rahman, yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa tantangan literasi informasi di era digital semakin berat seiring maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks.

“Dunia literasi dan informasi di era digital menghadapi tantangan berat, terutama terkait maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks,” tegas Andikur.

Menurutnya, pemahaman terhadap dasar-dasar jurnalistik penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan generasi muda yang setiap hari berhadapan dengan beragam informasi dari berbagai sumber.

Jurnalistik Bukan Sekadar Menulis dan Melaporkan

Jurnalistik, kata dia, tidak dapat dipahami sebatas kegiatan menulis atau melaporkan sebuah peristiwa.

“Lebih dari itu, jurnalistik adalah sebuah disiplin ilmu yang mengutamakan kebenaran demi kepentingan publik,” terangnya.

Dalam prosesnya, sebuah informasi tidak cukup hanya disampaikan dengan cepat. Ada tahapan yang harus dilalui sebelum informasi layak dipercaya dan disebarkan kepada masyarakat.

Verifikasi, Akurasi, dan Independensi

Salah satu prinsip utama yang ditekankan adalah verifikasi. Setiap informasi harus diuji dengan fakta, ditelusuri sumbernya, serta dikonfirmasi kepada pihak-pihak yang berkaitan. Langkah tersebut penting untuk mencegah informasi yang belum jelas kebenarannya berubah menjadi kabar yang menyesatkan.

“Informasi tidak boleh langsung ditelan mentah-mentah tanpa adanya klarifikasi dari pihak-pihak terkait,” tegas Andikur.

Selain verifikasi, kecepatan juga tidak boleh mengalahkan akurasi.

Perkembangan teknologi memang membuat informasi dapat beredar dalam hitungan detik. Namun, kecepatan tersebut membawa risiko ketika tidak diimbangi dengan ketelitian.

Berita yang cepat tetapi tidak akurat dapat menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan masyarakat. Karena itu, proses jurnalistik menuntut keseimbangan antara kecepatan, ketepatan, dan tanggung jawab.

Prinsip lainnya adalah independensi.

Informasi yang disampaikan kepada publik harus berpijak pada fakta dan tidak diarahkan oleh kepentingan pribadi maupun kepentingan tertentu. Jurnalistik juga memiliki fungsi edukatif, sehingga informasi yang disajikan seharusnya membantu masyarakat memahami persoalan, bukan justru memperkeruh keadaan.

Membangun Budaya Informasi yang Sehat

Pemahaman terhadap prinsip-prinsip tersebut tidak hanya penting bagi mereka yang ingin menjadi jurnalis.

Di tengah banjir informasi digital, kemampuan untuk memeriksa, membandingkan, dan memahami sebuah informasi merupakan keterampilan yang dibutuhkan oleh siapa pun.

Generasi muda, sebagai kelompok yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi dan media sosial, memiliki posisi penting dalam membangun budaya informasi yang sehat.

Mereka tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kecakapan untuk membedakan informasi berbasis fakta dari kabar yang belum teruji kebenarannya.

Di sinilah literasi jurnalistik memiliki arti yang lebih luas.

Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana sebuah berita ditulis, tetapi juga membentuk kebiasaan untuk berpikir sebelum percaya dan menyebarkan informasi.

Seseorang yang terbiasa mencari sumber, memeriksa informasi, dan memahami konteks sebuah peristiwa akan lebih mampu menyikapi berbagai kabar secara proporsional.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena masyarakat saat ini tidak hanya menerima informasi dari media massa. Berbagai platform digital memungkinkan siapa pun memproduksi dan menyebarkan informasi dalam waktu singkat.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan memilah informasi menjadi tanggung jawab bersama.

“Jurnalistik itu ibarat pintu ilmu dan jendela dunia. Ketika kita menulis dengan basis data yang benar dan riset yang kuat, kita sedang memberikan jalan bagi masyarakat untuk melihat dunia dengan lebih jernih dan cerdas,” ujar Andikur.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan “Mengenal Jurnalistik”.

Literasi jurnalistik tidak seharusnya berhenti di ruang kelas, forum diskusi, atau kegiatan pelatihan. Nilai yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut membentuk kebiasaan masyarakat dalam menghadapi informasi sehari-hari.

  • Membaca dengan kritis.
  • Tidak mudah percaya.
  • Memeriksa sebelum menyebarkan.

Serta memahami bahwa setiap informasi yang disampaikan kepada publik memiliki konsekuensi.

Melalui kegiatan tersebut, JMP diharapkan dapat terus mendorong tumbuhnya budaya literasi di kalangan generasi muda Pamekasan.

Generasi muda tidak hanya diharapkan menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari masyarakat yang cakap memahami, mengolah, dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi, masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar.

Dan di situlah literasi jurnalistik menemukan perannya.