SUMENEP | Sigap88 – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumenep di tahun 2024 mencapai 1323 kasus dengan kasus meninggal 10 orang.

Hal itu menurut kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana atau Dinkes P2KB Sumenep drg Ellya Fardasah melalui Kabid P2P, H. Syamsuri, kasus DBD di kabupaten Sumenep belum bisa dikatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Sesuai dengan laporan dari 30 Puskesmas dan beberapa rumah sakit yang ada di kabupaten Sumenep kasus DBD mencapai 1.323 dengan angka kematian 10 orang.

Baca Juga  Dirut RSUD dr H Moh Anwar Sumenep Implementasikan Hari Kartini Melalui Komitmen Kerja Nyata

“Kasus DBD dengan angka kematian sebanyak 10 orang, Diantaranya pada bulan Januari 2024 sebanyak 2 orang, Februari 2, Maret 2, Juli 2, Oktober 1, November 1 dengan total 10 orang selama tahun 2024,” tegas Syamsuri.

Dijelaskan oleh Syamsuri, bulan Desember 2024 kasus DBD sebanyak 15 kasus.

“Dikatakan KLB apabila dalam 1 bulan tersebut lonjakan DBD yang signifikan, dan angka kematian sangat tinggi,” jelasnya

Untuk mengantisipasi kejadian kasus seperti di tahun 2024, sambung Syamsuri, pihaknya memasivkan sosialisasi melalui penyebaran pamflet, dengan menggandeng lintas sektor, lintas program, kebersamaan woro woro dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas. dan desa.

Baca Juga  Perkuat Ekonomi Perikanan, Pemkab Sumenep Mou dengan Dua Perusahaan

“Yang sangat penting adalah peran serta masyarakat dan setiap pihak sehingga semua paham tentang tujuan dan manfaat pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” ujarnya.

Selain itu, ucap Syamsuri, untuk menjaga lingkungan bersih dari sampah dan penampungan air perlunya menggalakkan lagi hidup gotong royong.

“Kecamatan yang rawan dengan kasus DBD adalah kecamatan Saronggi dan Bluto,” tuturnya.

Penyebabnya, di wilayah tersebut banyak Lagun, (Penampungan air sewaktu musim tanam tembakau yang tidak di tutup kembali), serta adanya orang pribumi yang sakit di luar kota atau di tempat kerjanya dan kembali ke wilayah tersebut sehingga terdata di puskesmas setempat.

Baca Juga  KUA Sapeken Catat 66 Peristiwa Pernikahan pada Triwulan Pertama tahun 2026

“Setiap Puskesmas telah memetakan, desa mana saja yang banyak kasus DBD sehingga kami fokus kewilayahan tersebut, lalu kami lakukan PE atau Penyelidikan Epidemiologi,” pungkasnya

Dilarang mengambil dan atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seijin redaksi. sigap88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE